KENDARINEWS.COM— Prof. Dr. Ir. Takdir Saili resmi tercatat sebagai bakal calon kedua dalam Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Halu Oleo 2026. Ia menyerahkan langsung seluruh berkas persyaratan pendaftaran kepada panitia seleksi yang dipimpin Ketua Panitia, Prof. Ali Bain, di ruang lantai IV Rektorat, Rabu (20/5/2026) sekitar pukul 09.20 WITA.

Kedatangan Prof Takdir disambut langsung oleh jajaran tim panitia. Usai melakukan pengecekan dan verifikasi administrasi secara teliti, Prof. Ali Bain mengonfirmasi bahwa dokumen yang diserahkan calon yang juga menjabat Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Sistem Informasi dan Hubungan Masyarakat itu telah memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan.

“Setelah kami lakukan cek dan lihat secara rinci, berkas yang diserahkan Bapak Prof Takdir Saili dinyatakan lengkap,” ungkap Prof. Ali Bain di hadapan awak media usai proses pendaftaran berlangsung.
Menjadi pendaftar kedua setelah Prof Ruslin, Prof Takdir Saili menegaskan niatnya maju sebagai pemimpin tertinggi universitas berpijak pada pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dengan penekanan utama pada aspek inovasi.

Dalam pernyataannya, ia menyampaikan prinsip dasar kepemimpinannya adalah keberlanjutan. Menurutnya, segala capaian dan fondasi yang telah dibangun para pemimpin sebelumnya — termasuk arah persaingan di tingkat nasional dan internasional yang dirintis pada era Prof. Usman Rianse — harus tetap dihargai, diteruskan, dan diperkuat.
“Bagi saya, kemajuan sebuah institusi adalah hasil kerja kolektif, bukan pencapaian perorangan. Apa yang sudah diletakkan dasarnya oleh pendahulu, wajib kita lanjutkan dan sesuaikan dengan kebutuhan zaman,” ujar Prof Takdir.
Pakar reproduksi ternak ini juga menyoroti tantangan besar yang harus segera dijawab, yaitu perubahan budaya mutu di lingkungan kampus. Ia menilai, hingga saat ini orientasi pemenuhan standar dan akreditasi masih terlalu bersifat administratif dan dilakukan secara mendadak hanya saat ada penilaian.
Ia memiliki visi mengubah pola tersebut agar standar mutu dan akreditasi diinternalisasi menjadi budaya kerja sehari-hari di seluruh fakultas, jurusan, hingga program studi.
“Saya ingin standar akreditasi itu tumbuh menjadi kebiasaan dan budaya kerja harian, bukan sekadar sibuk menyiapkan dokumen saat mendekati asesmen. Cita-cita saya sederhana: setiap saat kita sudah siap dinilai. Akreditasi harus menjadi cerminan nyata kualitas sistem kerja kita, bukan sekadar sandiwara administrasi,” tandas Prof Takdir Saili tegas.(ani)










































