KENDARINEWS. COM–– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengeluarkan peringatan tegas: Indonesia akan menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas kuat yang dijuluki “Godzilla” serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada April hingga Oktober 2026. Kombinasi kedua fenomena ini berpotensi menimbulkan dampak iklim ekstrem yang tidak merata di seluruh wilayah.
El Nino adalah pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator, sementara IOD positif ditandai dengan pendinginan suhu laut sekitar Sumatra dan Jawa. Kedua kondisi ini memperkuat satu sama lain, menyebabkan pergeseran pola pembentukan awan dan hujan.
“Pembentukan awan dan hujan terkonsentrasi di Samudra Pasifik, sehingga wilayah Indonesia mengalami kekurangan curah hujan,” ujar Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin, dikutip dari unggahan resmi BRIN Sabtu (21/3).
Wilayah barat dan selatan Indonesia menjadi titik fokus risiko kekeringan. Sebagian besar Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) akan mengalami kemarau lebih panjang dan kering, yang mengancam sektor pertanian khususnya di lumbung padi nasional. Selain itu, Sumatra dan Kalimantan menghadapi risiko tinggi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sebaliknya, wilayah timur termasuk Sulawesi, Maluku, dan Halmahera diperkirakan tetap menerima curah hujan tinggi, yang berpotensi memicu banjir dan longsor.
BRIN menegaskan perlunya mitigasi spesifik per wilayah. Pemerintah diminta mengantisipasi ancaman terhadap ketahanan pangan di Pantura Jawa, menangani risiko karhutla di Kalimantan dan Sumatra, serta menyusun strategi penanganan kelebihan hujan di wilayah timur.
Di sisi lain, kondisi kemarau kering di selatan Indonesia membuka peluang peningkatan produksi garam. BRIN optimistis Indonesia dapat mencapai swasembada garam pada 2026-2027.










































