KENDARINEWS,COM— Kondisi cuaca kering yang kian meluas di Sulawesi Tenggara memicu kewaspadaan tinggi terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan risiko kebakaran akan terus meningkat sepanjang Agustus hingga September 2026.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faizal Habibie, menyampaikan bahwa panjangnya periode Hari Tanpa Hujan menjadi faktor utama yang memperparah kerentanan lahan terbakar. Wilayah yang kini menjadi perhatian khusus antara lain Kabupaten Bombana, Konawe, Konawe Selatan, serta hampir seluruh wilayah bagian selatan Sulawesi Tenggara.
“Saat ini ada beberapa daerah yang kita waspadai, seperti Bombana, Konawe, Konawe Selatan, dan sebagian besar wilayah bagian selatan Sultra. Kami terus memperbarui informasi terkait tingkat kerawanan di setiap wilayah,” ujar Faizal Habibie di Kendari, Rabu (12/8/2026).
Ia menjelaskan, kekeringan justru menjadi pemicu yang lebih dominan dibandingkan sekadar keberadaan titik panas. Ketika hujan tak kunjung turun dalam waktu lama, kadar air di dalam tanah dan tumbuhan makin menipis. Kondisi ini membuat lahan menjadi sangat kering dan mudah terbakar.
“Di beberapa wilayah rawan memang masih terdeteksi titik panas, seperti di Bombana. Namun yang paling perlu diwaspadai adalah kekeringan yang cukup parah, apalagi wilayah tersebut memiliki hamparan sabana luas. Potensi kebakaran menjadi sangat tinggi,” jelasnya.
Kondisi ini diperkuat dengan catatan bahwa Kota Kendari hingga pertengahan Agustus 2026 belum mencatat curah hujan sama sekali. Hal serupa terjadi di berbagai kawasan bagian selatan Sultra. Semakin lama periode tanpa hujan, semakin rendah pula kelembapan lahan, sehingga sisa-sisa tumbuhan dan bahan kering lainnya makin mudah terbakar.
“Semakin lama masa tanpa hujan berlangsung, semakin tinggi pula potensi kekeringan dan kebakaran yang melanda,” tegas Faizal.
Pihak BMKG terus memantau perkembangan cuaca, tingkat kekeringan, serta pergerakan titik panas secara berkelanjutan guna menyampaikan peringatan dini kepada masyarakat. Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan pun diimbau meningkatkan kewaspadaan, khususnya mengurangi aktivitas yang berisiko memunculkan api di lahan terbuka guna mencegah terjadinya kebakaran yang meluas.










































