Upah Minimum Inggris Naik 4,1% Mulai April 2026

KENDARINEWS.COM — Pemerintah Inggris mengumumkan kenaikan upah minimum utama sebesar 4,1% menjadi 12,71 pound per jam (sekitar Rp279.000) mulai April 2026. Pengumuman ini disampaikan pada Rabu lalu, mengutip laporan Reuters, Jumat (28/11/2025).

Kenaikan upah minimum Inggris ini menjadi yang tertinggi kedua di Eropa dibandingkan upah rata-rata dan tercatat meningkat lebih dari 60% sejak 2019. Jika dihitung delapan jam per hari selama 24 hari kerja, para pekerja Inggris akan memperoleh sekitar Rp53 juta per bulan.

Menteri Keuangan Inggris, Rachel Reeves, menekankan bahwa kenaikan ini diperlukan agar pekerja berpenghasilan rendah menerima imbalan yang layak atas kerja keras mereka. “Agar mereka yang berpenghasilan rendah mendapatkan imbalan yang layak atas kerja keras mereka,” ujarnya.

Kenaikan upah sebelumnya sebesar 6,7% telah diberlakukan awal tahun ini. Kenaikan terbaru akan menguntungkan 2,4 juta pekerja berusia 21 tahun ke atas, sementara 300.000 pekerja magang dan pekerja di bawah 21 tahun akan mendapatkan kenaikan antara 6,0%-8,5%.

Reeves menambahkan, biaya hidup masih menjadi masalah utama bagi para pekerja, dan perekonomian belum berjalan cukup baik bagi mereka yang berpenghasilan terendah.

Namun, keputusan kenaikan ini menuai kritik dari industri perhotelan. Mereka memperingatkan bahwa biaya tambahan akan dibebankan ke konsumen, yang berpotensi memicu inflasi. Ketua badan perdagangan UKHospitality, Kate Nicholls, menyatakan, “Bisnis perhotelan telah mencapai batasnya dalam menyerap biaya tambahan yang tampaknya tak terbatas. Semua biaya tersebut akan dibebankan kepada konsumen, yang pada akhirnya memicu inflasi.”

Selain itu, kenaikan gaji yang lebih tinggi bagi pekerja kurang berpengalaman dipandang dapat menyulitkan kaum muda untuk mendapatkan pekerjaan.

Inggris saat ini memiliki tingkat inflasi tertinggi di antara negara-negara maju utama. Pada Oktober 2025, inflasi tercatat 3,6%, sebagian dipicu oleh pertumbuhan upah yang lebih cepat sejak pandemi COVID-19.

Meskipun Bank of England memperkirakan inflasi akan kembali ke target 2% pada pertengahan 2027, banyak pembuat kebijakan berpendapat bahwa pertumbuhan upah yang lebih cepat dari sekitar 3% akan menyulitkan pencapaian target tersebut, apalagi produktivitas terus melemah.

Para pengusaha juga menyebut bahwa biaya tenaga kerja yang lebih tinggi telah menurunkan perekrutan tahun ini. Tingkat pengangguran naik ke level tertinggi sejak 2021, yakni 5,0%. (CNBC Indonesia)

Tinggalkan Balasan