oleh

BNNP: Peredaran Narkoba Sangat luar Biasa

KENDARINEWS.COM–Kasus penyalahgunaan narkoba kian hari kian meresahkan. Sasarannya pun merambah bukan hanya lelaki perempuan paru baya, dewasa, namun juga pelajar dan anak anak.

Kepala BNNP Sultra Brigjen Pol Isnaeni Ujiarto melalui Koordinator Bidang Rehabilitasi BNNP, La Mala mengungkapkan, target BNPP Sultra mengungkap kasus narkoba tahun 2022 ini sekira 13 kasus. “Sejauh ini, kami sudah menangani 11 kasus dari Januari hingga Juli 2022,” ujar La Mala, Selasa (9/8), kemarin.

La Mala menjelaskan, sebagai perbandingan data kasus narkoba tahun 2021, dari target 12 kasus yang harus dicapai, BNNP Sultra berhasil mengungkap 18 kasus narkoba. “Artinya ini menggambarkan peredaraan narkotika sangat luar biasa di Sultra,” ungkapnya.

Tantangan yang dihadapi BNNP dalam mengungkap kejahatan narkoba adalah sulitnya mendeteksi dan mengawasi pintu masuknya narkoba. “Karena pesisir pantai kita sangat panjang, ini memudahkan mereka masuk. Makanya kita berusaha membangun komunikasi disemua elemen, termasuk pihak bandara dan pelabuhan untuk selalu intens mengawasi,” ungkapnya.

Selain itu, Sultra masih minim alat pendeteksi terhadap zat narkotika yang kerap masuk via udara maupun laut. “Kita belum punya alat yang canggih untuk mendeteksi itu. Sehingga ini masih longgar, masuknya barang haram itu. Bahkan, para pelaku kejahatan narkoba kini memanfaatkan media sosial untuk transaksi secara online. Ini tantangan kita bersama untuk mengatasinya,” kata La Mala.

Sementara itu, Penyidik BNNP Sultra, Suharno merinci pengungkapkan 11 kasus narkoba periode Januari-Juli 2022 yakni narkoba jenis sabu sekira delapan kasus dan ganja sekira tiga kasus. “Dari 11 kasus narkoba itu, 14 orang tersangka diamankan. Barang bukti yang disita narkotika jenis sabu sekira 297,28 gram dan ganja sekira 86,66 gram,” rincinya.

Modus transaksi yang kerap digunakan tersangka adalah pengiriman via online atau jasa kurir. Tempat Kejadian Perkara (TKP) tangkapan BNNP Sultra tersebar di wilayah Mandonga, Wuawua, Anduonohu dan Martandu. “Semua lewat online, transaksi melalui media sosial instagram. Sabu-sabu ini pengiriman lewat Baubau, Kolaka, dan bahkan ada transaksi yang dikendalikan oleh oknum warga binaan Lapas,” tutur Suharno. (kn)

Komentar

Tinggalkan Balasan