Olah Jeruk Nipis Jadi Produk Bernilai Tambah, Tim PPM-KKN UHO Berdayakan Ekonomi Warga Desa Abenggi

KENDARINEWS.COM— Kulit jeruk nipis yang selama ini kerap dibuang begitu saja, kini berubah menjadi produk bernilai jual tinggi. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Terintegrasi Kuliah Kerja Nyata (PPM-KKN) Tematik Universitas Halu Oleo (UHO) mendampingi ibu-ibu PKK Desa Abenggi, Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan, mengolah jeruk nipis menjadi sirup dan manisan kulit jeruk nipis. Kegiatan praktis ini berlangsung di Balai Desa Abenggi dan diikuti oleh 20 orang peserta dari kelompok PKK setempat.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan nyata dari program pengabdian tahun sebelumnya yang berfokus pada budi daya tanaman hortikultura di lahan pekarangan. Jika tahun lalu tim mendampingi warga menanam cabai, seledri, dan pepaya California, tahun ini pendampingan diarahkan pada tahap hilirisasi — mengolah hasil pertanian lokal menjadi produk olahan yang lebih bernilai ekonomi, sehingga warga tidak lagi hanya bergantung pada penjualan buah segar yang harganya fluktuatif.

Ketua Tim Pelaksana, Prof. Dr. H. Jamili, M.Si., menjelaskan bahwa jeruk nipis yang melimpah di Desa Abenggi selama ini hanya dijual dalam bentuk buah segar dengan harga yang tidak menentu. Melalui pelatihan ini, masyarakat khususnya ibu-ibu PKK dibekali keterampilan mengolah buah menjadi sirup dan kulitnya menjadi manisan, sehingga nilai jualnya meningkat signifikan dan masa simpan produk lebih lama.

“Kami tidak hanya mengajarkan cara mengolah, tetapi juga menyampaikan pengetahuan lengkap mulai dari penyiapan dan sortasi bahan baku, pembuatan sirup dari sari buah, hingga pemanfaatan kulit jeruk yang selama ini dianggap limbah menjadi produk bernilai. Peserta juga dibekali pelatihan pengemasan, pelabelan, serta dasar manajemen usaha seperti perhitungan Harga Pokok Produksi, penentuan harga jual, dan strategi pemasaran,” ungkap Prof. Jamili.

Tim PPM-KKN Tematik UHO ini terdiri dari dosen lintas fakultas — Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan — serta 16 mahasiswa dari berbagai program studi. Kehadiran tim multidisiplin ini dirancang agar solusi yang diberikan tidak hanya teknis, tetapi juga mencakup aspek ekonomi dan keberlanjutan usaha.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi sepanjang kegiatan. Ibu-ibu PKK dengan teliti mengikuti setiap tahapan praktik, mulai dari memeras dan menyaring sari jeruk nipis, mencampur dan memasak sirup, hingga merendam serta mengolah kulit jeruk menjadi manisan. Sejumlah peserta aktif bertanya seputar takaran gula yang tepat agar produk awet, serta cara pengemasan yang menarik dan tahan lama.

“Tujuan utama kami bukan sekadar melatih hari ini, melainkan mendorong terbentuknya kelompok usaha pangan desa yang mandiri. Kami ingin ibu-ibu PKK mampu melanjutkan produksi sirup dan manisan ini secara berkelanjutan setelah program KKN berakhir, sehingga menjadi sumber penghasilan tambahan yang stabil bagi keluarga,” tegas Guru Besar FMIPA UHO tersebut.

Diharapkan, produk olahan jeruk nipis ini nantinya akan menjadi ciri khas dan produk unggulan Desa Abenggi, sekaligus memperkuat ketahanan pangan rumah tangga melalui diversifikasi produk yang tahan simpan. Tim pendampingan akan tetap berada di lokasi hingga akhir masa KKN-Tematik pada 19 Agustus 2026, untuk memastikan para pelaku usaha benar-benar mandiri dalam menjalankan produksi hingga pemasaran. (win)

Tinggalkan Balasan