KENDARINEWS.COM-Transformasi digital terus menjadi kebutuhan strategis bagi industri pertambangan dalam menghadapi tuntutan efisiensi operasional, kepatuhan regulasi, dan tata kelola perusahaan yang berkelanjutan. Menjawab kebutuhan tersebut, Fisca Group melalui Skyrocketed.id menghadirkan Mine-O, sebuah solusi Enterprise Resource Planning (ERP) System yang dikembangkan untuk mendukung operasional perusahaan pertambangan secara terintegrasi.
Platform digital tersebut mengintegrasikan berbagai fungsi bisnis ke dalam satu sistem terpusat, mulai dari pengelolaan keuangan, sumber daya manusia, rantai pasok (supply chain), aspek legal, hingga pengelolaan data kehutanan dan wilayah konsesi pertambangan. Seluruh modul Mine-O dikembangkan agar selaras dengan kebutuhan operasional industri sekaligus memenuhi standar kepatuhan terhadap berbagai regulasi yang berlaku.
CEO & Founder Fisca Group, Azwar Amiruddin, mengungkapkan bahwa Mine-O telah diimplementasikan oleh sejumlah perusahaan pertambangan di Sulawesi Tenggara. Meski demikian, ia tidak merinci identitas maupun jumlah perusahaan pengguna sebagai bagian dari komitmen menjaga kerahasiaan bisnis para klien.
Menurut Azwar, keunggulan utama Mine-O tidak hanya terletak pada digitalisasi proses bisnis, tetapi juga pada kemampuannya memastikan seluruh aktivitas perusahaan berjalan sesuai standar operasional serta ketentuan hukum yang berlaku.
“Mine-O bukan sekadar sistem administrasi perusahaan, tetapi merupakan platform yang mendukung penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Seluruh modul dirancang agar selaras dengan regulasi di bidang keuangan, perpajakan, pertambangan, maupun kehutanan,” ujarnya.
Mine-O terdiri atas berbagai modul yang saling terintegrasi, di antaranya modul Financial Management, Exploration, Production & Operations, Legal Management, Human Resources Management, serta Forestry Compliance.
Salah satu fitur yang menjadi pembeda adalah Forestry Compliance Module, yang dirancang untuk membantu perusahaan mengelola kewajiban di bidang kehutanan secara lebih sistematis. Modul ini terintegrasi dengan data spasial dan sistem pemetaan kawasan hutan sehingga memungkinkan perusahaan melakukan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan agar tetap berada dalam batas wilayah izin yang dimiliki.
Menurut Azwar, fitur tersebut menjadi sangat relevan di tengah meningkatnya pengawasan terhadap pemanfaatan kawasan hutan, termasuk melalui program penertiban kawasan hutan oleh pemerintah. Dengan dukungan sistem digital yang terintegrasi, perusahaan dapat meminimalkan potensi pelanggaran administratif maupun operasional yang berkaitan dengan batas konsesi dan penggunaan kawasan hutan.
“Melalui modul ini, perusahaan dapat memastikan setiap aktivitas operasional tetap berada dalam koridor perizinan serta memenuhi ketentuan kehutanan yang berlaku. Hal ini juga memberikan nilai tambah bagi investor maupun pemegang saham karena aspek kepatuhan perusahaan dapat terdokumentasi secara lebih baik,” jelasnya.
Selain mendukung aspek kehutanan, Mine-O juga dilengkapi Legal Management Module yang berfungsi sebagai pusat administrasi seluruh dokumen hukum perusahaan, termasuk kontrak bisnis, perizinan, perjanjian kerja sama, hingga dokumen kepatuhan lainnya dalam satu repositori digital yang terintegrasi.
Sementara itu, Human Resources Module mendukung pengelolaan sumber daya manusia secara menyeluruh, mulai dari administrasi kepegawaian, penggajian (payroll), absensi, hingga pengelolaan hubungan industrial.
Pada sisi operasional, modul eksplorasi, produksi, dan keuangan dirancang untuk menghasilkan data yang akurat dan real time sehingga mampu mendukung proses pengambilan keputusan manajemen sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Azwar menambahkan bahwa salah satu nilai strategis Mine-O adalah kemampuannya mendukung penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) secara lebih efektif. Seluruh data yang dihasilkan dari masing-masing modul akan terintegrasi dan menjadi dasar penyusunan dokumen RKAB sesuai kebutuhan perusahaan.
“Data keuangan akan langsung terkoneksi dengan matriks financial dalam RKAB, sementara data produksi, eksplorasi, kehutanan, legal, maupun ketenagakerjaan akan membentuk matriks teknis yang dibutuhkan dalam penyusunan RKAB. Dengan demikian, proses penyusunannya menjadi lebih efisien, akurat, dan terdokumentasi dengan baik,” terangnya.
Ia menjelaskan, modul RKAB ditempatkan sebagai tahap akhir dalam arsitektur Mine-O karena seluruh informasi yang diperlukan telah dikompilasi secara otomatis dari setiap modul sebelumnya.
“Selama ini banyak perusahaan menggunakan aplikasi yang berdiri sendiri-sendiri sehingga data harus dihimpun kembali secara manual. Mine-O mengintegrasikan seluruh fungsi tersebut dalam satu platform sehingga seluruh proses bisnis perusahaan dapat berjalan lebih efektif, terdokumentasi, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data,” pungkas Azwar. (Ris)









































