Ratusan Desa di Sultra Masih Tertinggal

KENDARINEWS.COM–Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Provinsi
Sulawesi Tenggara (Sultra) mengklaim sekitar 300 desa di Sultra masih kategori tertinggal, dan tujuh desa
lainnya masih sangat tertinggal.

Kepala DPMD Provinsi Sultra, I Gede Panca mengatakan, dari jumlah 1908 desa di wilayah Sultra itu yang sangat tertinggal berjumlah 7 desa, kemudian yang kategori tertinggal kurang lebih 300 desa. Sementara sisa desa lainnya itu adalah desa berkembang, maju dan mandiri.

“salah satu faktor tertinggalnya ini karena faktor transportasi,dan faktor komunikasi. Karena di Sultra ini masih ada 146 desa yang tidak memiliki akses jaringan
komunikasi,”bebernya.

Lebih jauh, papar I Gede Panca saat ini jumlah Desa kategorin mandiri di wilayah Sultra baru empat desa. Seperti Desa Lasalimu di Kabupaten Buton, Desa walandu di Kabupaten Buton Tengah, dan desa Samaturu dan Iwoimenda di Kabupaten Kolaka.

Panca menjelaskan, untuk menilai kategori desa sangat tertinggal dan tertinggal, berkembang, maju dan mandiri itu ada tiga indikator utama. Yakni pertama masalah ekonomi. “Masalah ekonomi ini termasuk bagaimana keuangan desa, semakin bagus keuangannnya maka semakin maju desanya.

Bahkan yang mandiri itu, dia sudah punya lembaga perbankan atau lembaga keuangan yang menampung dari semua hasil perekonomian masyarakat,” jelasnya.

Selanjutnya kata dia, kalau kategori desa sangat tertinggal dan tertinggal itu disebabkan karena desa itu belum bisa mengatur keuangan desanya. Termasuk dana desa yang masuk juga itu belum digunakan ke hal-hal yang produktif yang membuat perekonomian desa ini bertambah baik. Sementara kalau kategori desa berkembang itu, dana desanya sudah digunakan ke hal-hal yang produktif.

“Tetapi dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat itu masih belum begitu maksimal. Artinya masih memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya,” bebernya.

Adapaun untuk desa mandiri, itu dilihat jika masyarakat sudah bisa menabung sehingga bank sudah menampung hasil produksi kegiatan ekonomi masyarakat sehingga ada perbankan yang mengeluarkan program kredit.

“Nah itu sudah masuk kategori mandiri. Jadi semakin besar mengelolaan keuangan desa itu maka semakin produktif desa itu. Sehingga dia menuju desa berkembangn, kemudian menjadi maju dan
mandiri. Jadi ada skornya,” imbuhnya.(kn)

Tinggalkan Balasan