Menteri Tito Kaget, Harga Beras di Butur Capai Rp 18.750 Per Kilogram

KENDARINEWS.COM– Harga kebutuhan pokok terus melonjak selama bulan suci Ramadan tahun 2023. Terutama komoditas beras. Situasi itu memicu terjadinya inflasi. Hal inilah yang terjadi di Buton Utara, harga beras menyentuh angka Rp 18.750 per kilogram.

Sekda Sultra, Asrun Lio (dua dari kanan) saat mengikuti Rakor Pengendalian Inflasi
dan High Level Meeting (HLM) secara nasional yang dipimpin Mendagri Tito Karnavian melalu rapat virtual, Senin (27/3), kemarin.

Kondisi itu membuat Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian terhenyak. Ia mengatakan harga beras di Butur tertinggi secara nasional. “Inflasi tertinggi khusus untuk komoditas beras tertinggi di Buton Utara dan Sumatera Barat, ” ujarnya saat rapat koordinasi (Rakor) pengendalian inflasi dan High Level Meeting (HLM) bersama pemerintah provinsi, kabupaten/kota dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) secara nasional. Rakor tersebut diikuti Sekretaris Daerah (Sekda) Sultra, Asrun Lio, pejabat terkait dan Forkopimda Sultra secara virtual di Rujab Gubernur Sultra, Senin (27/3), kemarin

Mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) itu meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra dan seluruh pemerintah kabupaten/kota di Sultra untuk bersatu menekan dan mengendalikan inflasi. Menteri Tito meminta pemerintah daerah (pemda) untuk menggunakan biaya tak terduga (BTT) yang melekat dalam anggaran daerah masing-masing.

“Kita sudah sampaikan bila terjadi inflasi, bisa menggunakan BTT. Sebab, ada beberapa daerah yang stoknya melimpah, sehingga daerah yang kekurangan bisa menghubungi daerah yang berlebih. Bahkan untuk menjaga harga tetap stabil sampai ke pedagang, pemda bisa menggunakan BTT untuk mensubsidi transportasi penyediaan bahan pangan,” jelas Menteri Tito.

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu menuturkan, berdasarkan laporan yang diterimanya, produksi komoditas pertanian saat ini masih surplus. Namun banyak daerah mengalami defisit. Karena itu, pemda melalui Disperindag harus turun mengecek komoditas kebutuhan pokok terdistribusi secara baik atau tidak oleh distributor.

“Awasi distribusinya. Jangan sampai ditahan. Jika ditemukan ada yang menahan stok (kebutuhan pokok) akan diberi sanksi tegas karena melanggar hukum. Penegakan hukum perlu jadi perhatian bagi mereka yang menimbun stok,” tegas Menteri Tito.

Sementara itu, Sekda Sultra, Asrun Lio mengatakan, berdasarkan hasil pertemuan bersama Mendagri, terdapat 114 daerah di Indonesia surplus komoditas kebutuhan pokok. Daerah yang defisit harus membuat surat permintaan ke daerah-daerah surplus untuk memenuhi kebutuhan daerahnya.

“Sejak inflasi menjadi perhatian nasional sudah dikeluarkan surat edaran Mendagri untuk penggunaan biaya tak terduga (BTT). Biaya itu digunakan untuk subsidi biaya transportasi
permintaan bahan kebutuhan pokok di daerah surplus. Tujuannya agar harga kebutuhan pokok tetap normal ketika tiba di daerah defisit. Itulah bentuk intervensi pemerintah,” jelas Sekda Asrun Lio, kemarin.

Mantan Kepala Dinas Dikbud Sultra itu menuturkan, harga beras melonjak terjadi juga di Kabupaten Wakatobi, Buton Tengah, Muna dan Kolaka Utara. Hanya saja, harga beras di Butur yang paling tinggi sehingga ini menjadi sorotan nasional. Harga beras di Butur mencapai Rp18.750 per kilogram. Padahal harga normalnya, untuk beras premium tertinggi sekira Rp13 ribu per kilogram dan beras medium sekira Rp10-an ribu per kilogram.

“Saya sudah instruksikan Sekda Butur agar segera melakukan interferensi (campur tangan), namun kendala mereka terkait anggaran. Pemerintah sudah memberi ruang untuk menggunakan BTT dalam penanganan inflasi. Sehingga hal ini tak menjadi masalah berlarut, ” tutur Sekda Asrun sembari mengimbau TPID Sultra untuk menggelar pasar murah di Butur agar harga kembali stabil.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra, Sitti Saleha mengakui harga melonjak pada beberapa komoditas. Karena itu, Sitti Saleha bersama TPID Sultra menggelar pasar murah dan memantau harga-harga kebutuhan pokok melalui sidak di pasar-pasar.

“Kita juga sudah tegaskan akan memberi sanksi kepada distributor jika terbukti menimbun stok bahan pangan. Namun sejauh ini belum ada laporan terkait itu,” ujar Sitti Saleha.

Untuk diketahui, sebelum bulan suci Ramadan, Satgas TPID Sultra bersama Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sultra turun ke lapangan dan memastikan harga bahan pangan di pasar-pasar.
TPID yang dipimpin Kepala Disperindag Sultra, Sitti Saleha blusukan di Pasar Mandonga, Gudang Bulog dan Hypermart The Park Kendari.

Tim memastikan stok sembako aman dan harga sembako fluktuatif. Harga cabai rawit di pasar tradisional melonjak hingga 50 persen. “Kisaran harganya naik sekira Rp70 ribu dari harga normalnya Rp35 ribu,” ujar Sitti Saleha saat itu.

Masih di pasar tradisional, harga daging sekira Rp135 ribu per kilogram. Harga daging beku di Hypermart sekira Rp80 ribu per kilogram. “Harga bawang Rp35 ribu per kilogram. Sementara ikan kembung Rp35 ribu per kilogram dan telur ayam sekira Rp55 ribu. Kedua komoditas ini ada kenaikan,” tandas Sitti Saleha. (kn)

Tinggalkan Balasan