KENDARINEWS.COM– Langkah strategis Universitas Halu Oleo (UHO) menuju status universitas riset unggul kembali dipertegas. Fakultas Farmasi UHO sukses menggelar Sarasehan Nasional dengan tema “Arah Kebijakan Riset Nasional Bidang Kesehatan dan Implikasinya terhadap Pengembangan Riset di UHO” di Plaza Inn Hotel Kendari, Jumat (5/6/2026). Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber ahli dan pakar untuk merumuskan arah kebijakan, peluang, serta strategi pengembangan riset kesehatan yang relevan dengan kebutuhan zaman sekaligus berakar pada kekayaan sumber daya alam lokal.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Farmasi UHO sekaligus inisiator utama kegiatan, Prof. Dr. Ruslin, M.Si., didahului laporan pelaksanaan dari Ketua Panitia, Dr. apt. Henny Kasmawati, M.Si. Dalam sambutannya, Prof. Ruslin menegaskan bahwa penyelenggaraan sarasehan ini merupakan wujud nyata tanggung jawab akademik kampus dalam menjawab tantangan pembangunan kesehatan nasional. Menurutnya, untuk mewujudkan visi UHO sebagai perguruan tinggi riset berbasis potensi maritim, diperlukan ekosistem riset yang kuat, inovatif, dan kolaboratif.
“UHO tidak hanya berkewajiban menghasilkan riset yang berkualitas secara ilmiah dan terpublikasi, tetapi yang paling penting adalah riset yang berdampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah. Potensi kekayaan alam Sulawesi Tenggara adalah modal besar yang harus kita angkat dan olah menjadi inovasi bernilai tinggi,” tegas Prof. Ruslin di hadapan peserta yang terdiri dari dosen, peneliti, dan mahasiswa.
Sesi diskusi yang dipandu oleh moderator Prof. Dr. Muh. Arba, M.Si., berlangsung hangat dan penuh gagasan segar dengan menghadirkan empat pembicara utama yang memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing.
Narasumber pertama, Agustin Peranginangin, S.T., M.M. (Ketua Umum Ikatan Alumni ITB), mengupas tuntas strategi hilirisasi dan komersialisasi hasil riset perguruan tinggi. Ia menekankan pentingnya membangun jembatan penghubung antara dunia akademik dengan dunia industri dan masyarakat luas. Menurutnya, keunggulan sebuah riset tidak berhenti di laboratorium atau jurnal ilmiah, namun harus mampu bertransformasi menjadi produk atau layanan yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial yang luas.
“Sering kali penelitian hebat tertahan di rak buku karena tidak memahami cara pasar bekerja. Kolaborasi menjadi kunci agar inovasi kita sampai ke tangan masyarakat dan memberi keuntungan ekonomi bagi daerah,” ujar Agustin.
Selanjutnya hadir secara daring, Prof. apt. Auliya A. Suwantika, M.BA, Ph.D. (Dekan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran), memaparkan peta jalan kebijakan kesehatan global dan nasional. Ia mengacu pada program kerja Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) periode 2025–2028 atau GPW14, yang menargetkan penyelamatan 40 juta jiwa di dunia melalui tiga pilar utama: Promote Health, Provide Health, dan Protect Health.
Secara nasional, lanjutnya, agenda riset perguruan tinggi wajib bersinergi dengan prioritas Kementerian Kesehatan, meliputi penanganan tuberkulosis, pemeriksaan kesehatan gratis, pengendalian penyakit kanker, jantung, stroke, uro-nefrologi (KJSU), serta kesehatan ibu dan anak. Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi UHO untuk mengambil peran strategis dalam kontribusi data dan solusi ilmiah.
Sebagai narasumber ketiga, Prof. Dr. Ruslin, M.Si., memaparkan secara rinci peta jalan penguatan ekosistem riset di lingkungan UHO. Ia menyoroti empat pilar utama pengembangan riset kampus, yaitu penguatan ekosistem, inovasi riset, kolaborasi kemitraan, serta dampak dan keberlanjutan. Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa Fakultas Farmasi UHO telah menyusun roadmap riset kesehatan dan farmasi yang terstruktur hingga tahun 2030.
Fokus riset dirancang bertahap: mulai dari pemetaan kebutuhan dasar, pembangkitan bukti ilmiah, penguatan layanan kesehatan primer, pengembangan ketahanan farmasi daerah, hingga penerapan kebijakan berbasis data. Langkah ini diharapkan menjamin keberlanjutan dan arah yang jelas bagi setiap penelitian yang dilakukan sivitas akademika.
Pembahasan semakin menarik saat narasumber keempat, Guru Besar Fakultas Farmasi UHO, Prof. Dr. Sahidin, M.Si., mengangkat kekayaan alam Sulawesi Tenggara sebagai komoditas farmasi bernilai tinggi. Ia memaparkan data‑data riset terbaru mengenai potensi senyawa bioaktif yang terkandung dalam beragam jenis tumbuhan lokal yang tumbuh di wilayah ini. Menurutnya, nilai ekonomi yang bisa dihasilkan dari pemanfaatan tanaman asli Sultra sangat besar dan belum tergali sepenuhnya, menjadikan hal ini sebagai keunggulan kompetitif utama riset UHO dibandingkan kampus lain.
“Ini adalah keistimewaan kita. Kita tidak perlu jauh‑jauh mencari bahan penelitian, kekayaan hayati kita luar biasa. Kita buktikan bahwa potensi lokal maritim dan keanekaragaman hayati bisa menjawab kebutuhan farmasi dunia,” jelas Prof. Sahidin.
Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang dinamis, di mana peserta antusias menanyakan peluang pendanaan, strategi publikasi ilmiah bereputasi, hingga cara membangun jejaring kerja sama dengan lembaga riset dalam dan luar negeri.
Melalui sarasehan ini, Fakultas Farmasi UHO kembali menegaskan komitmennya untuk tumbuh dan berkembang menjadi pusat unggulan riset farmasi dan kesehatan yang kolaboratif, inovatif, berdampak, dan berkelanjutan. Langkah ini sejalan dengan visi besar UHO menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN‑BH) yang mandiri dan berdaya saing nasional maupun internasional.










































