KENDARINEWS,COM— Layanan darurat 112 Kota Kendari terganggu serius. Data resmi Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Kendari menunjukkan, dari total 3.121 panggilan yang masuk selama September 2026, sebanyak 964 panggilan atau 31 persen berupa panggilan iseng, palsu, maupun panggilan tanpa jawab. Angka ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena berpotensi menghambat bantuan bagi warga yang benar-benar membutuhkan.
Kepala Diskominfo Kota Kendari, Sahuriyanto, menyampaikan meskipun pemanfaatan layanan meningkat, panggilan tidak bertanggung jawab masih menjadi masalah besar.
“Dari keseluruhan panggilan valid, kami mencatat terbentuk 246 tiket laporan kejadian yang diteruskan ke instansi terkait,” ujar Sahuriyanto.
Dari 246 laporan tersebut, 168 laporan (68%) telah selesai ditindaklanjuti, sedangkan 78 laporan (32%) masih dalam proses penanganan.
Sebaran Laporan ke Instansi
- Dinas Pemadam Kebakaran: 53 laporan
- Dinas Perhubungan: 35 laporan
- PLN: 30 laporan
- Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan: 26 laporan
- Satpol PP: 24 laporan
- Polres: 20 laporan
- Sisa laporan tersebar ke Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, PDAM, BPBD, dan instansi lainnya
Sahuriyanto meminta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menerima banyak laporan — terutama Damkar dan Dishub — memperkuat kesiapsiagaan Tim Reaksi Cepat (TRC) agar penanganan di lapangan lebih optimal.
Sementara itu, terkait tingginya panggilan iseng, ia mengimbau seluruh warga memanfaatkan layanan 112 secara bijak.
“Hindari melakukan panggilan iseng atau palsu. Hal tersebut dapat mengganggu petugas dan menghambat penanganan kondisi darurat yang benar-benar membutuhkan bantuan cepat,” tegasnya.
Berdasarkan analisis Perjanjian Tingkat Layanan (SLA), meskipun 69% kinerja layanan mengalami peningkatan, 31% lainnya justru menurun — panggilan iseng menjadi salah satu penyebab utama.
Layanan 112 tetap beroperasi 24 jam sebagai jalur utama pengaduan dan bantuan darurat bagi warga Kota Kendari.










































