KENDARINEWS.COM- Pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mencatat zona megathrust di Indonesia bertambah menjadi 14 titik, dengan potensi bahaya yang lebih tinggi dibandingkan edisi 2017. Kondisi ini membuat ahli geofisika dari Jepang menyatakan bahwa karakter geologi Indonesia memiliki kemiripan dengan zona Nankai Trough, salah satu kawasan megathrust paling aktif di dunia.
Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University, yang saat ini menjadi Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan hal ini dalam keterangan yang dikutip dari CNBC Indonesia pada Kamis (29/1/2026).
“Kami memahami bahwa gempa bermagnitudo 8 di Jepang terjadi dalam interval sekitar 50 hingga 100 tahun. Ini merupakan pandangan klasik kami sebelum terjadinya gempa besar,” ujar Heki.
Berdasarkan data BMKG yang pernah dirilis pada November 2025, zona megathrust Aceh-Andaman memiliki potensi gempa terbesar dengan magnitudo maksimum mencapai 9,2. Sementara itu, Megathrust Jawa berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 9,1. Sejumlah zona lain seperti Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, dan Enggano masing-masing menyimpan potensi gempa hingga magnitudo 8,9.
Megathrust sendiri adalah zona pertemuan dua lempeng tektonik di mana salah satu lempeng menyusup ke bawah yang lain, menyebabkan penumpukan energi yang bisa terlepas dalam bentuk gempa besar bahkan tsunami. Peta terbaru juga menunjukkan kontur bahaya yang lebih rapat di sejumlah wilayah, mengindikasikan risiko yang lebih tinggi.
BMKG sebelumnya telah menyoroti dua zona megathrust yang berada dalam kondisi seismic gap, yakni Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Kedua wilayah tersebut telah ratusan tahun tidak melepaskan energi besar, masing-masing sejak gempa terakhir pada tahun 1757 dan 1797.
“Yang dimaksud dengan istilah ‘menunggu waktu’ bukanlah prediksi kapan gempa akan terjadi. Ini mengacu pada akumulasi energi yang masih tersimpan karena lama tidak terjadi gempa besar. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat,” jelas BMKG dalam keterangan resminya.
Menurut Heki, meskipun waktu terjadinya gempa besar sulit diprediksi, pemantauan deformasi kerak bumi secara jangka panjang menjadi kunci penting dalam mitigasi bencana. Ia menekankan peran Global Navigation Satellite System (GNSS) serta pengukuran geodesi dasar laut untuk membaca akumulasi tegangan di zona subduksi.
“Kami melihat adanya kopling antar seismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Bahkan di bagian batas lempeng yang sangat dangkal, regangan terus terakumulasi untuk gempa berikutnya,” jelasnya.
Heki juga menyoroti fenomena slow slip event atau pergeseran lambat yang kerap muncul sebelum gempa besar. Meskipun bergerak sangat perlahan, fenomena ini dinilai berpotensi menjadi indikator awal. “Fenomena ini telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan wilayah lain di Jepang. Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini bisa saja memicu gempa besar berikutnya,” tuturnya.
Dengan pengalaman penelitian di bidang geodesi dan seismologi—yang telah membuatnya meraih penghargaan sebagai Fellow of American Geophysical Union pada 2019—Heki menilai Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan sistem pemantauan serupa. Pasalnya, Indonesia memiliki banyak zona subduksi aktif mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok hingga Maluku.
“Dengan penguatan jaringan GNSS dan teknologi pemantauan dasar laut, Indonesia dinilai dapat membaca akumulasi tegangan tektonik secara lebih presisi. Saat ini, saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia,” ujarnya.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dengan mengenali potensi gempa di lingkungan sekitar, memahami langkah-langkah sebelum, saat, dan sesudah gempa, serta mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat menimbulkan kepanikan. (fab/fab)









































