oleh

Dulu Kumuh, kini Puday-Lapulu Jadi Kawasan Wisata

KENDARINEWS.COM–Wali Kota Kendari Sulkarnain Kadir mengaku puas dengan progres penataan kawasan Puday-Lapulu. Dari kejauhan telah nampak perubahan kawasan yang dahulunya kumuh menjadi lebih tertata. “Alhamdulillah progresnya menggembirakan. Jalan-jalannya sudah rapih, sudah mulai dirabat, ada juga yang sudah paving,” ungkap Sulkarnain Kadir, kemarin.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini bakal mendedikasikan kawasan Puday-Lapulu sebagai spot wisata baru di Kota Kendari. Itu lantaran pihaknya sementara menghadirkan beberapa fasilitas penunjang seperti waterfront, tambatan perahu, dan ruang terbuka hijau (RTH) yang indah. “Tunggu saja nanti kita resmikan bulan Agustus. Sekarang sementara dirapikan (dibangun),” ujarnya.

Koordinator Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Kendari La Ngkarisu mengatakan penataan kawasan kumuh tak hanya terhenti di Lapulu-Puday saja. Apalagi masih ada Poasia-Talia serta kawasan sebelah Jembatan Teluk Kendari (JTK) yang perlu ditata. “Kita harus berupaya, bagaimana kawasan-kawasan pesisir lainnya bisa diselesaikan,” katanya, Jumat (17/6).

Penataan kawasan kumuh Puday-Lapulu lanjutnya, menelan anggaran kurang lebih Rp 49 miliar. Luas wilayah yang ditata sekitar 15 hektar. Upaya ini dilakukan untuk mengubah kawasan permukiman menjadi lebih layak dan nyaman untuk dihuni.

Tidak hanya itu, penetaan kawasan ini sekaligus dapat memberi nilai ekonomis masyarakat sekitar. Sebab wilayah ini ditata menjadi destinasi baru warga Kota Kendari. “Penanganan kawasan kumuh di Kota Kendari menjadi bukti keseriusan Pemerintah Kota mewujudkan Kota Kendari, Kota Tanpa Kumuh,” ujarnya.

Ia berharap segmen Puday-Lapulu bisa seperti Bungkutoko-Petoaha. Kawasan kumuh itu kini sudah menjadi tempat favorite warga. Masyarakat sekitar pun telah merasakan dampaknya sebab dapat membantu meningkatkan ekonomi dan daya saing UMKM masyarakat sekitar.

“Capaian ini tidak lepas dari kolaborasi Pemkot Kendari bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR),” ujarnya.

Saat ini, pengerjaannya sudah masuk tahap pengaspalan dan pembenahan di pesisir pantai. Meski hampir tiap hari mendapat kendala, pengerjaannya tetap berlangsung. Sesuai kontrak, 11 Juli 2022 pengerjaannya akan berakhir.

“Alhamdulillah kami masih bisa tangani dengan melakukan pendekatan langsung pada masyarakat, tanpa harus menggunakan kekerasan. Kami menargetkan sebelum masa kontrak berakhir pengerjaannya sudah bisa dirampungkan. Progresnya, sudah mencapai 86,93 persen,” kata La Ngkarisu.(kn)

Komentar

Tinggalkan Balasan