KENDARINEWS.COM— Dalam rangkaian peringatan Dies Natalis ke-45, Universitas Halu Oleo (UHO) resmi menyelenggarakan Kejuaraan Nasional Catur Chess Open UHO Cup 2026, berlangsung 25–27 September 2026 di Auditorium Mokodompit. Ajang ini tak sekadar kompetisi, melainkan juga memadukan olahraga pikiran dengan pendekatan ilmiah melalui sesi talkshow khusus.
Acara pembukaan dihadiri Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) sekaligus Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Dr. Ir. Hugua, M.Ling, beserta Pelaksana Tugas Rektor UHO, Prof. Dr. Khairul Munadi, S.T., M.Eng., serta jajaran pimpinan universitas dan panitia.
Catur Lebih dari Sekadar Permainan
Dalam sambutannya, Dr. Hugua memberikan apresiasi tinggi kepada UHO atas terselenggaranya kejuaraan bertaraf nasional ini. Menurutnya, catur bukan sekadar permainan logika, melainkan sarana pembentukan karakter yang menyentuh kesadaran, ketenangan jiwa, strategi, hingga kemampuan mengambil keputusan.
“Catur bukan sekadar pikiran, tetapi merangsang neuron, jaringan otak, mendorong biokimia dan enzim, sehingga berfungsi dalam proses metabolisme,” ujarnya.
Nilai sosial juga menjadi penekanan: catur mengajarkan sportivitas, kejujuran, keadilan, dan kebersamaan. Meski saling berhadapan di papan catur, setelah pertandingan berakhir silaturahmi tetap terjalin. Ia berharap ajang ini melahirkan atlet catur berprestasi yang mampu mengharumkan nama Sulawesi Tenggara di kancah nasional.
“Kita berharap lahir atlet yang bisa menggetarkan Indonesia dan membawa kebanggaan bagi Sultra,” tegasnya.
UHO: Catur adalah “Gym bagi Pikiran”
Plt Rektor UHO, Prof. Dr. Khairul Munadi, menjelaskan bahwa rangkaian Dies Natalis ke-45 memang dirancang menyentuh seluruh aspek manusia — fisik, seni, hingga kemampuan berpikir. Catur dipilih untuk melengkapi pengembangan aspek kognitif.
“Catur adalah gimnasium bagi pikiran. Jika olahraga fisik menguatkan otot, maka papan catur adalah tempat melatih dan mengembangkan kemampuan otak,” ungkapnya.
UHO juga menghadirkan talkshow bertema catur dan sistem kerja kognitif yang disampaikan Dr. Nani Resita Siregar, S.Psi., M.Si., guna memberikan dasar ilmiah mengenai manfaat bermain catur bagi perkembangan otak. Prof. Khairul berharap ke depan dapat dibentuk sekolah catur berbasis sains, sehingga anak-anak sejak dini dapat melatih kemampuan kognitif secara teratur.
Ia juga mengingatkan bahwa kejuaraan ini menjadi persiapan bagi atlet Pengprov Sultra menghadapi Kejurnas di Banten pada 3 Oktober mendatang.
340 Peserta, Sembilan Babak, Hadiah Jutaan Rupiah
Ketua Panitia, Dr. Aceng Haetami, M.Si., melaporkan kejuaraan diikuti 340 peserta — terdiri dari 218 peserta kategori umum dan 122 peserta kategori pelajar/mahasiswa/putri. Peserta berasal dari berbagai daerah, termasuk Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, dan sejumlah perguruan tinggi serta pelajar di Sulawesi Tenggara.
Beberapa peserta dari luar daerah sempat terkendala pembatalan penerbangan, namun tetap diupayakan dapat mengikuti sejak babak kedua atau keempat.
Sistem pertandingan menggunakan sembilan babak, dengan durasi 30 menit per pemain ditambah kenaikan waktu 30 detik per langkah. Aturan ketat diterapkan: peserta wajib berpakaian rapi, dilarang merokok di ruang pertandingan, dan langkah yang sudah disentuh wajib dimainkan. Pemenang ditentukan dari akumulasi poin keseluruhan.
Hadiah disiapkan sangat menarik:
- Kategori Umum: Juara I Rp15.000.000, II Rp10.000.000, III Rp7.000.000, hingga peringkat ke-20
- Kategori Pelajar/Mahasiswa/Putri: Juara I Rp7.500.000, II Rp5.000.000, III Rp2.500.000, dan seterusnya hingga peringkat ke-20
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga memperkuat ekosistem olahraga catur berbasis pendidikan dan penelitian, serta mencetak bibit unggul yang membawa nama Sultra makin dikenal di tingkat nasional.










































