oleh

Dekranasda Baubau Dorong Penguatan Karakter Tenun Sulaa

KENDARINEWS.COM — Jika Kabupaten Buton punya tenun Wabula, Muna dengan tenunan Masalili, Wakatobi terkenal tenun Pajam, maka Baubau juga punya ciri khas, namanya tenun Sulaa. Karena berada dalam satu rumpun Sulawesi Tenggara (Sultra), hasil kerajinan khas daerah itu pun punya kemiripan satu sama lain, bahkan tak jarang orang sulit membedakannya. Untuk mendorong penguatan karakter tenun Sulaa itu, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Baubau mengambil langkah konkret untuk meningkatkan sumber daya manusia perajin tenun. Tak tanggung-tanggung, seorang ahli tenun dari Dekranas Jakarta dihadirkan. Bukan untuk sehari, tetapi memberikan pelatihan selama satu bulan.

Ketua Dekranasda Kota Baubau, Wa Ode Nursanti Monianse, mengatakan pihaknya sengaja mendatangkan desainer nasional sebagai instruktur untuk memberikan pelatihan. Tujuannya agar hasil yang dicapai benar-benar signifikan bisa mendongkrak hasil dan promosi tenun Sulaa.

“Harapannya tentu para penenun kami dapat meningkatkan kemampuannya, sehingga betul-betul menghasilkan kain tenun yang mampu bersaing. Bukan hanya di tingkat regional dan nasional, bisa juga go internasional,” katanya, Minggu (31/7).

Terget itu kata dia bisa dicapai jika peserta benar-benar serius mengikuti pelatihan. Akan menjadi sia-sia perjuangan Dekranasda menghadirkan ahli kerajinan tangan tangan itu jika perajin tidak menyadur ilmunya secara maksimal. “Ini hal langka. Staf ahli Dekranas bisa satu bulan memberi pelatihan. Jadi harus dimanfaatkan dengan baik,” tambahnya. Pelatihan itu juga mendapat dukungan dari Bank Indonesia di Sulawesi Tenggara. Ada bantuan lima unit alat tenun bukan mesin (ATBM) kepada perajin tenun Sulaa.

Sementara itu, Staf Ahli Dekranas, Wignyo Rahadi, membenarkan jika dirinya akan berada selama 28 hari memberi pelatihan. Itu terhitung sejak 28 Juni lalu hingga 23 Agustus mendatang. Dia menegaskan akan mengupas tuntas cara dan proses pembuatan tenun yang baik. Untuk tenun Buton masih satu rumpun dengan wilayah-wilayah tetangga seperti Muna dan Wakatobi. Itu membuat motif yang dihasilkan para perajin sangat mirip. Nah Baubau dinilai belum dibranding sedemikian rupa sehingga tenunannya belum terpromosi maksimal. “Nah ini kesempatan yang baik untuk kita reborn tenunan khas Baubau. Modalnya sudah ada tinggal bagaimana dikembangkan, karakternya lebih kuat lagi,” katanya.
Tantangannya diakuinya cukup berat namun punya peluang yang sama untuk populer. Itu akan dimulai bagaimana dengan menyiapkan produk berkualitas dan selalu punya stok lengkap. “Kita akan latih bagaimana membuat pewarna secara mandiri, Kalau ada pesanan bisa langsung dibuat, tidak perlu ke toko. Sebab ketika di toko tidak ready, pelanggannya hilang,” pungkasnya. (kn)

Komentar

Tinggalkan Balasan