Menteri Pertanian RI Isi Kuliah Umum di UHO, Bahas Penguatan Nilai Kebangsaan dan Kemandirian Pangan Nasional

KENDARINEWS.COM–Universitas Halu Oleo (UHO) menggelar kuliah umum bersama Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, dengan tema “Dari Kampus untuk Negeri: Penguatan Nilai Kebangsaan, Inovasi Pertanian, dan Kemandirian Pangan Nasional” di Auditorium Mokodompit, Sabtu (6/6/2026).

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Sistem Informasi, dan Hubungan Masyarakat UHO, Prof. Dr. Ir. H. Takdir Saili, M.Si mengungkapkan bahwa, kegiatan ini menjadi sangat strategis dalam memperkuat sinergi antara dunia akademik dan kebijakan nasional, khususnya di bidang pertanian dan ketahanan pangan.

“Perlu kami laporkan bahwa kegiatan ini dapat terlaksana dalam waktu yang relatif singkat. Karena bersifat mendadak, persiapan kami hanya kurang lebih empat jam, dengan dukungan dari Dinas dan unsur terkait. Alhamdulillah, berkat kerja sama semua pihak, kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik sebagaimana yang kita saksikan bersama saat ini,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa, UHO mendukung penuh seluruh program pemerintah, baik di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, maupun Kementerian Pertanian, serta kementerian lainnya yang terkait.

“Kami menyambut baik berbagai program yang telah direncanakan oleh Kementerian Pertanian. InsyaAllah, UHO siap berkontribusi dan berkolaborasi dalam implementasinya,” jelasnya.

Ia juga menerangkan bahwa, saat ini jumlah guru besar di UHO telah mencapai 171 orang. Khusus di bidang pertanian, terdapat sekitar 42 guru besar yang menjadi kekuatan utama dalam pengembangan riset dan inovasi. “Ini merupakan modal besar bagi universitas kami untuk terus berkontribusi dalam penelitian dan pengembangan sektor pertanian, baik di tingkat regional maupun nasional. Dengan potensi tersebut, UHO optimistis dapat terus memperkuat kolaborasi, baik dengan pemerintah pusat maupun daerah, dalam mendukung ketahanan pangan dan pembangunan nasional,” terangnya.

Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa, dalam Islam, Allah mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dan bekerja keras. Prinsip ini menegaskan bahwa keberhasilan sangat terkait dengan usaha dan ikhtiar.

“Kita sering melihat fenomena bahwa ada masyarakat yang sangat rajin berdoa, tetapi kurang diiringi dengan tindakan nyata. Sebaliknya, di beberapa negara lain, keberhasilan lebih banyak ditopang oleh disiplin, kerja keras, dan konsistensi dalam bertindak. Oleh karena itu, keseimbangan antara doa dan usaha menjadi sangat penting. Doa memberikan kekuatan spiritual, tetapi kerja keras dan tindakan nyata adalah jalan untuk mewujudkan perubahan,” ujarnya saat sambutan.

Ia menuturkan bahwa, pada akhirnya, perubahan hanya akan terjadi jika seseorang benar-benar mau bergerak, bekerja, dan memperbaiki diri secara konsisten.

“Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat bahwa ada orang yang setiap hari mengeluhkan keadaan, bahkan sampai merasa seolah hidup penuh penderitaan. Namun di sisi lain, rutinitasnya tidak berubah. Setelah beraktivitas dengan cara yang sama, lalu pulang dan beristirahat tanpa ada perbaikan pola kerja, tanpa ada perubahan cara berpikir, akhirnya siklus itu terus berulang,” tuturnya.

Ia menyebut bahwa, dilihat banyak negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam yang menunjukkan pola berbeda. Mereka tidak hanya berdoa, tetapi juga bekerja keras, disiplin, dan konsisten dalam bertindak. Ada keseimbangan antara spiritualitas dan kerja nyata.

“Di sisi lain, kita kadang hanya menonjolkan aspek spiritualitas tanpa diiringi dengan ikhtiar yang kuat. Bahkan ada kecenderungan untuk saling menenangkan dalam kondisi yang tidak produktif, seolah-olah semua baik-baik saja, padahal realitasnya belum menunjukkan perubahan yang signifikan,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa, masyarakat perlu membangun kesadaran yang lebih kuat bahwa keberhasilan tidak bisa hanya didasarkan pada harapan, tetapi pada kerja keras, konsistensi, dan keberanian untuk bertanggung jawab atas proses yang kita jalani.

“Ada pandangan yang mengatakan, yang penting bahagia meskipun sederhana. Namun dalam konteks pembangunan, pandangan seperti itu tidak cukup jika dimaknai sebagai pembenaran untuk tidak berusaha lebih baik. Kebahagiaan sejati justru lahir dari usaha yang sungguh-sungguh dan pencapaian yang nyata. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain selain terus berusaha menjadi lebih baik, lebih disiplin, dan lebih produktif dalam setiap peran yang kita jalankan,” tutupnya.(win).

Tinggalkan Balasan