Direktur RSJ Sultra Gagas Psikiatri Budaya, Solusi Inklusif Kesehatan Mental Berbasis Identitas Lokal

KENDARINEWS.COM– Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) di bawah kepemimpinan Direktur baru, Dr. dr. H. Junuda RAF, M.Kes., Sp.KJ., Subspesialis Psikiatri Biologik (K), menggagas pendekatan psikiatri budaya sebagai solusi holistik dalam menangani masalah kesehatan mental. Inisiatif ini diharapkan menjadi model nasional yang inklusif dan manusiawi.

Dalam wawancara eksklusif di program Podcast Kendari Pos Channel, dr. Junuda menjelaskan visinya untuk membangun layanan kesehatan jiwa yang lebih komprehensif. Salah satu langkahnya adalah mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dalam proses penyembuhan pasien.

“Di Indonesia, orang jarang langsung mengatakan dirinya stres atau depresi. Umumnya dikeluhkan sebagai sakit kepala, nyeri ulu hati, atau lemas. Ini adalah ekspresi budaya dari gangguan jiwa,” jelas dr. Junuda kepada Direktur Kendari Pos, Dr. Mahdar Tayong, yang memandu acara podcast tersebut.

Pendekatan psikiatri budaya ini dinilai sangat relevan di Sultra, yang memiliki keragaman budaya dari berbagai suku seperti Buton, Muna, Tolaki, dan Moronene. Dr. Junuda menyadari bahwa masyarakat seringkali lebih percaya pada pendekatan supranatural sebelum mencari pertolongan medis. Oleh karena itu, RSJ Sultra tidak serta merta menyalahkan keyakinan tersebut, melainkan berusaha menyelaraskan penanganan medis dengan menghargai budaya pasien.

“Banyak yang lebih dulu ke orang pintar sebelum ke rumah sakit. Kita tidak langsung menyalahkan itu. Yang penting, pasien bisa ditangani secara medis, dengan pendekatan yang menghargai budayanya,” ujarnya.

Menurutnya, penolakan terhadap nilai-nilai budaya pasien justru dapat memperburuk kondisi. Psikiater perlu memiliki kepekaan budaya dalam berinteraksi dan memberikan terapi. Hal ini mencakup cara duduk, nada bicara, dan pilihan kata yang disesuaikan dengan latar belakang pasien.

“Cara duduk, nada bicara, pilihan kata, semua harus disesuaikan. Kalau pasien merasa diinterogasi, dia akan menutup diri. Tapi kalau merasa aman, itu sudah bagian dari terapi,” terangnya.

Selain faktor budaya, dukungan keluarga juga memegang peranan penting dalam pemulihan pasien gangguan jiwa. Dr. Junuda menekankan pentingnya memanfaatkan sistem kekeluargaan yang kuat di Indonesia dalam proses penyembuhan. Ia juga mendorong pendekatan edukatif yang tidak menghakimi saat menyosialisasikan kesehatan jiwa kepada masyarakat.

“Tidak bisa langsung diubah semua. Kita lihat budaya mana yang tidak relevan dan pelan-pelan dimodifikasi. Harus menghargai nilai yang sudah hidup di masyarakat,” ucapnya.

Sejalan dengan kebijakan Kementerian Kesehatan, RSJ Sultra juga tengah bersiap untuk bertransformasi menjadi rumah sakit umum dengan keunggulan di bidang kejiwaan.

“RSJ Sultra ke depan akan menjadi rumah sakit umum dengan keunggulan di bidang kejiwaan. Sekitar 60% layanan tetap untuk kesehatan jiwa, sisanya melayani penyakit dalam, anak, saraf, dan rehabilitasi medis,” jelasnya.

Dr. Junuda menyoroti peningkatan kasus gangguan jiwa pada anak, terutama spektrum autisme, yang membutuhkan perhatian khusus. Pihaknya berencana mendatangkan psikiater anak dari Makassar dan Surabaya agar anak-anak dapat ditangani sejak dini secara tepat.

Melalui pendekatan psikiatri budaya, dr. Junuda berharap Sultra dapat menjadi percontohan nasional dalam layanan kesehatan mental yang lebih inklusif dan manusiawi. Ia mengajak akademisi, budayawan, dan tenaga kesehatan untuk berkolaborasi menggali nilai-nilai lokal yang dapat menunjang kesehatan mental masyarakat.

“Kita punya kekayaan budaya luar biasa. Saya ingin menggandeng akademisi, budayawan, dan tenaga kesehatan untuk menggali nilai-nilai lokal yang bisa menunjang kesehatan mental masyarakat,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan