oleh

Bubur Syura, Tradisi Bugis Peringati 10 Muharram

KENDARINEWS.COM–Ada kebiasaan turun temurun yang diabadikan oleh masyarakat Bugis Makassar di Sulawesi Selatan saat memperingati 10 Muharram. Yakni tradisi membuat bubur Syura yang kemudian di bagi bagikan untuk keluarga dan tetangga.

“Tradisi ini masih terjaga hingga saat ini, karena memiliki nuansa ikatan sosial yang dibalut dengan rasa ingin berbagi dengan sesama,” kata Pengamat Komunikasi Budaya dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, DR Hadawiah Hatita di Makassar, Senin (8/8).

Dia mengatakan adanya suatu tradisi yang tetap terjaga itu tidak terlepas dari pemahaman komunikasi budaya yang terjaga antar generasi. Menurut dia, tradisi masyarakat Sulsel itu pada setiap 10 Muharram patut dipertahankan dilestarikan sebagai salah satu pengayaan sektor pariwisata.

“Termasuk memupuk solidaritas sosial, karena bubur Syura itu setelah digelar doa dan dzikir bersama, maka dibagikan kepada keluarga dan tetangga terdekat,” kata Hadawiah.

Sementara itu, salah seorang warga Kecamatan Lain, Kabupaten Maros, Sulsel, Ishak mengatakan, biasanya bubur Syura dibuat oleh suatu keluarga kemudian mengajak keluarga dan tetangga makan bersama.

“Selain itu, ada juga masing-masing keluarga membuat bubur Syura, lalu dibawa ke masjid. Setelah doa dan dzikir bersama, pihak panitia masjid akan membagikan pada jamaah ataupun masyarakat kurang mampu,” ujarnya.

Adapun bahan dasar bubur Syura itu dari beras yang dimasak menjadi bubur dan ditambahkan dengan santan kelapa. Setelah matang, maka dibentuk membulat kemudian dihiasi dengan telur dadar warna-warni. Aneka lauk-pauk juga diberikan seperti ikan bandeng goreng, udang goreng dan aneka umbi-umbian yang sudah dipotong kecil dan dikukus.

“Tak lupa irisan buah segar seperti apel, delima dan sebagainya untuk menambah cita rasa sekaligus menjadi pernak-pernik penghias bubur Syura,” imbuh Panitia Asyura, Kasmawati di Masjid Nurul Ittihad, Kabupaten Maros. (ant/jpnn/kn)

Komentar

Tinggalkan Balasan