KENDARINEWS.COM–Ada yang menarik di acara diskusi nasional Mewujudkan Asta Cita Pendidikan 2045: Transformasi Pendidikan Profesi Guru Menuju Akuntabilitas dan Kualitas Pendidikan Global” yang dihelat di BPK Perwakilan Sultra, Kamis (21/5/2026).
Acara yang tak hanya menghadirkan pembicara lokal tapi juga narasumber nasional dari Kemendikdasmen dan Kemendiktisaintek tersebut, dan semakin menarik karena pesertanya (sesuai undangan) adalah mayoritas
anggota senat Universitas Halu Oleo (UHO).
Undangan tertanggal 15 Mei 2026 tersebut, tentu saja dinilai semakin
menimbulkan wasangka di intern anggota senat sendiri. Mengingat saat ini, Kampus Terbesar di Sulawesi Tenggara ini tengah menghadapi tahapan Pemilihan Rektor periode 2026/2030.
Tepatnya, mereka yang diharapkan hadir adalah Senat UHO mulai dari unsur pimpinan (ketua senat dan sekretarisnya, serta para anggota senat ex officio mulai para wakil rektor, para dekan, direktur pascasarjana serta pimpinan lembaga) yang totalnya berjumlah 24 orang tersebut.
Kehadiran para senator UHO dengan acara bertema Mewujudkan Asta Cita Pendidikan 2045 tersebut, dinilai tidak tepat. Apalagi momentumnya bertepatan dengan penyelenggaraan tahapan Pemilihan Rektor (Pilrek) UHO 2026 yang pemilihnya adalah para undangan yang namanya tercantum dalam lampiran daftar undangan tersebut.
Hal ini dipertanyakan dan menjadi bahasan serius di intern senat UHO. Saat dikonfimasi kepada Ketua Senat UHO, Prof. Dr. Jamili, ia membenarkan telah menerima undangan tersebut.
“Silakan menafsirkan. Bagi kami Muslim, diundang kami datang. Hanya Itu bukan agenda senat, kami menerima undangan yang ditujukan untuk senat. Penyelenggaranya BPK. Ada pembahasan di intern soal itu, kenapa yang diundang hanya anggota senat. Bila diisinkan kami akan diskusikan dulu dengan Plh apalagi salah satu pembicaranya adalah dari Kementerian,” jelasnya, sehari sebelum penyelenggaraan acara tersebut.
Secara terpisah sejumlah anggota senat mempertanyakan acara yang mestinya ditujukan pada Plt/Plh Rektor UHO, bukan kepada Senat UHO. “Ini semakin aneh, kemasannya terkait pendidikan, yang diundang para senator yang mayoritas unsur pimpinan di UHO. Rancu jadinya katena salah satu pematerinya adalah Wakil Dekan. Mestinya temanya diperluas saja, supaya yang hadir unsur pimpinan di UHO. Bukan Senat, bicara Senat ya terkait Pilrek,” katanya.
Semoga saja, lanjut dia, acara yang juga menghadirkan narasumber dari Kemendikdasmen dan Kemendikbudristek ini tidak bermaksud “Menekan” anggota senat UHO untuk memilih salah satu calon Rektor UHO ke depannya. “Pilrek adalah proses demokratis yang seyogyanya tanpa intervensi politik atau siapapun. Biarkan anggota senat memilih tanpa tekanan, sesuai mekanisme yang telah ditetapkan,” tandasnya.
Terkait hal itu, Kepala Subbagian Humas dan TU BPK Sultra, Restu Nur Rasyiidah Ihwan menampik adanya tudingan tersebut. Katanya, forum tersebut menghadirkan berbagai unsur, mulai dari perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, akademisi, kepala sekolah, guru, hingga kepala dinas pendidikan guna membangun diskusi bersama terkait penguatan kualitas guru di Indonesia.
“Harapannya, melalui kegiatan ini semua elemen bisa duduk bersama dan berdiskusi bagaimana mewujudkan guru yang profesional untuk mencapai target Asta Cita tersebut,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya turut mengundang unsur pimpinan Universitas Halu Oleo (UHO), termasuk Pelaksana Harian (Plh) Rektor UHO dan unsur senat universitas.
“Kami sebenarnya juga mengundang Plh Rektor, namun beliau berhalangan hadir hari ini. Undangan juga kami sampaikan kepada unsur senat karena di dalamnya terdapat wakil rektor dan para dekan,” ungkapnya.
Selain itu kata dia, secara khusus panitia turut mengundang Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) serta Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk memperkuat pembahasan terkait transformasi pendidikan guru.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak berkaitan dengan dinamika pemilihan rektor yang tengah berlangsung di UHO. Panitia memastikan seluruh pihak terkait telah diundang secara terbuka.
“Kami mengundang semua pihak. Bahkan sebelumnya undangan kepada Plh Rektor sudah kami kirimkan hingga ke Jakarta dan beliau sempat mengkonfirmasi kehadiran, namun karena ada agenda lain sehingga belum bisa hadir,” bebernya.
Ia berharap kegiatan perdana tersebut dapat memberikan manfaat bagi seluruh peserta serta menjadi ruang kolaborasi dalam menyusun gagasan untuk kemajuan pendidikan.
“Semoga kegiatan ini bisa bermanfaat bagi seluruh peserta. Kami hanya menjadi wadah untuk mempertemukan akademisi, pihak kementerian, guru, dan pemangku kepentingan lainnya agar bisa saling berbagi pendapat dalam mewujudkan Asta Cita di bidang pendidikan,” tutupnya.










































