KENDARINEWS.COM — Pertempuran antara Thailand dan Kamboja kembali memanas. Hingga Kamis, suara ledakan terus terdengar di sekitar kawasan kuil-kuil berusia berabad-abad di sepanjang perbatasan kedua negara, menandai eskalasi terbaru dari konflik yang telah berlangsung sejak pekan lalu.
Para pejabat melaporkan bahwa sedikitnya 20 orang tewas dalam bentrokan terbaru tersebut. Media internasional menyebut sekitar 600.000 warga, sebagian besar di Thailand, telah meninggalkan rumah mereka akibat pertempuran yang melibatkan jet tempur, tank, dan drone di garis depan. Kementerian Pertahanan Kamboja mencatat lebih dari 192.000 orang telah dievakuasi, sementara otoritas Thailand menyebut lebih dari 400.000 warga sipil terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Konflik kedua negara sejatinya berakar pada perselisihan demarkasi era kolonial di sepanjang perbatasan sepanjang 800 kilometer. Baik Thailand maupun Kamboja sama-sama mengklaim sejumlah kuil bersejarah sebagai bagian dari wilayah mereka. Bentrokan pekan ini bahkan menjadi yang paling mematikan sejak pertempuran selama lima hari pada Juli lalu yang menewaskan puluhan orang. Konflik sempat mereda pada Oktober setelah tercapainya gencatan senjata menyusul intervensi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, namun kesepakatan tersebut kini kembali runtuh.
Di tengah situasi yang memburuk, warga sipil terus menyuarakan keinginan untuk kembali hidup normal. Rat, warga berusia 61 tahun, mengaku harus melarikan diri bersama delapan anggota keluarganya. Ia berharap dapat segera kembali ke rumah dan bertani seperti biasa. Hal serupa disampaikan Chae Yeang, warga berusia 88 tahun, yang hanya ingin perang segera berakhir dan kedamaian dipulihkan.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan siap kembali turun tangan. Ia mengaku berharap dapat berbicara langsung dengan para pemimpin Thailand dan Kamboja untuk menuntut penghentian bentrokan. Trump menyebut kedua pemimpin sebagai figur hebat dan menyatakan optimisme bahwa dirinya mampu membantu meredakan konflik seperti sebelumnya. Namun Gedung Putih melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt menyampaikan bahwa hingga saat ini Trump belum melakukan pembicaraan tersebut, meski memastikan bahwa pemerintahan AS terus memantau situasi di tingkat tertinggi dan terlibat secara aktif dalam upaya penyelesaian konflik. (CNBC Indonesia)










































