Hasto juga tidak luput membahas penyakit nepotisme di Indonesia yang menghambat realisasi visi Bung Karno untuk negara yang adil dan makmur. “Upaya progresif untuk mempercepat kemajuan bangsa yang berbasis pada kualitas manusia Indonesia, supremasi hukum, dan sistem meritokrasi yang andal, terganjal oleh ambisi kekuasaan dan penyakit nepotisme yang berasal dari puncak kekuasaan,” tambahnya.
Dari perspektif global, Hasto menegaskan bahwa pemikiran Bung Karno tentang struktur dunia yang demokratis, kemanusiaan, persaudaraan internasional, dan keadilan tetap relevan. “Kesetaraan setiap negara dalam keanggotaan PBB adalah respons terhadap struktur dunia yang penuh pertarungan geopolitik saat ini,” paparnya.
Terakhir, Hasto berharap bahwa peringatan Hari Lahir Bung Karno yang ke-123 dapat menjadi momentum untuk meneguhkan tekad dalam meluruskan arah masa depan bangsa yang semakin menjauh dari cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, baik dalam hal sistem politik, ekonomi, hukum, budaya, maupun politik luar negeri.(kn/ryl)










































