Lahan Luas, Petani di Baubau Kurang


KENDARINEWS.COM — Baubau menjadi salah satu kota jasa di Sulawesi Tenggara (Sultra) karena memiliki pelabuhan tol nasional dan Bandara. Hal tersebut membuat daerah itu menjadi penyangga bagi wilayah lain untuk berbagai kebutuhan primer hingga tersier. Terlebih dalam urusan pangan dan bahan makanan olahan, Baubau selalu menjadi tujuan belanja.

Kondisi tersebut membuat kota yang pernah menjadi ibu kota provinsi Sultra sulit mencapai swasembada pangan. Sebab ketersediaan bahan Sembako di pasar tidak hanya memenuhi kebutuhan warga metro, melainkan juga daerah tetangga seperti Buton, Buton Selatan, Buton Tengah hingga Pulau Muna. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Baubau, Muhammad Rais, mengatakan, daerah itu sebenarnya punya potensi lahan pertanian yang masih terbilang luas. Hanya saja lahan-lahan tersebut belum dikelola petani, bahkan banyak diantaranya dibiarkan menjadi lahan “tidur”.

Para petani di Kelurahan Karing-karing, Kecamatan Bungi mulai menanami lahan persawahannya. Mereka adalah pemasok utama kebutuhan beras di Kota Baubau

“Masih sangat banyak yang tidak diolah, utamanya di Kecamatan Sorawolio. Padahal banyak komoditas yang cocok dikembangkan di sana, misalnya bawang merah,” katanya, Jumat (4/2). Lahan persawahan yang ada di Kota Baubau tercatat sekitar 1.300 hektare dan paling luas ada di kawasan Karing-karing, Kecamatan Bungi. Padahal jika diolah maksimal, kebutuhan beras dan jumlah warga kota hampir seimbang. “Tapi itu tadi, bukan hanya orang Baubau yang beli, dari luar juga. Jadi sangat sulit kita mau target swasembada beras, makanya banyak masuk beras dari luar, misalnya dari Selatan,” terang Muhammad Rais.

Persoalan mendasar lanjut Rais mengapa Baubau sulit swasembada pangan karena kurangnya tenaga kerja. Warga yang punya lahan justru lebih dominan mencari kerja di kantoran atau sebagai pekerja serabutan, dibanding mengelola lahan pertanian.
“Di Karing-karing misalnya, itu sempat kewalahan panen saat covid kemarin, tidak ada pekerja yang biasanya datang dari Muna Barat. Beruntung ada bantuan alat dari Pemerintah Pusat sebagai respon dari usulan kita, sehingga panennya terbantu. Itu baru masalah sawah, lain lagi dengan lahan-lahar tidur. Orangnya yang tidak mau olah,” paparnya. (b/mel/lyn)

Tinggalkan Balasan