Sekjen Andap Dampingi Menteri Yasonna Bertemu Pemerintah Belanda

Bangun Kerja Sama Perangi Kejahatan Transnasional

KENDARINEWS.COM-Sekretaris Jenderal Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Sekjen Kemenkumham), Komjen Pol Andap Budhi Revianto mendampingi Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H. Laoly dalam pertemuan dengan pemerintah Belanda,
Jumat waktu setempat (25/8/2023).

Turut hadir dalam pertemuan, Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda, Mayertas. Kemudian, Staf Khusus bidang Hubungan Luar Negeri, Direktur Izin Tinggal Imigrasi dan Direktur Pelayanan Komunikasi HAM.

Menteri Yasonna bertemu langsung dengan
Menteri Kehakiman dan Keamanan Belanda, Dilan Yeşilgöz-Zegerius. Salah satu poin penting pertemuan itu adalah terbangunnya kerja sama, antara Indonesia dan Pemerintah Belanda untuk memerangi kejahatan transnasional.

“Kejahatan lintas negara semakin signifikan dan mengancam keamanan nasional hingga internasional. Makanya, kerja sama ini menjadi sangat penting,” ungkap Menteri Yasonna dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 26 Agustus 2023.

Menteri Yasonna menjelaskan, kejahatan transnasional meningkat seiring kemajuan teknologi, karena jangkauannya global. Sehingga, pemerintah harus membangun kerja sama bilateral di bidang teknologi digital, agar bisa menangkal kejahatan secara efektif.

“Pemerintah harus memanfaatkan teknologi untuk melawan kejahatan transnasional secara efektif. Untuk itu, Indonesia dan Belanda mendorong kerja sama melalui teknologi digital dan platform media sosial,” harapnya.

Lebih jauh Yasonna menjelaskan, berbagai bentuk kejahatan transnasional telah merugikan masyarakat. Di antaranya perdagangan orang dan penipuan siber. Yasonna ingin Indonesia dan Belanda meningkatkan kerja sama antar penegak hukum, serta pengawasan perbatasan.

“Pelaku kejahatan transnasional bisa memasang lowongan pekerjaan palsu di luar negeri, hingga akhirnya korban dipaksa tinggal dan tidak bisa pulang. Pemerintah Indonesia dan Belanda perlu meningkatkan kerja sama untuk melawan kejahatan-kejahatan ini,” ulangnya menegaskan.

Indonesia telah menciptakan sistem database untuk memantau mobilitas korban kejahatan transnasional yang berhasil dipulangkan. Serta mengetatkan proses pemeriksaan keimigrasian.

Selain itu, Indonesia sudah melakukan perjanjian Bantuan Hukum Timbal Balik, ekstradisi, dan kerja sama hukum dengan banyak negara untuk mengatasi kejahatan transnasional. Selanjutnya, kerja sama dengan Belanda ini, akan semakin menguatkan level keamanan dan kemampuan pemerintah dalam melindungi masyarakatnya dari kejahatan.

Hubungan bilateral antara Indonesia dan Belanda di bidang hukum, telah menunjukkan tren positif. Kedua negara rutin berdialog dalam forum INLU (Indonesia – the Netherlands Legal Update). Forum dialog tahunan ini, melibatkan berbagai kalangan baik pemerintah, penegak hukum, organisasi masyarakat sipil serta para pakar hukum dan akademisi, untuk bertukar pandangan, pengalaman dan praktik terbaik di bidang hukum.

Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H. Laoly bersama Menteri Kehakiman dan Keamanan Belanda, Dilan Yeşilgöz-Zegerius.

Menteri Yeşilgöz menyampaikan apresiasi kepada Menteri Yasonna, atas peningkatan kerja sama antara kedua negara. Belanda akan terus mendukung Indonesia dalam memerangi kejahatan transnasional, upaya reformasi hukum, serta pemajuan HAM.

Kerja Sama Bidang Pemasyarakatan

Dalam kunjungannya ke Belanda, Menteri Hukum dan HAM juga membahas kerja sama di bidang pemasyarakatan bersama pimpinan Reclassering Nederland Johan Bac, dan perwakilan CILC (Centre for International Law Cooperation) Anne-Marie Bruist.

Reclassering Nederland merupakan organisasi independen yang memberikan advis kepada hakim, jaksa, dan kepala penjara terkait tersangka dan terpidana yang menjalani masa percobaan. Sedangkan, CILC didirikan pada 1985 oleh pemerintah Belanda untuk program kerja sama yudisial dengan Indonesia.

Sekjen Kemenkumham, Andap Budhi Revianto (kiri) mendampingi Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H. Laoly bertemu Menteri Kehakiman dan Keamanan Belanda, Dilan Yeşilgöz-Zegerius, Jumat waktu setempat (25/8/2023).

Sejak tahun 2019, Indonesia beserta Reclassering dan CILC telah bekerja sama untuk memberikan kepada pejabat dan petugas pemasyarakatan di banyak wilayah di Indonesia. Dalam pertemuan ini, ketiga pihak sepakat melanjutkan kerja sama yang berfokus pada peningkatan kapasitas SDM dalam penerapan sanksi alternatif.

“Indonesia dapat belajar dari Belanda dalam menangani tersangka dan terpidana, khususnya dalam penerapan sanksi alternatif dan kerja sosial,” jelas Yasonna.

Yasonna juga menyampaikan, bahwa Indonesia telah memiliki Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru. KUHP ini mereformasi pendekatan sistem pemasyarakatan yang mengedepankan keadilan korektif, keadilan rehabilitatif, dan keadilan restoratif.

“Kerja sama dengan Belanda dapat membantu Indonesia menyusun peraturan pelaksanaan KUHP yang baru dalam menerapkan pidana alternatif, karena Belanda telah lebih dahulu menerapkan sistem pidana alternatif dan keadilan restoratif,” imbuhnya. (*/KN)

Tinggalkan Balasan