KENDARINEWS.COM — Di tengah upaya memperdalam hubungan strategis dengan Indonesia, Uni Eropa secara terbuka mengakui masih menghadapi tantangan serius terkait intoleransi, termasuk Islamofobia dan antisemitisme. Pernyataan ini disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Stéphane Mechati, dalam Dialog Antaragama dan Antarbudaya Indonesia-UE di Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Menurut Mechati, Indonesia menjadi rujukan penting dalam memajukan praktik keberagaman yang inklusif. Ia menekankan bahwa kemitraan strategis antara Indonesia dan Uni Eropa harus terhubung dengan realitas warga negara, sehingga pandangan masyarakat sipil sangat diperlukan untuk menciptakan masyarakat inklusif.
“Kesamaan semboyan antara kedua pihak menjadi fondasi. Uni Eropa memiliki moto ‘United in Diversity,’ yang setara dengan semboyan konstitusional Indonesia, ‘Bhinneka Tunggal Ika,’” kata Mechati. Ia menegaskan, prinsip tersebut membuat dimensi agama dan keyakinan dalam masyarakat kedua pihak tidak boleh diabaikan.
Meski menekankan komitmen Uni Eropa terhadap hak asasi manusia dan hak beribadah, Mechati secara terbuka mengakui adanya masalah internal di Eropa. “Kami memiliki masalah di Uni Eropa. Ada kecenderungan terhadap Islamofobia, antisemitisme, dan bentuk-bentuk rasisme, dan kami sangat berkomitmen untuk berjuang melawan sikap-sikap mengerikan tersebut,” ujarnya. Mechati menilai model toleransi dan keanekaragaman di Indonesia dapat menjadi pelajaran berharga bagi Eropa.
Sementara itu, Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Ani Nigeriawati, berharap dialog ini menjadi awal peningkatan pertukaran budaya dan masyarakat, termasuk pertukaran antara tokoh agama atau organisasi berbasis agama. Ia menekankan bahwa koneksi antar masyarakat merupakan fondasi utama persahabatan dan perdamaian global.
“Karena kami mempercayai bahwa koneksi antar masyarakat menjadi fondasi kuat bagi persahabatan dan memberikan pesan bagi dunia untuk selalu damai,” kata Ani.
Ani menambahkan, dialog antaragama dan antarbudaya ini sangat relevan mengingat keputusan para pemimpin Indonesia dan Uni Eropa untuk meningkatkan hubungan bilateral menjadi Kemitraan Strategis. Kemitraan ini tidak hanya meliputi politik dan ekonomi, tetapi juga budaya, agama, dan interaksi masyarakat.
“Para pemimpin kami telah memutuskan untuk meningkatkan hubungan dengan Uni Eropa menjadi kemitraan strategis. Inilah salah satu alasan mengapa kami mengadakan diskusi hari ini, dan di masa depan, kami berharap hubungan ini semakin erat melalui dialog seperti ini,” tambah Ani.
Dengan adanya dialog ini, kedua pihak berharap dapat memperkuat kerja sama yang inklusif, menghormati keberagaman, serta menjadikan toleransi sebagai fondasi hubungan strategis yang berkelanjutan. (CNBC Indonesia)










































