oleh

Asrun Lio Pimpin Rakor Pengendalian Inflasi

KENDARINEWS.COM–Sekretaris Daerah (Sekda) Sultra, Asrun Lio mengumpulkan seluruh OPD lingkup Sultra, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan Satgas Ketahanan Pangan, mereka merancang langkah strategis pengendalian inflasi.

“Untuk menekan angka inflasi daerah, tentu perlu langlah-langkah strategis. Bahkan kita juga telah buat posko Satuan Tugas(Satgas) Ketahanan Pangan di Aula Dinas Perindag Sultra. Saya Ketua Satgas. Upaya ini dilakukan agar masing-masing OPD menugaskan satu atau dua orang setiap hari untuk aktif memantau kondisi inflasi melalui Satgas,” kata Sekda Sultra, Asrun Lio usai pertemuan, Selasa (24/1), kemarin.

Sekda Sultra, Asrun Lio mengatakan, berdasarkan data yang ada, inflasi di Sultra pada Desember 2022 sebesar 0,75 persen. Persentase itu lebih tinggi daripada bulan sebelumnya yang berada diangka 0,34 persen dan lebih tinggi dari inflasi nasional sebesar 0,22 persen.

Sekda Sultra, Asrun Lio menjelaskan, daerah penyumbang inflasi terbesar pada Desember 2022 adalah Kota Kendari yakni 7,11 persen dan Kota Baubau sebesar 8,35 persen. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya inflasi, diantaranya harga yang diatur pemerintah seperti tiket angkutan udara dan cukai rokok. Selain itu, dari sisi pangan, komoditas beras dan bawang merah memicu inflasi. “Termasuk ikan selalu memicu inflasi dari bulan ke bulan. Hal itu sesuai laporan BPS,” ujarnya.

Dia menambahkan, secara neraca ketersediaan pangan di Provinsi Sultra, sejauh ini keadaan masih aman. Hal ini dilihat dari kondisi ketersediaan beras aman selama tiga sampai enam bulan ke depan. Persediaan jagung dan bawang merah pun dalam posisi aman.

“Untuk beras, inflasi utamanya terjadi di daerah Buton Tengah. Berdasarkan pantauan tim satgas, harganya berkisar Rp13.000/liter. Lalu di Wakatobi dengan harga Rp12.500/liter. Tapi kita upayakan untuk tahun ini inflasi bisa teratasi dengan baik,” jelas Sekda Sultra, Asrun Lio.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra, Siti Saleha mengatakan penyumbang inflasi dari bulan ke bulan atau dari tahun ke tahun yakni dari sisi transportasi dan bahan komoditas hortikultura yaitu cabai rawit, cabai keriting dan bawang merah.

“Untuk komoditas hortikultura, terjadi inflasi karena kita masih bergantung pasokan dari Bima, NTB dan Sulawesi Selatan. Karena itu, saya arahan kepada Dinas Perkebunan agar kita tidak perlu tergantung lagi pada pasokan dari Sulawesi Selatan sebab di Sultra masih banyak lahan tidur dan ini yang harus kita manfaatkan,” ujar Siti Saleha. (rah/kn)

Komentar

Tinggalkan Balasan