BI Sultra Ajak Anak Muda Kuasai Design Thinking

KENDARINEWS. COM–Perpustakaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar kegiatan Bedah Buku bertajuk Design Thinking & Journaling yang melibatkan sejumlah komunitas literasi di Kota Kendari, yakni Kendari Book Party, Ramu Club, dan Sewa Buku Kendari, Sabtu (20/6).

Kegiatan yang berlangsung di salah satu kafe di Kota Kendari tersebut diikuti sekitar 50 peserta yang didominasi mahasiswa dan generasi muda. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami konsep design thinking sebagai pendekatan untuk melahirkan ide, inovasi, dan solusi kreatif dalam berbagai bidang kehidupan.

Pada kesempatan tersebut, peserta mengulas buku Design Thinking for Business Growth karya Michael Lewrick yang membahas strategi pengembangan bisnis melalui pendekatan berpikir inovatif di tengah pesatnya transformasi digital.

Narasumber kegiatan, Fauzan Karim, alumni Young Impact Generator, menjelaskan bahwa buku tersebut memberikan gambaran komprehensif mengenai pentingnya perubahan pola pikir dalam menghadapi tantangan dan peluang di era digital.

Menurutnya, design thinking tidak hanya berbicara tentang metode menciptakan produk atau layanan, tetapi juga mendorong transformasi organisasi secara menyeluruh, mulai dari perubahan cara berpikir hingga penerapan berbagai perangkat pendukung dalam proses bisnis.

“Buku ini mengulas secara detail berbagai alat dan metode yang dapat diterapkan untuk mendorong transformasi organisasi dan bisnis melalui pendekatan design thinking. Yang menarik, transformasi yang ditawarkan tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga menyentuh perubahan mindset, skillset, hingga toolset yang dibutuhkan dalam menghadapi perkembangan zaman,” ujar Fauzan.

Ia menambahkan, salah satu pokok bahasan penting dalam buku tersebut adalah pergeseran model organisasi dari sistem yang berorientasi pada komando menuju organisasi yang lebih lincah (agile), kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan.

“Peran pemimpin saat ini juga mengalami perubahan. Jika dahulu pemimpin identik dengan sosok yang memberi instruksi, kini mereka dituntut menjadi orkestrator yang mampu menghubungkan berbagai pihak, membangun jejaring, dan menciptakan kolaborasi. Di tengah persaingan yang semakin terbuka, kemampuan berkolaborasi menjadi faktor yang sangat menentukan,” katanya.

Fauzan menilai konsep design thinking relevan diterapkan tidak hanya dalam dunia bisnis, tetapi juga dalam berbagai aktivitas sosial maupun pengembangan diri generasi muda. Pendekatan tersebut, kata dia, membantu seseorang memahami akar persoalan sebelum menentukan solusi yang tepat.

“Sering kali kita terburu-buru menawarkan solusi tanpa benar-benar memahami masalah yang dihadapi. Padahal, design thinking mengajarkan pentingnya empati, mendengarkan, dan menggali persoalan secara mendalam agar solusi yang dihasilkan benar-benar menjawab kebutuhan,” jelasnya.

Selain pemaparan materi, peserta juga diajak mempraktikkan langsung konsep design thinking melalui penggunaan persona canvas. Metode tersebut digunakan untuk membantu peserta mengenali kondisi, tujuan, serta tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pendekatan tersebut, peserta didorong untuk memahami diri mereka secara lebih mendalam sebagai langkah awal dalam merumuskan solusi yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan masing-masing.

“Konsep ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak hanya berguna bagi pelaku usaha, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin menyelesaikan persoalan secara lebih terstruktur. Dengan memahami diri sendiri dan lingkungan sekitar, kita dapat menentukan langkah yang lebih tepat dalam mencapai tujuan,” tutup Fauzan.

Melalui kegiatan ini, KPw BI Sultra berharap budaya literasi di kalangan generasi muda semakin berkembang, sekaligus mendorong lahirnya individu-individu yang kreatif, inovatif, dan mampu beradaptasi dengan dinamika perubahan di era digital.(abd)

Tinggalkan Balasan