Banjir Kendari Terjang 7 Kecamatan, 797 Rumah dan 50 Hektar Sawah Terdampak

KENDARINEWS.COM– Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Kendari selama beberapa hari terakhir menyebabkan dampak cukup luas, merendam ratusan hunian warga hingga merusak lahan pertanian.

Berdasarkan rekapitulasi data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari per Senin (11/5/2026) pukul 09.32 WITA, tercatat sebanyak 797 unit rumah atau kepala keluarga dengan total 3.517 jiwa terdampak bencana, yang tersebar di tujuh kecamatan. Selain merendam kawasan permukiman, banjir juga berdampak serius pada sektor pertanian.

Sebanyak 50 hektar lahan sawah yang berada di wilayah Kecamatan Baruga dilaporkan terendam air, berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi bagi para petani setempat.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, menjelaskan bahwa angka-angka yang dirilis saat ini merupakan data sementara hasil pendataan selama masa tanggap darurat bencana, terhitung sejak tanggal 9 hingga 11 Mei 2026.

Pihaknya menegaskan bahwa proses pencatatan dan verifikasi di lapangan masih berlangsung, sehingga data jumlah warga maupun lokasi terdampak masih memungkinkan berubah.

“Tim kami masih terus bergerak melakukan identifikasi dan pendataan di lokasi-lokasi terdampak. Oleh karena itu, angka yang ada saat ini masih bersifat sementara dan akan kami perbarui seiring kelengkapan data dari lapangan,” ujar Cornelius.

Berikut rincian dampak banjir di tujuh kecamatan yang terdampak: Baruga dan Poasia: Wilayah Terdampak Paling Signifikan Kecamatan Baruga menjadi salah satu wilayah dengan dampak yang cukup merata.

Di Kelurahan Lepo-Lepo, banjir melanda sejumlah titik RT, di mana RT 03 menjadi lokasi terdampak tertinggi dengan catatan 69 unit rumah dan 224 jiwa terdampak. Sementara itu, di Kelurahan Baruga, genangan air terjadi di RT 07, RT 08, dan RT 19 dengan total 23 rumah terdampak, bersamaan dengan terendamnya 50 hektar lahan sawah warga.

Di Kecamatan Poasia, Kelurahan Andonohu tercatat sebagai wilayah dengan titik terdampak terbanyak. Jalan Kedondong RT 24 RW 08 menjadi lokasi yang paling parah, dengan 85 rumah dan 225 jiwa terdampak. Kawasan Lorong Alpukat juga tercatat 36 rumah tergenang, disusul titik lain seperti Jalan Durian, Lorong Meohai, Jalan Haluoleo, hingga kawasan BTN Napabale yang masih dalam pemantauan intensif.

Ratusan Rumah Tergenang Kecamatan Kambu juga menjadi salah satu titik terdampak berat. Di Kelurahan Kambu, kawasan Jalan Mangkerey mencatat dampak terbesar, yakni mencapai 100 unit rumah dengan sekitar 900 jiwa terdampak.

Tak jauh dari situ, di kawasan Jalan Hidayatullah, tercatat pula 76 rumah dengan sekitar 300 jiwa yang terkena dampak banjir. Sementara di Kecamatan Wua-Wua, genangan air meluas ke sejumlah titik di Kelurahan Wua-Wua dan Jalan Sorumba. RT 02 RW 07 menjadi lokasi dengan jumlah terdampak tertinggi di wilayah ini, yakni 22 rumah.

Selain itu, kawasan Jalan Laode Hadi Lorong Veteran tercatat 19 rumah terdampak, serta sejumlah kompleks perumahan seperti BTN Cempaka Graha Asri dan Satria Nusantara juga masuk dalam daftar pemantauan BPBD. Kadia, Abeli, dan Kendari Barat: Dampak Meluas Dampak banjir juga merambah ke Kecamatan Kadia, meliputi wilayah Kelurahan Bende, Pondambea, dan Anaiwoi.

Khusus di wilayah Anaiwoi RT 01 RW 01, tercatat 13 unit rumah dengan 52 jiwa terdampak. Di Kecamatan Abeli, banjir melanda tiga kelurahan yaitu Abeli, Anggalomelai, dan Lapulu. Wilayah yang paling parah dampaknya berada di RT 01 RW 01 Kelurahan Abeli, dengan catatan 58 rumah dan 171 jiwa terdampak.

Sementara itu, di Kecamatan Kendari Barat, dampak banjir tercatat melanda wilayah Kelurahan Punggaloba dan Sodohoa. Hingga berita ini diterbitkan, tim BPBD masih terus melakukan pendataan lebih rinci guna mendapatkan jumlah pasti warga dan kerusakan yang terjadi di kedua kelurahan tersebut.

BPBD Kota Kendari kembali mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi. Masyarakat diharapkan selalu memantau informasi resmi yang dikeluarkan oleh instansi terkait dan segera melaporkan kondisi darurat yang terjadi di lingkungan masing-masing, sembari menunggu pembaruan data lanjutan hasil verifikasi tim di lapangan.

Tinggalkan Balasan