PT Ceria Corp, Ekspor Perdana Ferronickel “Merah Putih” Raih Pasar Asia

KENDARINEWS.COM— PT. Ceria Nugraha Indotama (Ceria Corp), perusahaan smelter nasional yang berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Objek Vital Nasional (Obvitnas), menorehkan sejarah baru dengan melakukan ekspor perdana Low-Carbon Ferronickel (FeNi) ke pasar Asia.

Ekspor simbolik ini menandai keberhasilan monumental smelter “Merah Putih” di Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, yang baru memproduksi FeNi perdananya pada April 2025 lalu, bertepatan dengan HUT ke-61 Provinsi Sulawesi Tenggara.

Dari total 65 kontainer, sebanyak 10 kontainer FeNi telah diekspor dalam tahap pertama. Keberhasilan ini tak lepas dari kolaborasi strategis antara Ceria Corp dan Bank Mandiri, yang berperan sebagai katalisator dalam penguatan industri strategis nasional berbasis energi hijau.

Bupati Kolaka, Amri Jamaluddin, turut hadir dalam seremoni ekspor perdana ini sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah.

Ferronickel yang diekspor oleh PT. Ceria Corp merupakan produk green nickel yang diproduksi menggunakan fasilitas pengolahan nikel Smelter Rectangular Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) Line I. Fasilitas ini berkapasitas 72 MVA, mampu memproduksi 63.200 ton ferronickel (kadar 22%) atau setara dengan 13.900 ton logam nikel per tahun. Keberlanjutan produk ini terjamin melalui sertifikasi Renewable Energy Certificate (REC) dari PT PLN (Persero), membuktikan penggunaan energi bersih dalam seluruh rantai produksi. Lebih lanjut, proses produksi yang dikendalikan oleh Artificial Intelligence (AI) dan teknologi robotic menjamin keamanan dan pemantauan real-time.

Ekspor perdana ini selaras dengan visi pembangunan ekonomi nasional, khususnya dalam menciptakan lapangan kerja, memberdayakan tenaga kerja lokal, dan mengelola sumber daya alam secara bertanggung jawab.

CEO Ceria Corp, Derian Sakmiwata, mengapresiasi dukungan Bank Mandiri dan menyebut smelter sebagai simbol kemandirian dan kebangkitan industri nasional.

“Smelter merupakan simbol semangat kemandirian dan kebangkitan industri nasional. Kolaborasi strategis dengan perbankan telah membuka banyak peluang baru, termasuk penciptaan lapangan kerja serta peningkatan nilai tambah bagi daerah dan perekonomian nasional,” ujar Derian, baru-baru ini.

Ia juga mengumumkan rencana ekspansi dengan pembangunan Smelter RKEF Line II dan fasilitas High-Pressure Acid Leaching (HPAL) Line I untuk memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV) global. Target jangka panjang adalah peningkatan kapasitas produksi hingga 252.800 ton ferronickel per tahun.

Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menekankan komitmen bank dalam mendukung hilirisasi mineral nasional dan transisi energi. Ia melihat peran sektor keuangan sebagai mitra strategis yang mampu mengakselerasi pertumbuhan industri bernilai tambah. Pembiayaan sindikasi senilai USD 277,69 juta dari Bank Mandiri, Bank BJB, dan Bank Sulselbar pada tahun 2022 telah mendukung pembangunan smelter dan infrastrukturnya, mencerminkan kepercayaan tinggi terhadap prospek hilirisasi nikel di Indonesia.

Tinggalkan Balasan