Dibolehkan Pulang, Prof.Eka Suaib : Terima Kasih Tim Dokter Bahteramas

Metro Kendari

KENDARINEWS.COM — Karena terpapar Covid-19, saya bersama isteri dirawat di Rumah Sakit Bahteramas. Hanya selama perawatan, isteri saya tanpa gejala, sementara saya terpapar virus dengan gejala serius. Ini adalah suatu hikmah dari Allah SWT karena isteri saya yang tanpa gejala bisa merawat dan mensupport saya agar kuat melawat virus Covid-19. Selain itu, isteri saya juga berprofesi sebagai dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif.

Awal mula, hari itu, Jumat sore pulang ke rumah, saya merasa kurang enak badan. Badan terasa capek sekali. Lemas tulang-tulang terasa seperti remuk. Saya pikir, ini gejala efek samping dari pemberian suntikan vaksin pertama yang sudah diberikan kepada saya pada hari Minggu di aula Poltekes Kendari. Ternyata hari Sabtu, keluhan bertambah dengan mulai batuk.

Oleh istri saya, langsung membawa periksa swab antingen di RS dr.Ismoyo Korem. Ternyata hasilnya, positif. Sementara istri saya swab antigennya masih negatif. Setelah hasil positif, maka langsung isolasi di RS dr.Ismoyo Korem agar orang di rumah tidak terpapar. Senin pagi, saya dengan istri swab PCR. Hasilnya kami berdua positif. Maka, kami berdua isolasi di RS dr.Ismoyo Korem. Hanya saja dengan melihat perkembangan gejala penyakit saya, kami pindah ke RS Bahteramas.

Hari Rabu, kami sudah dirawat di ruang perawatan Laika Mendidoha Lt. 2. Ruang perawatan khusus tenaga kesehatan (Nakes). Saat masuk, kami dirawat oleh beberapa dokter Rumah Sakit Bahteramas. Setelah dirawat 4 hari, ternyata gejala covid saya bertambah berat. Dengan gejala, batuk sesak, demam. Dan saturasi oksigen saya sempat menurun sampai 84 persen yang nilai normalnya 98-100 persen.

Tim dokter, dalam hal ini dr. Tamsil Bahrun, SpAn langsung mengadakan tindakan cepat dengan memindahkan ke lokasi ruang isolasi Covid dengan peralatan yang lebih lengkap. Ia sangat khawatir dengan kondisi nafas saya. Di ruang isolasi Covid yang baru, saya diberi alat bantu pernapasan aliran udara tinggi (high nasal flow). Bila kondisi saya semakin memburuk, akan digunakan alat ventilator yakni di mana gerakan nafas kita diambil alih oleh mesin ventilator. Tapi Alhamdulillah dengan high nasal flow, saturasi oksigen saya mampu naik menjadi 99-100 persen.

Tim dokter terus menerus memantau perkembangan gejala penyakit saya dengan memberi terapi terbaik dan tepat. Penanganan oleh tim dokter yang dibentuk, dr. Tamsil Sp.An dkk (tim anestesi), dr.Topan Binawan, Sp.PD, dr.Iwan Derma,Sp.P, dr.Firman Dulllah, Sp.JP.
Selama perawatan, yang sangat penting bagi penderita bergejala batuk dan sesak untuk melakukan tidur tengkurap. Agar semua lendir-lendir yang ada di paru-paru bisa dikeluarkan. Karena penyebab saturasi bisa menurun, akibat banyaknya produksi lendir yang kental di paru-paru.

Saat saya dirawat, saya melihat profesionalisme dokter dan perawat yang merawat saya. Mereka masuk bergantian dengan 3 sif, pagi, siang, malam. Masuk dengan menggunakan APD lengkap agar terlindungi dari penularan Covid. Memberi obat, memberi motivasi agar pasien tidak stres. Pun, memberi motivasi makan minum agar imun tetap terjaga. Alhamdulillah, Rabu 23 Februari 2021 tim dokter membolehkan saya dan istri pulang ke rumah. Menutup catatan ini, saya kutip kata-kata bijak Prof.Husni Tanra., Ph.d, Guru Besar Anastesiologi Unhas. Katanya, jika Allah SWT masih menginginkan Hamba-Nya masih hidup pada saat menderita sakit, akan datang pertolongan Allah SWT pada orang yang tepat mengobati kita. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *