Di Balik Nikel, Ada 1.000 Hari Pertama Kehidupan yang Harus Dijaga

Kendarinews.com Dalam dekapan sang ibu, balita itu menggenggam erat botol susu, seolah belum mengerti bahwa masa depannya tengah dipertaruhkan. Di hadapannya, seorang dokter spesialis anak memeriksa tumbuh kembangnya dengan saksama. Di ruangan sederhana Puskesmas Baula itulah, tersirat jerih payah mencegah stunting tidak lagi sekadar menjadi angka dalam laporan pemerintah, melainkan perjuangan agar setiap anak dapat tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki masa depan yang utuh. Gagasan layanan kesehatan gratis PT Vale ini terasa tepat pada sasarannya, sebab menyentuh titik paling rawan dari siklus hidup keluarga di wilayah operasionalnya, yaitu masa kehamilan dan 1000 hari pertama kehidupan anak manusia.


BAGI sebagian orang, memeriksakan anak ke dokter spesialis adalah hal biasa. Namun, bagi sebagian ibu di Baula, itu terasa bagai kemewahan yang jauh dari jangkauan.

Beranjak dari rumahnya yang sederhana di Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, seorang calon ibu muda yang tengah mengandung, Suryani menuju pusat kesehatan dengan membawa harapan. Ia tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke kota hanya untuk mendapatkan pemeriksaan yang lebih komprehensif. Dokter spesialis anak datang langsung ke puskesmas di dekat tempat tinggalnya. Dari ruang layanan yang sederhana itu, ia ingin pulang membawa satu hal yang selama ini sulit didapatkan banyak keluarga di lingkungannya; sebuah kepastian.

Kepastian bahwa anaknya mendapat perhatian medis yang lebih memadai. Kepastian bahwa tumbuh kembang si kecil tak dibiarkan berjalan sendirian. Dan kepastian bahwa layanan kesehatan berkualitas ternyata bisa hadir lebih dekat, bahkan di wilayah yang selama ini identik dengan keterbatasan akses kesehatan.

Suryani mengaku sangat terbantu setelah mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis yang menjadi bagian dari Program Sosial Lingkungan “Kolaka Bersih, Sehat, dan Berdaya Saing”, sebuah inisiatif dari Indonesia Growth Project Pomalaa, PT Vale.

“Kalau kita mau pergi ke dokter spesialis lagi, mungkin kita pasti pikir-pikir dulu karena biaya, mana jauh. Sekarang saya bisa mendapat pemeriksaan dengan lebih tenang. Yang paling penting, saya bisa tahu kondisi saya dan bayi saya, jadi tidak terus dihantui rasa khawatir,” cerita wanita yang tengah mengandung itu.

Kisah seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun di Baula dan Pomalaa, kehadiran layanan kesehatan ibu dan anak yang diinisiasi PT Vale Indonesia Tbk membawa arti yang jauh lebih besar daripada sekadar kunjungan rutin. Program ini menjangkau ibu hamil dan balita di wilayah lingkar tambang, dua kelompok yang paling rentan ketika bicara soal stunting, gizi, dan masa depan anak.

Angkanya pun tak kecil. Berdasar hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), Sulawesi Tenggara masih mencatat prevalensi stunting 26,1 persen pada 2024, jauh di atas rata-rata nasional 19,8 persen pada tahun yang sama. Di Kabupaten Kolaka, angka stunting berada di 29,7 persen, memang turun dari 36,01 persen pada lima tahun sebelumnya, tetapi tetap menandakan bahwa persoalan ini belum selesai. Di balik angka-angka itu ada ribuan anak yang sedang tumbuh dengan risiko kehilangan kesempatan berkembang secara optimal.

Angka-angka tersebut menjadi gambaran bahwa upaya menekan stunting masih membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan. Di tengah persoalan itu, PT Vale hadir sebagai salah satu mitra strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas kesehatan masyarakat.

Bupati Kolaka, Amri dalam kesempatan Rakor Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), beberapa waktu lalu, menyebut pada fase awal, problem krusialnya adalah defisit gizi, sehingga PT Vale melakukan gerakan sosial di Kolaka dalam bentuk nutrisi langsung dengan pemberian sembako bagi sekitar 5.000 keluarga berisiko stunting selama tiga bulan secara konsekutif.

Namun stunting, sebagaimana dipahami dunia kesehatan masyarakat, penyebabnya tidak pernah tunggal. Sanitasi buruk, air tidak layak minum, kondisi kesehatan ibu turut berkontribusi pada infeksi berulang yang menghambat tumbuh kembang anak. Itulah sebabnya sembako saja tidak cukup untuk memutus rantai stunting secara tuntas.

Dalam kesempatan yang berbeda, Eksternal Relation PT Vale Indonesia IGP Pomalaa, Muh. Febrianto Raharjo, mengatakan setahun sebelumnya perusahaan telah mengalokasikan sekitar Rp500 juta untuk progam penanganan stunting. Dana disalurkan melalui koordinasi dengan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PP&KB) Kabupaten Kolaka. Sikap ini menunjukan PT Vale tetap mengikuti arah kebijakan pemerintah daerah, bukan menjalankan program secara sepihak.

Komitmen semacam ini bukan barang baru bagi PT Vale di Kolaka. Lewat program sosial lingkungan, perusahaan tambang nikel yang beroperasi di bawah payung holding BUMN pertambangan itu kembali menghadirkan layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), termasuk pemeriksaan kehamilan berisiko sejak dini. Manajemen perusahaan menjadikan ini sebagai investasi jangka panjang membangun generasi yang sehat dan berdaya saing, yang tentunya sejalan dengan prinsip ESG, yang kini menjadi tolok ukur Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan tambang.

Itulah sebabnya, program yang dihadirkan PT Vale melalui Indonesia Growth Project Pomalaa terasa relevan. Perusahaan mendatangkan dokter spesialis anak dan dokter spesialis kandungan langsung ke wilayah pemberdayaan, Puskesmas Baula dan Puskesmas Pomalaa.

Dalam setahun, ada delapan kunjungan. Empat oleh dokter spesialis anak dan empat oleh dokter spesialis obgyn, masing-masing dua kali di tiap puskesmas. Bagi warga, kehadiran itu berarti memangkas jarak, biaya, dan waktu tunggu yang selama ini menjadi tembok tak terlihat dalam akses layanan kesehatan.

Yang menarik dari program ini bukan hanya kehadiran dokter spesialisnya, tetapi juga pesan yang dibawanya, bahwa pembangunan tidak berhenti pada industri dan produksi. Ia juga harus menyentuh tubuh-tubuh kecil yang sedang bertumbuh di sekitar wilayah operasional.

Dokter Spesialis Anak, dr. Apriani Aridan, mengatakan kehadiran layanan pemeriksaan kesehatan anak dan ibu di Baula menjadi langkah penting untuk memperkuat deteksi dini sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan spesialistik. Kehadiran dokter spesialis juga melengkapi layanan di tingkat pertama yang selama ini masih terbatas.

“Selama ini di Puskesmas Baula hanya tersedia dokter umum. Namun, melalui dukungan PT Vale, dokter spesialis anak kini bisa hadir dan memberikan pelayanan langsung kepada pasien. Ini tentu sangat membantu, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut tanpa harus mencari layanan spesialistik di tempat lain,” ujar Apriani.

Stunting bukan sekadar soal tubuh anak yang lebih pendek dari seusianya. Ia adalah hasil dari kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan perawatan yang tidak optimal sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Itulah masa emas yang disebut 1.000 Hari Pertama Kehidupan, periode yang menentukan banyak hal dalam hidup seorang anak; daya tahan tubuh, kecerdasan, hingga produktivitasnya kelak saat dewasa.

Karena itu, program seperti yang dijalankan PT Vale baru benar-benar bermakna jika menjadi bagian dari upaya yang lebih luas dan berkelanjutan. Pemeriksaan dokter spesialis memang penting, tetapi pencegahan stunting juga membutuhkan pemantauan rutin di tingkat desa, penguatan posyandu, edukasi gizi keluarga, serta kehadiran kader yang sabar mendampingi ibu-ibu dari bulan ke bulan.

Di Kolaka, stunting masih menjadi pekerjaan rumah otoritas setempat. Di sinilah sinergi menjadi kata kunci. PT Vale melihat celah tersebut lalu melakukan aksi pemberian paket sembako dan nutrisi tambahan secara kontinu kepada keluarga berisiko stunting. Upaya ini terbukti membantu pemenuhan gizi dasar masyarakat.

Kepala Puskesmas Baula, Sukmawati, berharap dukungan terhadap layanan kesehatan di wilayahnya dapat terus berlanjut. Menurutnya, kehadiran program tersebut tidak hanya memperluas akses masyarakat, tetapi juga mulai mendorong peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan di Puskesmas Baula.

“Dulu kunjungan masyarakat ke Puskesmas Baula masih relatif rendah. Sekarang, dengan adanya keterlibatan PT Vale, pelayanan kesehatan menjadi lebih dekat dan mudah dijangkau. Masyarakat juga semakin merasakan manfaatnya, sehingga kami berharap program seperti ini dapat terus dilanjutkan,” ungkapnya.

Selain itu, Penanggungjawab medis PT Vale IGP Pomalaa, dr. Fathrurahman memberikan pandangan teknis yang cukup menyentuh akar persoalan agar bagaimana intervensi bekerja di titik layanan, benar-benar berkelanjutan dan bukan seremoni sesaat.

Menurutnya, perlu pelibatan dokter spesialis anak dan kandungan untuk mendeteksi masalah kesehatan ibu dan anak sedini mungkin. “Ini sebetulnya langkah preventif, stunting itu mulai terbentuk sejak masa kehamilan, bukan setelah anak lahir,” jelasnya.

Bagi dr. Fathurrahman yang membedakan program kali ini dari sekadar bakti sosial ialah penanganan tidak berhenti di pemeriksaan awal. “Jadi, anak yang terdiagnosis stunting akan mendapat pendampingan lanjutan, artinya kehadiran mereka para dokter spesialis ini, bukan kunjungan satu kali yang berhenti begitu kamera dokumentasi dimatikan, melainkan pintu masuk bagi rangkaian penanganan yang terus dipantau,” urainya.

Program PT Vale telah membuka pintu. Langkah berikutnya adalah memastikan pintu itu tidak hanya terbuka sesekali, tetapi menjadi jalur yang menghubungkan layanan spesialis, puskesmas, kader posyandu, pemerintah daerah, dan keluarga sasaran. Dengan begitu, pemeriksaan yang datang berkala tidak berhenti sebagai kunjungan simbolik, melainkan menjadi bagian dari sistem yang benar-benar menolong anak-anak tumbuh lebih sehat.

Dari sudut pandang hilirisasi, inilah nilai yang sering luput. Hilirisasi nikel biasanya dibicarakan dalam bahasa investasi, kapasitas produksi, dan nilai tambah ekonomi. Namun di Baula dan Pomalaa, ada bentuk nilai lain yang tak kalah penting, anak-anak yang lebih sehat, ibu-ibu yang lebih tenang, dan keluarga yang merasa tidak ditinggalkan oleh pembangunan.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah industri tidak hanya terlihat dari ton bijih yang diolah, tetapi juga dari generasi yang tumbuh di sekitarnya. Jika anak-anak di lingkar tambang bisa bertambah tinggi, sehat, dan kuat, maka di sanalah hilirisasi menunjukkan wajah paling manusiawinya.

Dan mungkin, dari bilik sempit Puskesmas Baula, masa depan mulai terasa lebih dekat. Ketika seorang ibu tidak lagi harus memilih antara harapan dan jarak, karena layanan yang ia butuhkan telah datang menghampirinya.

PT Vale mungkin mengolah nikel menjadi nilai tambah. Namun, nilai yang paling berarti adalah ketika sebagian dari nilai itu kembali menjadi harapan bagi mereka yang hidup di sekitarnya.(agr/kn)

*Penulis: LM. Syuhada Ridzky/Kendari News
*Tulisan feature ini disertakan dalam Vale writing competition 2026

Tinggalkan Balasan