Capaian Masih Rendah, BPBD Sultra Gencar Siapkan Sekolah Hadapi Bencana

KENDARINEWS. COM–Rendahnya capaian implementasi Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Sulawesi Tenggara menjadi perhatian serius Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sultra. Hingga Juni 2026, baru 99 sekolah yang tercatat memenuhi instrumen evaluasi SPAB atau sekitar 18,79 persen. Kondisi tersebut mendorong BPBD Sultra memperkuat kapasitas guru melalui Pelatihan Pencegahan dan Mitigasi Bencana yang digelar di Hotel Same Kendari, Rabu (8/7).

Kepala Pelaksana BPBD Sultra, La Ode Saifuddin, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari strategi meningkatkan kesiapsiagaan sekolah menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Yang kita bangun bukan hanya kemampuan merespons ketika bencana terjadi, tetapi bagaimana sekolah mampu melakukan pencegahan dan mitigasi sejak awal. Guru menjadi ujung tombak untuk menanamkan budaya sadar bencana kepada peserta didik,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Sultra, La Ode Saifuddin saat membuka kegiatan.

Dia menjelaskan, pelatihan ini diikuti kepala sekolah maupun perwakilan guru SMA, SMK, dan SLB se-Kota Kendari. Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari program sosialisasi, komunikasi, dan edukasi kebencanaan yang sebelumnya telah dilaksanakan BPBD Sultra dalam mendorong implementasi SPAB di lingkungan sekolah.

“Secara geografis Sulawesi Tenggara berada pada wilayah yang memiliki beragam ancaman bencana, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor hingga cuaca ekstrem. Karena itu, sekolah harus menjadi salah satu sektor prioritas dalam membangun budaya kesiapsiagaan,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, berdasarkan hasil evaluasi sistem e-Monitoring dan Evaluasi (e-Monev) SPAB per Juni 2026, baru 15 kabupaten dan kota di Sultra yang mengisi instrumen penilaian. Sementara Kabupaten Kolaka Utara dan Konawe Utara belum melakukan pengisian.

Dia menambahkan, dari daerah yang telah berpartisipasi, jumlah sekolah yang tercatat baru mencapai 99 satuan pendidikan dengan tingkat capaian 18,79 persen. Bahkan, pada Pilar 3 SPAB yang berfokus pada pelatihan pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana, persentasenya masih berada di angka 13,13 persen.

“Data ini menjadi alarm bagi kita semua. Artinya, masih banyak sekolah yang perlu diperkuat kapasitasnya agar benar-benar siap menghadapi bencana,” katanya.

Dia berharap pelatihan tersebut mampu meningkatkan kemampuan para guru dalam menyusun rencana kontingensi sekolah, memahami manajemen risiko bencana, hingga membentuk Kelompok Siaga Bencana di lingkungan sekolah masing-masing.

Dia melanjutkan, selain itu, BPBD Sultra juga mendorong seluruh sekolah mempercepat pengisian instrumen e-Monev SPAB agar data kesiapsiagaan sekolah di Sultra semakin lengkap dan menjadi dasar penyusunan kebijakan mitigasi bencana yang lebih terarah.

“Harapan kami setelah pelatihan ini selesai, ilmu yang diperoleh tidak berhenti di sini. Bapak dan Ibu guru dapat menerapkannya di sekolah sehingga tercipta lingkungan belajar yang aman bagi seluruh peserta didik,” pungkasnya. (jib)

Tinggalkan Balasan