KENDARINEWS.COM- – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Pemprov Sultra) mengambil langkah strategis dalam upaya membangkitkan sektor perkebunan melalui program hilirisasi yang komprehensif. Gubernur Andi Sumangerukka dan Wakil Gubernur Hugua menargetkan peningkatan signifikan nilai ekonomi komoditas unggulan daerah, seperti kelapa, tebu, mete, dan kakao, dengan membangun sistem hilirisasi perkebunan rakyat yang berkelanjutan.

Inisiatif ini diwujudkan melalui serangkaian program yang dirancang untuk memberdayakan petani, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan nilai tambah produk perkebunan. Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, Dr. Laode Muhammad Rusdin Jaya, menjadi motor penggerak dalam mengimplementasikan visi gubernur untuk mengembalikan kejayaan tanaman unggulan Bumi Anoa.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra, sektor perkebunan memiliki potensi besar dalam meningkatkan perekonomian daerah. Produksi kakao pada tahun 2024 mencapai 98.891 ton dengan luas tanam 216.967 hektar. Meskipun sedikit menurun dibandingkan tahun 2023 yang mencatat 101.736 ton dengan luas tanam 220.387 hektar, kakao tetap menjadi salah satu komoditas andalan Sultra.
Sementara itu, produksi jambu mete menunjukkan tren positif dengan peningkatan dari 33.502 ton pada tahun 2023 (luas tanam 108.791 hektar) menjadi 44.111 ton pada tahun 2024 (luas tanam 104.584 hektar). Kelapa juga menjadi komoditas penting dengan produksi 42.278 ton pada tahun 2024 (luas tanam 60.118 hektar), sedikit menurun dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 44.677 ton (luas areal tanam 60.648 hektar).
Dr. Rusdin Jaya menekankan bahwa angka-angka ini akan terus ditingkatkan melalui berbagai upaya, termasuk peningkatan kapasitas petani, pendampingan intensif, dan pemberian bantuan yang tepat sasaran.
Untuk mencapai target hilirisasi, Pemprov Sultra telah menyusun strategi yang melibatkan berbagai aspek, antara lain:
1. Peningkatan Kapasitas Petani: Melalui pelatihan dan penyuluhan, petani diberikan pengetahuan dan keterampilan baru dalam teknik budidaya yang lebih efisien, pengelolaan hama dan penyakit, serta praktik pasca panen yang baik.
2. Penyediaan Benih Unggul: Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra menyediakan benih unggul yang tahan terhadap penyakit dan memiliki produktivitas tinggi. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan hasil panen petani secara signifikan.
3. Pendampingan Intensif: Petugas lapangan secara rutin mendampingi petani dalam setiap tahapan produksi, mulai dari penanaman hingga pemasaran. Pendampingan ini bertujuan untuk memastikan petani menerapkan praktik terbaik dan mengatasi masalah yang mungkin timbul.
4. Bantuan Alat dan Mesin Pertanian: Pemprov Sultra memberikan bantuan alat dan mesin pertanian modern kepada kelompok tani. Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi kerja petani dan mengurangi biaya produksi.
5. Penguatan Hilirisasi Produk: Salah satu fokus utama adalah mengembangkan industri pengolahan produk perkebunan di daerah. Hal ini dilakukan dengan menggandeng investor dan memberikan insentif kepada pelaku usaha yang ingin membangun pabrik pengolahan di Sultra.

Selain fokus pada perkebunan, Pemprov Sultra juga berupaya mengendalikan inflasi dengan mendorong perkembangan sektor hortikultura. Gubernur Andi Sumangerukka telah menginstruksikan Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra untuk menggenjot produksi komoditas seperti tomat, cabe, dan sayuran lainnya.
Sebagai langkah awal, Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra telah menanam 600 bibit tomat di Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Balai Benih Induk Hortikultura (BBIH) di Konawe Selatan. Tanaman ini nantinya dapat diperoleh warga yang ingin membudidayakannya.
“Kami ingin memberikan kemudahan kepada petani dan masyarakat yang ingin menanam tomat atau cabe. Kami siapkan bibit yang siap tanam, sehingga mereka tidak perlu lagi repot menanam dari biji,” ujar Dr. Rusdin Jaya.
Pada tahun 2026, Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra berencana membangun dua unit screen house di Konawe dan BBIH. Screen house ini akan digunakan untuk memproduksi benih dan bibit berkualitas tinggi yang akan didistribusikan kepada petani.
Selain itu, Pemprov Sultra juga akan terus menggelar kegiatan pasar tani, gerakan tanam cabe dan tomat, serta panen raya tanaman hortikultura di daerah-daerah sentra produksi. Melalui berbagai upaya ini, diharapkan inflasi di Sultra dapat terkendali dan kesejahteraan petani dapat meningkat.
Dengan komitmen yang kuat dan strategi yang terarah, Pemprov Sultra optimis dapat mewujudkan hilirisasi perkebunan rakyat yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani di Bumi Anoa. (rls)










































