Kendarinews.com — Nabila beberapa kali melirik jam di layar telepon pintarnya. Kurang dari dua jam lagi mahasiswi Universitas Halu Oleo itu harus mempresentasikan tugas kelompok di kelas. Namun pagi itu ia tidak tampak terburu-buru meski sedang duduk di ruang tunggu Puskesmas Poasia, Kota Kendari.
Sesekali matanya beralih ke aplikasi Mobile JKN. Nomor antrean yang diambilnya sebelum berangkat dari rumah masih beberapa urutan lagi. Ia menarik napas lega, lalu membuka kembali bahan presentasi yang belum sempat dipelajari semalam.
”Kalau dulu saya harus datang dari subuh supaya dapat nomor antrean. Sekarang tinggal ambil lewat aplikasi. Jadi masih sempat kuliah,” katanya tersenyum.

Di ruang tunggu, seorang ibu menenangkan balitanya, sementara seorang lansia menggenggam kartu peserta JKN. Sebagian peserta menunjukkan layar telepon pintar, sebagian lain masih membawa map berisi dokumen. Dua wajah pelayanan kesehatan masih berjalan berdampingan: digital dan tatap muka.
Bagi Nabila, perubahan itu sederhana tetapi berarti. Waktu sebelumnya habis untuk mengantre kini dapat digunakan menyiapkan presentasi kuliah. Ia tidak lagi dihadapkan pada pilihan antara menjaga kesehatan atau mengikuti perkuliahan.
Tak jauh dari Puskesmas Poasia, kesibukan pagi juga mulai terasa di Pasar Anduonohu. IS sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti ke lapak kecilnya. Ia baru saja kembali dari memeriksakan kesehatan. Tak banyak pelanggan mengetahui satu jam sebelumnya ia masih berada di puskesmas.
”Kalau terlalu lama di rumah sakit berarti saya tidak jualan. Sekarang lebih cepat, jadi bisa langsung kembali ke lapak,” ujarnya sambil menyerahkan uang kembalian kepada seorang pembeli.
Bagi pedagang seperti IS, waktu berarti penghasilan. Pelayanan yang lebih cepat membuatnya segera kembali berdagang tanpa kehilangan kesempatan mencari nafkah.
Pengalaman Nabila dan IS menunjukkan perubahan yang mulai dirasakan masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan.
Berobat tak lagi identik dengan antre panjang dan urusan administrasi yang menghabiskan waktu. Nomor antrean kini dapat diambil dari rumah, sementara perubahan data kepesertaan tidak lagi selalu mengharuskan peserta datang ke kantor BPJSKesehatan. Pelayanan menjadi lebih dekat, lebih sederhana, dan lebih menyesuaikan ritme kehidupan masyarakat.
Transformasi itu merupakan bagian dari perubahan yang terus dilakukan BPJS Kesehatan dalam penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Di tengah jumlah peserta yang terus bertambah, digitalisasi menjadi salah satu cara untuk memperluas akses layanan sekaligus meningkatkan efisiensipelayanan.
Penguatan layanan itu dilakukan melalui sinergi dengan pemerintah daerah. Deputi Direksi Wilayah IX BPJS Kesehatan Asraf Mursalina mengatakan kolaborasi menjadi kunci peningkatan kualitas layanan JKN di Sulawesi Tenggara.
”Capaian kepesertaan di Sultra ini luar biasa karena sudahmelampaui target nasional lebih awal. Ini menunjukkankolaborasi yang sangat baik dalam memastikan perlindungankesehatan masyarakat,” kata Asraf saat mengunjungi Kantor Gubernur Sultra, medio Mei 2026.
Di balik berbagai inovasi itu, perubahan yang paling terasabukan sekadar hadirnya aplikasi, melainkan kembalinya waktuyang selama ini habis di ruang-ruang tunggu.
Salah satu yang merasakannya adalah Linda yang telah menjadipeserta JKN selama lebih dari dua dekade. Sebagai ASN, iamasih mengingat ketika hampir semua urusan administrasi harusdiselesaikan di kantor BPJS Kesehatan. Kini sebagian besarkebutuhan itu dapat dilakukan melalui telepon pintar, mulai darimemeriksa status kepesertaan hingga mengakses berbagailayanan administrasi.
“Administrasinya jauh lebih praktis. Tidak perlu lagi seringmeninggalkan kantor hanya untuk mengurus kepesertaan,” tuturnya. Meski demikian, ia berharap kualitas pelayanan di fasilitas kesehatan terus ditingkatkan, terutama saat jumlahpasien sedang ramai. Baginya, pelayanan digital telahmemangkas satu tahapan penting, tetapi kualitas pelayanan di ruang pemeriksaan tetap menjadi harapan masyarakat.
Berbeda dengan Nabila dan Linda, Hasan memilih tetap datang langsung ke fasilitas kesehatan. Peserta JKN berusia 62 tahun itu mengaku belum terbiasa menggunakan aplikasi Mobile JKN. Telepon pintarnya lebih sering dipakai berkomunikasi dengankeluarga.
”Saya belum bisa pakai aplikasi. Lebih enak kalau langsung dibantu petugas,” katanya sambil tersenyum.
Hasan tidak menolak perubahan. Ia hanya membutuhkan cara yang lebih mudah untuk mengenalnya. Setiap kali datang berobat, ia merasa lebih tenang ketika ada petugas yang menjelaskan alur pelayanan atau menunjukkan ruangpemeriksaan. Pengalaman Hasan mengingatkan bahwa transformasi digital tidak hanya tentang menghadirkanteknologi, tetapi juga memastikan tidak ada peserta yang tertinggal dalam proses perubahan.
Pemandangan seperti itu terlihat di berbagai fasilitas kesehatan di Kota Kendari. Peserta datang dengan nomor antrean yang sudah tersimpan di layar telepon pintar. Sebagian lainnya masih meminta bantuan petugas untuk memastikan prosedurpelayanan. Teknologi mempercepat proses, namun sentuhan manusia menjaga agar pelayanan tetap terasa dekat.
Perubahan demikian merupakan bagian dari transformasi layanan BPJS Kesehatan dalam Program JKN. Di Sultra, cakupan UHC telah mencapai 89,65 persen peserta aktif atau sekitar 2,55 juta jiwa, sehingga kembali meraih UHC Award2026. Secara nasional, hingga Juni 2026 program JKN telah melindungi lebih dari 285 juta penduduk melalui jejaring lebih dari 23 ribu fasilitas kesehatan tingkat pertama dan ribuan fasilitas kesehatan rujukan.
Skala pelayanan sebesar itu menuntut digitalisasi agar layanan semakin cepat dan efisien. Mobile JKN dan layanan virtual VIOLA dikembangkan agar masyarakat tidak selalu harus datang ke kantor BPJS Kesehatan.
Namun, angka-angka itu baru benar-benar bermakna ketika hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bagi Nabila, transformasi berarti kesempatan tetap mengikuti kuliah tanpa harus mengorbankan kesehatan. Bagi IS, transformasi berarti lapak dagangnya tetap buka sehingga penghasilan keluarga tidak terganggu. Bagi Linda, transformasi berarti pekerjaan tidak lagi terpotong urusan administrasi. Sementara bagi Hasan, transformasi berarti pelayanan kesehatan tetap hadir dengan wajah yang ramah, meski teknologi terus berkembang.
Ruang tunggu Puskesmas Poasia pun mulai lengang. Nabila bergegas menuju kampus. IS kembali sibuk melayani pembeli. Linda melanjutkan pekerjaannya di kantor. Hasan berjalan perlahan meninggalkan puskesmas sambil menggenggam obat yang baru diterimanya.
Mereka mungkin tidak pernah saling mengenal. Namun, mereka pulang membawa satu pengalaman sama. Pelayanan kesehatan tidak lagi hanya mendekatkan masyarakat kepada fasilitaskesehatan. Pelayanan itu juga mengembalikan sesuatu yang selama ini sering hilang di ruang-ruang tunggu.
Waktu.
Barangkali itulah manfaat paling nyata dari transformasi layanankesehatan. Bukan sekadar menghadirkan layanan di dalamgenggaman, tetapi mengembalikan waktu kepada masyarakat untuk tetap belajar, bekerja, mencari nafkah, dan menjalani hidup.
Di Kendari, perubahan itu mungkin dimulai dari sesuatu yangsederhana. Sebuah nomor antrean yang kini muncul lebih dahulu di layar telepon pintar. Namun dari sanalah pelayanan kesehatan perlahan berubah, bukan hanya menjadi lebih cepat, tetapi juga lebih dekat, lebih mudah, dan tetap manusiawi. (M. Djufri Rachim)









































