“Kami akan terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif dan meningkatkan kapasitas produksi para petani dan pelaku usaha di Sulawesi Tenggara,” tegas Asrun.
Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan mulai dari petani, pelaku usaha, hingga dinas terkait, untuk terus bersinergi dalam mengembangkan produksi pertanian dan sub-produknya. Dengan demikian, potensi ekspor produk asli Sultra dapat terus berkembang.
Menurut data IQFast (‘Indonesian Quarantine Full Automatic System’), frekuensi pengiriman kelapa bulat sepanjang tahun 2024 telah mencapai 1,66 ribu ton, meskipun sebagian besar masih dalam lingkup domestik, yaitu antararea ke Surabaya dan Makassar.
Selain kelapa bulat, Sultra juga memiliki komoditas pertanian lain yang berpotensi besar untuk diekspor, seperti kopra, jagung biji, kakao biji, mede biji, cengkeh, tepung kelapa, biji pinang, dan pala.
“Dari data lalu lintas komoditas, volume pengiriman kopra tercatat sebesar 28,46 ribu ton, jagung biji sebesar 39,99 ribu ton, kakao biji sebesar 5,83 ribu ton, mede biji sebesar 4,91 ribu ton, cengkeh sebesar 2,52 ribu ton, kelapa bulat sebesar 1,66 ribu ton, tepung kelapa sebesar 1,24 ribu ton, biji pinang sebesar 458 ton, dan pala sebesar 297 ton,”paparnya.
Sementara itu, Kepala Karantina Sulawesi Tenggara, Azhar, menekankan pentingnya terus memperkuat koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk mendorong peningkatan ekspor dari wilayah ini. “Harapan ke depannya ekspor komoditas pertanian dapat lebih meningkat, sehingga dapat menjadi nilai tambah yang besar untuk daerah Sulawesi Tenggara dan para petani,” harapnya.
Kegiatan ekspor perdana ini turut dihadiri oleh berbagai pejabat penting, termasuk Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Komandan Lanal, Kepala Kejaksaan Tinggi Sultra, General Manager Pelindo, serta kepala dinas terkait seperti Kepala Dinas Perkebunan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan, dan Kepala Bea dan Cukai Kendari. (rah/kn)










































