Pawai Budaya Hut Sultra ke 59 “Sukses” 

KENDARINEWS.COM–Pawai budaya peringatan Hari Ulang Tahun Sulawesi Tenggara (Sultra) ke 59 tahun berlangsung sukses. Star dari pintu masuk area EKS MTQ dan finish depan Taman Balai Wali Kota Kendari, ribuan peserta pawai budaya begitu antusias. Total peserta 3.500 terdiri dari perwakilan masing-masing 17 Kabupaten dan Kota se Sultra dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup provinsi serta organisasi kebudayaan dan kepemudaan hadir tumpah ruah secara tertib. 

Gubernur Sultra Ali Mazi melalui Sekda Asrun Lio menerima langsung peserta pawai budaya. 

“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim seraya memohon ridha Allah Swt, pawai budaya dalam rangka peringatan HUT Pemprov Sultra ke 59, saya terima,” kata Asrun Lio, Senin (8/5).

Sekda Asrun Lio dalam sambutannya, mengapresiasi terlaksananya pawai budaya dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke 59 Provinsi Sultra. Ia memaknai bahwa pawai ini merupakan bentuk kegembiraan masyarakat Sultra pada hari lahirnya provinsi yang dicintai bersama. 

“Pawai ini merupakan ekspresi kebahagiaan masyarakat Sulawesi Tenggara karena di usianya yang ke 59  daerah Sultra telah mengalami berbagai macam kemajuan yang membanggakan atas kerja keras semua stakeholder,” ujar Asrun Lio.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra itu menjelaskam, pawai budaya ini juga merupakan cara untuk merawat kebudayaan yang ada di Sultra. Artinya, Sultra memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa. Namun kekayaan ini jika terus digalih atau dieksplorasi, maka pada waktunya akan habis. Namun jika kekayaan budaya digalih terus menerus, maka kekayaan ini tidak akan pernah habis. 

“Oleh karena itu masa depan Sultra, tidak hanya terletak pada kekayaan alam namun potensi budaya, potensi pariwisata yang akan terus digalih, akan membuat daerah ini semakin maju,” jelasnya. 

Asrun Lio meminta kepada seluruh masyarakat Sultra untuk bergotong-royong dalam melestarikan budaya. Ia memaparkan sedikitnya ada beberapa cara untuk menjadikan budaya lokal konsisten terawat dan ditumbuhkan. Diantaranya, dengan mempelajari budaya. 

Menurutnya, generasi muda dapat mempelajari budaya dari banyak hal, seperti buku, ensiklopedia, surat kabar, atau langsung ke tempatnya. Pengetahuan mengenai budaya inilah yang mampu membuat budaya lokal tetap terjaga dalam jangka waktu yang lama. Dan setelah mengetahui informasi mengenai budaya lokal, generasi muda dapat mulai mengikuti kegiatan kebudayaan tersebut.

“Misalnya, dengan bergabung menjadi peserta dan ikut melakukan budaya tersebut atau menonton orang-orang melakukan budaya tersebut. Atau bisa juga dengan menonton tarian tradisional Indonesia dan ikut mempelajari tarian tersebut atau menonton tarian tersebut dengan saksama,” paparnya.

Cara melestarikan budaya selanjutnya yaitu dengan mengajarkan budaya tersebut ke orang lain. Jika generasi muda sekarang mengajarkan budaya daerah ke orang lain atau bahkan warga luar maupun asing, maka orang lain dapat ikut mengetahui budaya tersebut. Semakin banyak orang mengetahui budaya lokal tersebut, semakin terjaga pula tradisi tersebut.

“Generasi muda juga bisa mengenalkan atau sekaligus mengajarkan budaya lokal ke dunia internasional. Mengingat kita hidup di jaman modern dan serba digital, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah tinggal membagikan potret atau video budaya lokal ke media sosial,” beber Asrun Lio. 

Asrun Lio menambahkan, cara melestarikan budaya bangsa Indonesia yang lainnya adalah dengan menjadikan budaya sebagai identitas. Bangun rasa bangga ketika mengenalkan atau menggunakan budaya lokal Indonesia di tengah-tengah era globalisasi.

“Hal inilah yang dapat membuat generasi muda untuk tidak mudah terpengaruh oleh budaya asing yang muncul di Indonesia,” pungkasnya. (ali/kn).

Tinggalkan Balasan