Kendarinews.com — Persaingan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di era digital kini tidak lagi hanya ditentukan oleh rasa dan kualitas produk.
Sebelum membeli atau mencicipi sebuah produk, konsumen justru lebih dulu melihat tampilannya melalui layar ponsel. Kondisi tersebut membuat kemampuan menampilkan produk secara menarik di ruang digital menjadi semakin penting.
Melihat perubahan perilaku konsumen tersebut, Perum LKBN ANTARA Biro Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berkolaborasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari menggelar pelatihan fotografi produk bagi 50 pelaku UMKM di Kota Kendari.
Pelatihan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam menghasilkan foto produk yang menarik sekaligus memperkuat strategi pemasaran melalui berbagai platform digital.
Kepala Bidang Pemberdayaan UMKM Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kota Kendari, Machlil, mengatakan kemampuan menampilkan produk secara visual menjadi kebutuhan penting seiring semakin berkembangnya pemasaran digital.
“Kami sangat terbantu dengan kegiatan ini. Pelaku UMKM memang harus terus diberikan pelatihan agar produk yang mereka hasilkan terlihat menarik dan mampu memikat minat konsumen,” ujar Machlil saat ditemui di Kendari, Rabu.
Menurutnya, pertumbuhan usaha di Kota Kendari yang semakin pesat harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi para pelaku UMKM.
Produk berkualitas, kata dia, akan lebih mudah menjangkau pasar yang lebih luas apabila didukung kemampuan promosi yang baik.
Foto Produk Jadi Etalase Pertama UMKM
Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Sultra, Zabur Karuru, menilai kemampuan menghasilkan foto produk yang menarik kini menjadi bagian dari strategi bisnis yang tidak bisa dianggap sepele.
“Di era sekarang, kalau foto tidak menarik, kita tidak mau beli. Sekarang ini eranya visual,” katanya.
Zabur menjelaskan, perubahan perilaku konsumen membuat tampilan produk di ruang digital menjadi seperti etalase pertama bagi pelaku usaha.
Sebelum mengambil keputusan membeli, konsumen biasanya akan melihat foto produk, membaca keterangannya, kemudian mempertimbangkan ulasan dari pembeli lainnya.
Bahkan, produk makanan yang memiliki cita rasa baik sekalipun berpotensi kehilangan calon pembeli apabila tidak mampu ditampilkan secara menarik di media digital.
Karena itu, peserta pelatihan tidak hanya diberikan pemahaman mengenai teknik dasar fotografi, tetapi juga diajak memanfaatkan benda dan kondisi sederhana yang tersedia di rumah untuk menghasilkan foto produk yang lebih estetis dan memiliki nilai jual.
ANTARA turut menugaskan fotografer untuk mendampingi peserta secara langsung. Para pelaku UMKM dapat berkonsultasi mengenai teknik pengambilan gambar hingga pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai bagian dari komposisi foto.
“Misalnya teknik memotret yang baik, bagaimana memanfaatkan sekitar yang ada di rumah supaya produk yang ingin ditampilkan itu menarik,” jelas Zabur.
Tak Cukup Foto Menarik, UMKM Harus Saling Mendukung
Menurut Zabur, kemampuan visual bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan pelaku UMKM.
Ia juga mengingatkan 50 peserta untuk membangun ekosistem UMKM yang saling mendukung, terutama melalui interaksi positif di ruang digital.
Komentar dan ulasan pelanggan dinilai memiliki pengaruh besar terhadap keputusan calon konsumen. Komentar negatif mengenai pelayanan maupun kualitas produk dapat membuat calon pembeli beralih ke produk lain yang semakin banyak tersedia di pasar digital.

“50 UMKM di sini harus saling mendukung, saling komen ketika ada makanan yang enak. Jangan saling menjatuhkan,” ujarnya.
Zabur berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada transfer pengetahuan mengenai fotografi, tetapi menjadi awal terbentuknya jejaring antarpelaku UMKM di Kota Kendari.
ANTARA Biro Sultra juga membuka peluang keberlanjutan program melalui fasilitasi publikasi dan promosi media serta penyediaan ruang pemasaran bagi produk UMKM di area kantor biro.
“Harapannya ada ilmu yang didapat, kita saling mendukung, dan mudah-mudahan ke depan kami di ANTARA bisa lebih banyak lagi membantu UMKM,” katanya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen ANTARA untuk tidak hanya menjalankan fungsi pemberitaan, tetapi juga mengambil peran dalam mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui program TJSL.
Bagi para pelaku UMKM, pelatihan ini menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan perilaku konsumen, kualitas produk harus berjalan beriringan dengan kualitas cara produk tersebut diperkenalkan kepada publik.
Di era digital, rasa dan kualitas tetap menjadi modal utama. Namun, foto produk yang menarik bisa menjadi pintu pertama untuk membuat konsumen tertarik mencoba. (jib)










































