Oleh;Dr. Ferasari, S.Pi.,M.Si
(ASN/Staf Pelaksana/Penelaah Teknis Kebijakan)
Delapan puluh satu tahun Indonesia Merdeka. Usia yang cukup panjang untuk sebuah bangsa belajar dari luka, jatuh, lalu bangkit lagi. Di usia ini, saya percaya setiap anak bangsa punya caranya sendiri untuk berbakti. Dan saya juga punya cara saya. Saya seorang ASN. Sudah 10 tahun menuju tahun ke 11 di tahun ini mengabdi pada sebuah institusi. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Cukup untuk melihat pergantian pimpinan, cukup untuk melihat kebijakan datang dan pergi. Cukup dan bisa melihat, merasai, melakoni episode sebuah kebijakan berproses lalu akhirnya menjadi sebuah Keputusan.
Dengan bekal Pendidikan S3/Doktor. Sampai hari ini, Alhamdulillah saya masih di amanahkan Allah SWT menjalankan tugas sebagai staf pelaksana dengan nama jabatan Penelaah teknis kebijakan. Sebuah jabatan yang secara hirarki berada di bawah tetapi memiliki peranan yang tentunya tidak bisa di pandang sebelah mata oleh siapapun. Tanpa seorang staf pelaksana, tentunya roda organisasi pada sebuah institusi tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Terkadang dan beberapa juga mempertanyakan hal serupa kepada saya, bahwasanya pendidikan yang sudah mencapai ambang maksimal, kok masih harus : begini begini saja”? sebuah pertanyaan yang akan mengoyak relung hati paling dalam, sebuah pertanyaan yang akan sulit di cari jawabannya secara cepat pun singkat. Karena terlalu banyak kosakata juga alinea yang akan terangkum untuk merangkai jawabnya.
Lalu perlahan dan pasti saya menemukan jawabnya, bahwa sebuah tempat tidak akan pernah menentukan besar kecilnya ukuran kebermanfaatan seseorang. Bahwa sebuah amanah jabatan yang di emban bukanlah satu satunya ukuran pengabdian. Bahwa hal paling fundamental justru ketika sebuag ilmu yang sudah di lalui melalui proses panjang berliku juga dengan segala tempaan akan terasa tak bermakna jika tidak di berdayakan pada sebuah hal yang memiliki nilai manfaat bagi bangsa ini.
Tentunya sepuluh tahun waktu yang terlalui telah memberi banyak hal ilmu juga pengalaman yang penting. Bermanfaat bukan berarti mau di manfaatkan, tentu itu dua diksi yang berbeda. Saya ingin ilmu yang saya miliki memilih kontribusinya pada sebuah hal yang memiliki makna yang tepat, terukur dan bermanfaat luas, jauh/ berkelanjutan. Saya ingin berkarya, bekerja dalam tenang/ bermartabat tanpa terdikstraksi kepada hal hal yang hanya bersifat membuang energi juga waktu, kepada segala hal yang tidak memiliki tujuan yang bermakna.
Di titik saya berpijak sebagai staf pelaksana, saya belajar membangun diri, empaty, pun belajar mendengar dengan hati. Karena birokrasi itu soal kumpulan hati hati yang saling terkoneksi satu dengan lainnya. Saya belajar memaknai bahwa cinta kepada negeri ini tidak harus selalu berarti berdiri di atas pódium. Terkadang cinta itu hanya tak memiliki nada. Diam. Bekerja dalam senyap. Membenahi hal-hal kecil yang tidak terlihat di orang lain tetapi terlihat bagi kita. Mengecek data, memastikan data itu sampai dan bermanfaat. Menuntaskannya.
Jika ingin mengabdi kepada negara, kita bisa memulainya dengan mengabdi kepada kota yang telah memberi ruang hidup kepada kita selama ini. Kota kecil ini mengajariku berpikir, merenung, menganalisis. Kota yang jika musim penghujan lebih panjang dari pada kemarau memberi dampak banjir merata di beberapa titik dalam kotanya. Di sisi lain Masyarakat membutuhkan sebuah kepastian penanganan agar kejadian ini tidak terus berulang. Saya menyadari sepenuhnya, negara tidak akan berubah hanya karena satu kebijakan saja tanpa dukungan dari semua pihak/ stakeholders yang bekerja dengan sungguh-sungguh di tempatnya masing-masing.
Saat negara sedang berbenah menuju birokrasi yang lebih kompeten dan berdampak, muncullah kebijakan efisiensi yang memaksa semua pihak untuk beradaptasi, mengasah kepekaan, berani mengambil jalan perubahan. Kita tidak bisa hanya menjadi penuntut tanpa menjadi agen perubahan. Moementuk 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia ini seyokyanya membuka cakrawala berpikir kita, merdeka dalam memberi pengabdian terbaik. Dalam melakoni peran, setiap orang tidak ada yang lebih tinggi, lebih unggul satu dengan yang lainnya. Masing-masing berdiri pada porsi perannya. Ada yang memimpin di depan. Ada yang bekerja di balik layar. Ada yang harus naik ke mimbar pódium bersuara, ada yang senyap dan berlirih. Dan saya memilih untuk terus belajar dan bermanfaat dari tempat saya berdiri saat ini.
Menjadi sebuah pemimpin itu tidak mudah. Tidak sedikit yang akhirnya berhenti atau terhenti di tengah proses tanpa mampu sampai ke garis finish. Sejatinya setiap individu yang melakoni birokrasi dalam karirnya di beri kesempatan ruang berkarya, berdedikasi. Di beri kepercayaan untuk mengisi juga membangun negeri ini.
Tidak ada perbandingan yang pas pada sebuah proses. Selama kita masih mau belajar dan memberi, kita sedang bertumbuh. Pelan-pelan, tapi pasti. Karena kita sedang mencintai negeri ini dengan cara kita, dengan cara saya sendiri. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Semoga kita semua bertumbuh menjadi versi terbaik diri kita. Untuk negeri indonesia tercinta. (fr).








































