KENDARINEWS.COM — Amerika Serikat kembali membuat gebrakan besar di sektor persenjataan dengan mengumumkan pembentukan satuan tugas drone serangan satu arah berbiaya murah di kawasan Timur Tengah. Langkah ini menegaskan dorongan Washington untuk memperluas inovasi militer melalui teknologi kecerdasan buatan (AI) dan sistem persenjataan tanpa awak.
Satuan tugas baru tersebut diberi nama Task Force Scorpion Strike, yang kini telah menurunkan satu skuadron Low-cost Uncrewed Combat Attack System (LUCAS). Drone ini merupakan perangkat serangan berbiaya rendah dengan desain yang mirip dengan drone Shahed buatan Iran—senjata mematikan yang marak digunakan Rusia selama perang Ukraina dan dikenal gesit serta sulit ditangkal.
Pengumuman ini dirilis hanya sehari setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth meluncurkan rencana “drone dominance” senilai US$1 miliar dalam dua tahun. Program tersebut bertujuan memproduksi ratusan ribu drone murah untuk memperkuat keunggulan militer AS sekaligus menghadapi eskalasi ancaman drone di medan perang modern.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyampaikan bahwa skuadron drone LUCAS sudah dikerahkan dan dioperasikan oleh personel militer di Timur Tengah. Drone tersebut memiliki jangkauan jauh, dapat terbang secara otonom, dan bisa diluncurkan menggunakan ketapel, sistem roket pendorong, hingga kendaraan bergerak. Rekaman resmi menunjukkan deretan drone ini berjajar di landasan pacu pada lokasi yang dirahasiakan.
Laksamana Brad Cooper, petinggi CENTCOM, menegaskan bahwa pengerahan cepat drone LUCAS mencerminkan kemampuan inovasi dan kekuatan deteren militer AS terhadap pihak mana pun yang dipandang sebagai ancaman.
Amerika Serikat menilai langkah ini krusial menyusul maraknya penggunaan drone Shahed oleh Rusia—serangan dalam jumlah besar yang mampu mengacaukan sistem pertahanan udara musuh menjadi peringatan keras bagi Pentagon. Drone murah namun mematikan tersebut diyakini sebagai bagian penting dari wajah baru peperangan.
Pada Juli lalu, Pentagon juga telah memamerkan lebih dari selusin prototipe drone serangan murah buatan perusahaan teknologi dalam negeri. Sejumlah rancangan itu dikembangkan sebagai alternatif drone Shahed, termasuk desain SpektreWorks yang menilai LUCAS bergaya Shahed dapat digunakan sebagai emulator ancaman untuk operasi AS di kawasan Indo-Pasifik dengan biaya perawatan lebih rendah.
Pemerintahan Trump mendorong percepatan produksi drone guna mengejar kapabilitas Rusia dan China yang semakin agresif dalam penggunaan teknologi UAV. Trump bahkan pernah memuji drone buatan Iran tersebut karena harganya yang relatif murah namun memiliki daya serang mematikan, sehingga memicu percepatan inovasi sistem drone ofensif oleh AS. (CNBC Indonesia)










































