kendarinews.com
“Terpilihnya Kota Kendari sebagai pusat pertemuan UCLG ASPAC tahun 2026 adalah hasil dari upaya diplomasiPemerintah Kota Kendari untuk meyakinkan seluruh delegasibahwa Kota Kendari siap menunjukkan tajuknya dalam forum internasional.” Ujar Wakil Wali Kota Kendari (Sudirman).
Tidak banyak yang menyadari bahwa dalam beberapa hari lagiKota Kendari akan menjadi sebuah forum internasional yang mempertemukan pemerintah kota dengan jumlah lebih dari 236 delegasi dari berbagai negara di Kawasan Asia-Pasifik pada 7-9 Mei 2026 mendatang. Forum tersebut adalah UCLG ASPAC (United Cities and Local Governments Asia-Pasific), sebuahjejaring kerjasama antar pemerintah daerah skala internasionalyang berfokus pada agenda global seperti Pembangunan, tata kelola, lingkungan hingga sektor pariwisata.
Meski terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari, agenda inidalam perspektif yang lebih luas menandai satu hal penting, Selama ini, keterlibatan kota-kota Indonesia dalam jejaringUCLG ASPAC lebih dulu diwakili oleh kota-kota metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, hingga Makassar dan Semarang. Kini Kota Kendari sebagai emerging city dalamjejaring ini menjadi pusat perhatian. Terlebih, agenda inimengusung tema Advancing Sustainable Tourism for a Resilient Future and Inclusive Economy, yang menempatkan pariwisataberkelanjutan dan keberlangsungan ekonomi sebagai bagian dariarah Pembangunan kota di masa depan.
Dalam studi Hubungan Internasional, interaksi global selama iniidentik dengan hubungan antarnegara. Namun perkembanganglobalisasi menunjukkan bahwa aktor subnasional, sepertipemerintah daerah, kini semakin aktif mengambil peran. Fenomena ini dikenal sebagai “paradiplomasi”, yakni praktikkerjasama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerahuntuk mendorong Pembangunan di berbagai sektor, termasukpariwisata yang kini menjadi salah satu penggerak ekonomilokal.
Forum UCLG ASPAC menjadi ruang konkrit praktik tersebut. Pada setiap pertemuannya, seluruh kota-kota yang terlibat tidakhanya bertukar gagasan, tetapi juga membangun jejaring, merumuskan agenda seksama, penggelaran agenda expo yang tentu semua ini dapat membuka peluang kerjasama yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, pariwisata tidak lagidipandang semata sebagai sektor ekonomi, melainkan sebagaiinstrument untuk memperkuat ketahanan kota sekaligusmendorong pemerataan manfaat Pembangunan.
Sebagai kota pesisir dengan potensi alam dan budaya yang khas, Kendari memiliki peluang untuk menempatkan diri dalam aruspengembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik. Momentum ini tidak hanya membuka ruang untukmemperkenalkan identitas kota, tetapi juga memperluas jejaringkerja sama antar kota, khususnya dalam sektor pembangunanekonomi yang semakin terhubung secara global.
Potensi tersebut tidak berhenti pada tataran gagasan. PemerintahKota Kendari melihat forum ini sebagai langkah konkret untukmendorong pemberdayaan ekonomi lokal, terutama melaluisektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Wakil Wali Kota Kendari (Sudirman) menegaskan bahwa kehadirandelegasi internasional dimanfaatkan sebagai ruang promosilangsung bagi produk-produk unggulan daerah.
“Momentum ini kami manfaatkan untuk memperkenalkanpotensi lokal secara langsung kepada delegasi, mulai dariolahan perikanan, produk mete dan sagu, hingga kerajinantenun. Harapannya, ini tidak hanya berhenti pada promosi, tetapi membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM di Kendari,” ujarnya.
Lebih lanjut, pemerintah kota juga menyiapkan langkah konkretagar promosi tersebut memiliki keberlanjutan. Melaluipenyelenggaraan expo UMKM, pengalokasian anggaran untukpembelian produk lokal yang kemudian diberikan kepadadelegasi, serta penyertaan informasi kontak produsen dalamsetiap produk, diharapkan dapat membuka peluang transaksilanjutan secara langsung.
Dengan pendekatan tersebut, forum ini tidak hanya dimaknaisebagai pertemuan antar kota, tetapi juga sebagai pintu masukbagi terbentuknya kerja sama ekonomi yang lebih luas. Interaksiyang terbangun antara pemerintah daerah dan pelaku usaha dariberbagai negara membuka peluang baru bagi Kota Kendari untuk terlibat dalam jejaring pembangunan global, khususnya di sektor ekonomi.
Kendati demikian, momentum ini tetap perlu ditempatkan dalamkerangka yang lebih terarah. Pertanyaan yang kemudian munculadalah bagaimana forum ini dapat dimanfaatkan sebagai bagiandari kebijakan pembangunan daerah yang berkelanjutan, bukansekedar agenda seremonial.
Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa kerja samainternasional di tingkat lokal sering kali menghadapi tantangan, seperti keterbatasan kelembagaan, perbedaan tata kelola, sertabelum optimalnya integrasi dengan kebutuhan daerah. Dalamkonteks pariwisata, tanpa perencanaan yang matang, pengembangan yang dilakukan berisiko tidak sepenuhnyamemberikan dampak yang merata bagi masyarakat.
Di sisi lain, potensi yang ditawarkan oleh forum ini tetapsignifikan. Akses terhadap jejaring kota-kota di Kawasan Asia-Pasifik memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuandalam pengelolaan pariwisata berkelenajutan. Selain itu, forum ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah, mulai dari karakter pesisir, kekayaan budaya, hinggapengembangan ekonomi lokal. Lebih jauh, terbuka pula kemungkinan kerjasama lanjutan yang bersifat teknis dan berdampak langsung terhadap pembangunan kota.
Sebagai sebuah refleksi, terdapat beberapa hal yang dapatmenjadi perhatian. Pertama, pentingnya merumuskan arah kerjasama internasional yang selaras dengan kebutuhan daerah, khususnya dalam sektor pariwisata berkelanjutan. Kedua, penguatan aspek kelembagaan agar kerja sama yang terbangundapat dikelola secara berkelanjutan. Ketiga, integrasi ke dalamdokumen perencanaan pembangunan daerah agar setiap langkahmemiliki arah yang jelas dan kesinambungan.
Pada akhirnya, UCLG ASPAC 2026 dapat dipahami sebagaititik awal bahkan lompatan nyata bagi Kota Kendari dalammembangun arah paradiplomasi yang lebih terstruktur. Momentum ini bukan hanya tentang bagaimana kotamenyambut dunia, tetapi juga tentang bagaimana kotamemanfaatkan keterhubungan global untuk memperkuatpembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Ukuran keberhasilan dari forum ini tidak semata terletak pada penyelenggaraannya, melainkan pada sejauh mana hasilnyadapat diterjemahkan ke dalam kebijakan dan perubahan nyata. Dalam hal ini, paradiplomasi tidak lagi dipahami sebagaisimbol, tetapi sebagai instrumen strategis dalam mendorongKota Kendari menuju kota yang semakin maju.
(*)

Profil Penulis :
Ardika Jendra Hidayah, Mahasiswa Aktif UIN Alauddin Makassar, Jurusan Hubungan Internasional, Ketua KomisiKebijakan & Aspirasi Senat Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Periode 2025-2026, Sekretaris Umum Jelajah Jarak (Lembaga Gerakan dan Literasi) yang saat ini sedang aktif menulis isu-isumengenai kerja sama internasional kontemporer dan paradiplomasi daerah. (0812-4559-7121) email: ardikajh@gmail.com










































