Ketua RT dan Warga Andoolo Saling Lapor soal Dugaan Penganiayaan

KENDARINEWS.COM — Dua warga Desa Andoolo Kecamatan Andoolo Kabupaten Konawe Selatan saling lapor atas dugaan kasus penganiayaan. Mereka adalah Ruslan dan Nirman yang bertetangga di Dusun III (tiga) Desa Andoolo. Peristiwa itu terjadi di lingkungan rumah Ruslan, Jumat (20/5) sekitar pukul 02:30 Wita dini hari. Mencuat dugaan karena di desa itu akan diadakan Pilkades.

Kejadian tersebut dibenarkan Kapolsek Andoolo, AKP Juwanto. Ia mengatakan telah menerima laporan dari Ruslan (warga dusun 3 desa Andoolo) dan Namsir (ketua RT). Dirinya menambahkan, keduanya sama-sama melapor sebagai korban penganiayaan. 

Juwanto

“Laporan telah ditindaklanjuti, masing-masing yang mengaku korban telah dimintai keterangan, kini masih menunggu hasil visum. Kami juga akan mengambil keterangan semuanya (saksi),” terangnya.

Dirinya menjelaskan, akan mengusut kasus tersebut sesuai prosedur. Setelah mengambil keterangan saksi dilanjutkan dengan gelar perkara. “Gelarnya nanti bukan di kami, nanti gelarnya di Polres Konsel. Setelah terang masalahnya pasti akan disampaikan perkembangannya. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya,” ujarnya.

Terkait kronologis, pihaknya belum bisa memberikan gambaran persisnya. Mengingat keduanya punya versi masing-masing. Artinya masih subjektif.

Ruslan (duduk), warga desa Andoolo Kecamatan Andoolo Kabupaten Konawe Selatan.

“Intinya usai kejadian, keduanya saling lapor. Sama-sama merasa dianiaya. Kini masih penyelidikan. Jika semua jketerangan sudah ditarik, dan hasil visum sudah keluar, baru bisa kita rangkai secara utuh kejadiannya. Yang jelas memang ada kejadian,” bebernya.

“Sebab, tahapannya itu setelah penyelidikan, ditemukan unsur pidana, dicari siapa yang diduga melakukan perbuatan pidana, baru kita naikan ke penyidikan,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengimbau seluruh masyarakat terlibat aktif memastikan Pilkades serentak khususnya di Andoolo berjalan aman dan kondusif. “Mari bersama sama kita wujudkan Pilkades damai karena kita semua saudara. Masing-masing punya hak dan kewajiban sama sebagai warga negara, tampilkan yang terbaik. Siapapun yang menang harus diterima,” tekannya.

Sementara itu Ruslan (36) menuturkan, saat itu ia hendak pulang usai mengunjungi rumah pamannya. Setibanya dirumah, Ruslan melihat sudah ada Kades Andoolo Zainal Silondae, bersama Namsir yang merupakan ketua RT dusun tiga.

“Pak desa bertanya seorang warga bernama edi, saya jawab tidak tahu. Setelah itu pak desa kembali menyerang saya berbagai pertanyaan dengan nada keras tegas serta tendensius, menyerang pribadi saya,” ungkap Ruslan saat di temui di Polsek Andoolo usai mengajukan laporan.

Ia mengaku secara spontan mengeluarkan kalimat pembelaan dalam perdebatan itu. “Namun secara tiba-tiba Namsir menyerang dengan mencekik leher saya hingga sayapun terjatuh dan meminta pertolongan kepada adik saya,” sambung Ruslan.

Ruslan mengaku, diancam akan dihabisi. Kata Ruslan, Namsir meneriakkan kalimat “Saya bunuh kamu,” sembari mencekik lehernya.

“Saat saya kejadian pak desa tidak melerai, nanti saya beteriak meminta pertolongan kemudian adik saya keluar melerai, barulah saya mengamankan diri,” terang Ruslan.

Ia menduga motif penganiyaan karena ia beda pilihan calon kades. Ruslan mengaku dirinya terdeteksi tidak mendukung anak kades yang maju pada pilkades tahun ini yang bakal digelar hari minggu 22 mei 2022.

“Motifnya mungkin karena saya tidak mendukung anak pak desa, atau mungkin mereka berfikir saya sedang melakukan kampanye mencari dukungan. Sehingga pak desa dan Namsir mendatangi saya,” terang Ruslan.

Ia juga mengaku sebelumnya mendapat pesan Whatsap bernada ancaman. Pengirimnya tentangganya yang merupakan seorang pengacara.

” Kohianati saya brow, Saya pulang dari wakatobi liat hasilnya, kamu PKH kamu yang koordinator sinimi pale kita baku pecah, mulai besok kita baku garu,” bunyi pesan Whatsapp pengacara itu yang sempat ditunjukkannya.

Kepada pihak kepolisian, Ruslan berharap semoga pelaku secepatnya diamankan, sebab dirinya khawatir. 

“Yang jelas rasa takut, dan trauma itu ada, apalagi pelaku masih berkeliaran, tentu saya akan selalu merasa terancam,” ungkapnya. (ndi)

Tinggalkan Balasan