KENDARINEWS.COM–Tahun 2025 menjadi momen istimewa bagi Sulawesi Tenggara (Sultra), yang dipercaya sebagai tuan rumah Seleksi Tilawatil Qur’an dan Al Hadits (STQH) Nasional XXVIII. Kegiatan ini dihadiri Menteri Agama RI Prof Nasaruddin Umar, Gubernur Sultra Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, serta para pejabat tinggi kementerian dan lembaga dari seluruh daerah di Indonesia.
Ajang bergengsi ini bukan sekadar perlombaan membaca dan mengumkmhafal ayat-ayat suci, tetapi juga manifestasi nyata dari semangat membumikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
STQH menjadi ruang sakral yang memadukan spiritualitas dan pemberdayaan ekonomi, mengajak umat untuk memahami bahwa keberkahan hidup juga lahir dari ekonomi yang beretika dan berkeadilan.
Penyelenggaraan STQH di Sulawesi Tenggara membawa dampak ekonomi yang signifikan. Ribuan peserta, kafilah, dan pengunjung dari seluruh Indonesia menghadirkan peluang besar bagi perputaran ekonomi daerah.
Hotel-hotel dan penginapan lokal dipenuhi tamu, sektor transportasi menggeliat, kuliner dan produk lokal meningkat permintaannya, dan pariwisata daerah ikut terangkat. Semua ini menggambarkan bagaimana STQH menjadi katalis bagi tumbuhnya ekonomi syariah berbasis halal tourism dan kewirausahaan umat.
Kegiatan ini juga menjadi momentum bagi pelaku UMKM untuk naik kelas. Melalui semangat “fastabiqul khairat”, yakni berlomba dalam kebaikan, masyarakat diajak menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam dunia usaha: jujur, adil, dan membawa manfaat bagi sesama. UMKM halal yang hadir dalam STQH tidak hanya menjual produk, tetapi juga memperkenalkan gaya hidup Islami yang penuh keberkahan dan keberlanjutan.
Di sinilah Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara (BI Sultra) mengambil peran penting. Bersinergi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra, BI Sultra menghadirkan Halal Mart, ruang pamer dan jual produk halal dari UMKM dan Pelaku Usaha Syariah (PUS) di seluruh kabupaten/kota.
Melalui inisiatif ini, pengunjung dari berbagai provinsi dapat menikmati dan membeli 3 produk unggulan pondok pesantren, 22 produk UMKM makanan-minuman (mamin), dan 2 produk UMKM wastra, yang menjadi cermin potensi ekonomi kreatif Sultra.
Selain sektor perdagangan, STQH juga mendorong perhotelan dan transportasi lokal untuk meningkatkan pelayanan dengan prinsip halal dan ramah muslim. Restoran, kafe, dan pusat kuliner pun memperluas sertifikasi halal mereka, menciptakan rantai ekonomi yang berlandaskan nilai syariah.
Sektor pariwisata halal di Sultra turut merasakan dampak positif, dengan meningkatnya kunjungan ke destinasi wisata religi, kuliner, dan budaya, seperti Zona KHAS Masjid Al Alam dan wisata bahari yang kini mulai mengadopsi konsep pelayanan halal.
Pada saat yang sama, BI Sultra memanfaatkan momentum STQH untuk memperluas literasi ekonomi dan keuangan syariah (eksyar) kepada lebih dari 3.000 pengunjung. Serta memperkenalkan tiga proyek wakaf produktif dan non-produktif yang diinisiasi bersama Badan Wakaf Indonesia (BWI) melalui platform SatuWakaf. Gerakan sadar wakaf ini menjadi wujud nyata integrasi spiritualitas dan pembangunan ekonomi umat.
STQH Nasional XXVIII 2025 di Sultra pun menjadi lebih dari sekadar festival keagamaan. Ia menjelma menjadi panggung besar sinergi antara iman dan pembangunan ekonomi. Melalui dukungan Bank Indonesia dan berbagai pihak, STQH membuktikan bahwa cahaya Al-Qur’an tidak hanya menerangi hati manusia, tetapi juga dapat menumbuhkan ekonomi yang berdaya, inklusif, dan penuh keberkahan bagi seluruh masyarakat.










































