Menakar Visi UHO: Dari Retorika dan Dialektika Kandidat Menuju Aksi Rektor 2026-2030.

Oleh: Sumadi Dilla, Dosen Ilmu Komunikasi UHO

KENDARINEWS. COM—Pentas demokrasi kampus terutama pemilihan rektor, selalu saja menyajikan retorika dan dialektika gagasan yang menarik. Pasalnya, suksesi kepemimpinan kampus bertabur ide, gagasan dan strategi dari insan akademik yang memiliki prestasi keilmuan tinggi dan pengalaman yang beragam.

Momentum inilah yang tengah dijalani Universitas Halu Oleo (UHO) sebagai salah satu pilar perguruan tinggi di Indonesia Timur. Seiring dengan itu, pemilihan rektor kali ini memiliki nilai strategis sekaligus bermakna spesial bagi sivitas akademika dibandingkan suksesi rektor sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah UHO, kontestasi ini diramaikan oleh sepuluh bakal calon, sebuah rekor terbanyak ditengah menapiki usianya ke 45 sejak berdiri pada 1981.

Maka tak heran, ajang suksesi kepemimpinan kampus terbesar se Sulawesi Tenggara ini, menjadi magnet bagi talenta-talenta akademisi terbaik dalam kontestasi politik kampus yang sarat prestise. Ini bukan lagi sekadar perebutan posisi yang sarat prestise, melainkan sebuah ujian krusial bagi ketajaman visi para kandidat menuju transformasi kampus modern.

Pada titik inilah visi-misi yang ditawarkan para kandidat mengemban tanggung jawab moral sekaligus memikul harapan besar dalam menyatukan langka dan menyempurnakan tata kelola UHO ke depan.

Menyimak kembali pemaparan gagasan kesepuluh bakal calon di Auditorium Mokodompit pada 30 Juni lalu, kita tentu sependapat bahwa agenda ini bukan sekadar bahasa retoris empat tahunan, melainkan sebuah fase penting dari dialetika lahirnya kepemimpinan akademik dengan gagasan besar yang realistis, yang siap menuntun Universitas Halu Oleo (UHO) menuju Indonesia Emas 2045.

Di tengah lanskap dinamika pendidikan tinggi yang terus berubah dan tuntutan persaingan global, kontestasi ini telah bertransformasi menjadi panggung krusial dalam menyaring ide-ide besar dan menyeleksi rektor masa depan. Sebab dari rahim gagasan besar dan calon pemimpin terbaik, visi institusi diletakkan dan diperjuangkan secara sungguh-sungguh.

Melalui kacamata inilah, momentum pemaparan visi-misi bakal calon rektor UHO patut dicermati dengan saksama dan dibaca secara kritis. Narasi ini sejalan dengan garis tegas Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Ditjen Diktisaintek) yang menekankan bahwa rektor masa depan tidak boleh lagi sekadar menjadi seorang administrator birokrasi. Sosok nakhoda baru harus mampu berdiri tegak sebagai pemimpin akademik (academic leader), agen perubahan (change agent), sekaligus simpul pemersatu bagi seluruh sivitas akademika. Oleh karena itu, untaian visi-misi para kandidat sudah sepatutnya tidak berhenti menjadi tumpukan dokumen yang sarat diksi atau tagline indah di atas kertas.

Pertanyaan mendasar yang kini berkelindan di benak kita adalah: seberapa realistis dan logis tawaran program tersebut jika dibenturkan dengan realitas objektif UHO hari ini? Lebih jauh lagi, sudahkah seluruh kandidat menjabarkan amanat besar dari Ditjen Diktisaintek tersebut secara tegas, jernih, dan terukur

Cetak Biru Trilogi Strategi

Jika membaca dan menakar keseluruhan gagasan besar dokumen visi, misi, dan program kerja para kandidat, secara umum kita tidak hanya menemukan kecemasan yang sama terhadap tantangan zaman, tetapi juga sebuah komitmen optimisme yang kuat. Melalui benang merah inilah, seluruh pemikiran mereka akhirnya bertemu pada satu konvergensi ide yang memikat—sebuah cetak biru besar yang kini dapat kita petakan ke dalam tiga pilar strategis utama;

Pertama, transformasi digital dan modernisasi institusi (smart campus). Beberapa bakal calon mengusung tema utama digitalisasi sebagai infrastruktur dasar untuk meningkatkan tata kelola kampus yang transparan, akuntabel, dan efisien. Rencana mengenai hybrid learning, integrasi kurikulum berbasis kecerdasan buatan, hingga layanan administrasi terpadu berbasis aplikasi, hadir sebagai respons adaptif terhadap generasi digital native.

Namun, sebagai catatan kritis, tantangan terbesar dari pilar ini bukanlah persoalan pengadaan perangkat lunak (software), melainkan sejauh mana kesiapan kultur sumber daya manusia di dalam kampus untuk mengoperasikannya. Gagasan ini mewujud nyata dalam program Prof. Ma’ruf Kasim melalui akselerasi digitalisasi terintegrasi menuju reputasi global, yang bersanding selaras dengan cetak biru teknologi pengajaran adaptif milik Assoc. Prof. Baru Sadarun untuk merespons kebutuhan generasi digital native di Sulawesi Tenggara.

Kedua, internasionalisasi dan kemandirian finansial. UHO kini dituntut untuk tidak hanya bersinar di kawasan regional, tetapi juga meraih rekognisi internasional. Demi menjawabnya, para kandidat menawarkan penguatan akreditasi program studi bertaraf internasional serta percepatan publikasi ilmiah bereputasi. Pada saat yang sama, komitmen ini harus berkelindan dengan seruan kementerian terkait perlunya pendanaan kreatif (creative financing) demi mencapai kemandirian institusi. Artinya, rektor terpilih wajib memiliki kelihaian dalam menjalin kemitraan strategis dengan dunia industri.

Langkah ini krusial agar hilirisasi riset tidak mandek dan berdebu di rak perpustakaan, melainkan mampu memutar roda ekonomi dan memberi dampak nyata bagi masyarakat luas. Pada pilar ini tersaji melalui pemikiran Prof. Edy Karno melalui target prestesius rekognisi dunia pada tahun 2030 berbasis penguatan klaster riset internasional dan Prof Ruslin yang menawarkan gagasan cerdas creative financing melalui diversifikasi portofolio bisnis kampus yang agresif—mulai dari komersialisasi Rumah Sakit Pendidikan, laboratorium, SPBU, homestay, hingga jejaring coffeeshop di tiap fakultas.

Ketiga, keberlanjutan berbasis kearifan lokal. Sebagai episentrum pendidikan tinggi di Sulawesi Tenggara, UHO memiliki modal identitas yang teramat kuat. Beruntung, visi para calon banyak yang beririsan dengan pengembangan riset maritim, kelautan, wilayah pesisir, dan perdesaan. Langkah ini tentu sangat tepat guna menjaga relevansi keilmuan perguruan tinggi agar tetap membumi dan selaras dengan potensi ekologis daerah.

Aspek ini seluruh kandidat memiliki komitmen yang sama, namun pengarusutamaan aspek ini tersaji secara komprehenshif oleh kandidat Prof. Ida Usman, Prof. La Ode Santiaji Bande, Prof. Takdir Saili, Prof. Yusuf Sabilu, Dr. Herman, dan Dr. Muliddin—menambatkan jangkar strateginya secara brilian pada potensi ekologis dan keunggulan komparatif daerah. Konvergensi ide mereka bermuara pada penguatan riset sektor maritim, wilayah pesisir, dan perdesaan Sultra. Hal ini membuktikan bahwa persaingan menuju kursi nomor satu UHO bukan sekadar adu gengsi, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk memastikan ilmu pengetahuan tetap mengakar pada bumi dan kemanusiaan.

Jembatan Narasi, antara Komitmen dan Program Kerja

Bertolak dari trilogi cetak biru strategi di atas, hal penting yang menjadi titik perhatian kita adalah relavansi seluruh visi-misi tersebut terhadap keselerasan konseptual dan tujuan makro institusi. Di sini kita harus menguji komitmen para kandidat: mampukah mereka menyeimbangkan tuntutan akreditasi internasional dengan kewajiban moral yang didedikasikan bagi kecukupan atau keterlampuan standar pendidikan tinggi (prodi/universitas) yang mengabdi pada masyarakat pesisir dan perdesaan di kawasan regional Indonesia? Sejatinya program kerja yang disodorkan melompat jauh di luar urusan manajerial rutin semata, tetapi benar-benar menukik pada kepemimpinan akademik yang menghidupkan kembali tradisi riset serta inovasi yang berdampak bagi pengembangan institusi dan masyarakat.

Pada konteks ini, masing-masing kandidat secara tegas menunjukkan komitmen bersama dan titik temu dalam kesepakatan prinsip, meskipun masih menyisakan celah implementasi yang bervariasi. Variasi celah inilah yang pada akhirnya menjadi ruang artikulasi dan dialektika baru bagi publik untuk menguji kedalaman substansi gagasan serta kesiapan aksi mitigasi dari tiap-tiap kandidat.
Namun, dilihat dari kelayakan program (feasibility study) yang di usung, terdapat persoalan klasik yang luput dari perhatian para kandidat.

Kemegahan program kerja yang di usung nampak menonjol, tetapi kurang di imbangi oleh optimalisasi creative financing sebagai sumber pendapatan institusi (UHO). Bagaimana mungkin janji-janji seperti smart campus, transformasi kurikulum digital, hybrid learning, bantuan riset berdampak termasuk kolaborasi riset kelas dunia, dapat diwujudkan dan berdampak bagi sivitas dan masyarakat luas. Sudahkah kandidat menawarkan model bisnis kampus yang realistis di luar ketergantungan pada Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa.

Pertanyaan mendasar ini juga berlaku bagi kapasitas infrastruktur dan laboratorium kampus—menantang para kandidat untuk berani membalikkan paradigma lama, dari fasilitas yang semula hanya menjadi pusat biaya (cost center) bertransformasi menjadi pusat pendapatan (revenue center) yang produktif. Sayangnya, janji mulia pada program kerja tersebut belum cukup mengemuka dielaborasi sehingga perlu atensi khusus oleh para kandidat. Sebagain besar dokumen visi-misi masih terjebak pada program kerja yang memerlukan effort dan dukungan sumber daya yang besar.

Yang tak kalah penting berkaitan dengan kepastian aksi pada eksekusi program dan respon terhadap persoalan teknis harian di lapangan. Pada titik inilah menjadi penentu kualitas sejati visi-misi para kandidat akan benar-benar diuji—di mana janji harus diwujudkan dalam aksi nyata yang dapat dibuktikan melalui indikator keberhasilan yang konkret dan terukur baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Tanpa adanya tolok ukur yang jelas, semua komitmen besar mengenai modernisasi, internasionalisasi maupun kemandirian finansial kampus berisiko menjadi sekadar dokumen retoris yang sulit dilakukan.

Apakah program kerja dalam visi-misi para kandidat telah memenuhi kepastian eksekusi dan respon yang didukung oleh data faktual dan kemampuan institusi saat ini. Pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah dari para kandidat untuk dipertimbangkan. Meskipun pada bagian ini masing-masing kandidat secara gamblang menegaskan kesanggupan dan komitmen yang sama pada eksekusi program dalam pemaparan visi-misinya, namun respon terhadap kendala teknis harian, seperti malafungsi SIAKAD luput dari perhatian.

Demikian juga dengan protocol komunikasi seperti divisi komunikasi publik (humas) belum dioptimalisasikan secara seimbang. Padahal kedua hal tersebut menjadi kunci meraih reputasi ditengah tuntutan modernisasi, dan internasioanalisasi dalam peta persaingan global universitas. Oleh karena itu, ketajaman dalam mengawal implementasi nyata dan kecepatan respon terhadap persoalan rill di lapangan menjadi taruhan akhir bagi masa depan Universitas Halu Oleo.

Pada akhirnya, kita berharap seluruh visi-misi dan program kerja yang diusung para kandidat dapat di implementasikan. Semoga momentum suksesi pemilihan rektor kali ini menjadi kawah candradimuka lahirnya pemimpin akademik yang membawa perubahan nyata bagi UHO sekaligus intelektual-intelektual muda yang kritis dan solutif. Mari kita sukseskan kontestasi ini, satukan visi dan berikan dukungan penuh kepada para kandidat dan rektor terpilih kelak, Ayo bersama-sama kita ubah energi optimisme ini menjadi aksi nyata, bahu-membahu membenahi tata kelola kampus, demi membawa Universitas Halu Oleo melompat tinggi di kancah global., VIVA UHO

Tinggalkan Balasan