AS Kuasai 46% Impor Senjata Eropa, Ketergantungan Pertahanan UE Disorot di MSC 2026

KendariNews.com— Pertemuan para pemimpin dunia dalam Munich Security Conference (MSC) 2026 yang dimulai Jumat (6/2/2026) menempatkan isu keamanan trans-Atlantik dan masa depan pertahanan Uni Eropa sebagai agenda utama. Dalam forum ini, semakin menguat sinyal bahwa Eropa mulai mempertanyakan ketergantungannya terhadap Amerika Serikat, terutama di sektor industri pertahanan.

Selama setahun terakhir, Uni Eropa mendorong pembentukan strategi pertahanan yang lebih mandiri sekaligus memperkuat industri pertahanan regional. Dorongan ini muncul di tengah sikap pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilai semakin transaksional, baik dalam isu negosiasi Rusia–Ukraina maupun ketegangan geopolitik lain, termasuk polemik Greenland.

Meski belum dinyatakan secara resmi, sejumlah langkah Uni Eropa mengindikasikan keinginan untuk melepaskan ketergantungan jangka panjang terhadap Amerika Serikat. Namun, data perdagangan senjata global menunjukkan bahwa jalan menuju kemandirian tersebut tidaklah mudah.

Analisis DW berdasarkan data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan dominasi Amerika Serikat dalam pasar senjata global dan Eropa. Sejak 1950, SIPRI melacak perdagangan senjata konvensional utama seperti pesawat tempur, sistem pertahanan udara, kendaraan lapis baja, hingga satelit dan sensor.

Amerika Serikat tercatat sebagai pengekspor senjata terbesar dunia selama lebih dari dua dekade dengan pangsa pasar 35%. Posisi berikutnya ditempati Rusia (21%), Prancis (8%), Jerman (7%), dan Cina (5%). Secara kolektif, lima negara tersebut memasok 74% perdagangan senjata global sepanjang periode 2000–2024.

Di sisi impor, ketergantungan Eropa terhadap AS terlihat sangat signifikan. Sepanjang 2000–2024, 46% senjata yang diimpor Eropa berasal dari Amerika Serikat, sementara Asia mengimpor sekitar 35% dari AS. Pada periode 2020–2024, persentase tersebut bahkan meningkat, menegaskan posisi AS sebagai mitra utama perdagangan senjata.

Ilmuwan politik dari German Council on Foreign Relations, Aylin Matle, menilai ketergantungan ini sulit diubah dalam waktu dekat.
“Tidak ada cara untuk mengubah ketergantungan terhadap Amerika Serikat dalam waktu dekat,” ujarnya. dikutip dari detiknews.com

Ia mencontohkan pembelian jet tempur F-35 oleh banyak negara Eropa yang membuat mereka terikat selama setidaknya satu dekade pada rantai pasok AS.

Ketergantungan ini juga dirasakan negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Filipina, yang sangat mencermati sikap AS terhadap sekutunya. Menurut Aylin, kembalinya Trump ke Gedung Putih menimbulkan kegelisahan, baik terkait industri pertahanan maupun jaminan keamanan jika terjadi konflik besar, termasuk dengan Cina.

Sejumlah negara mencoba mengurangi risiko dengan mendiversifikasi pemasok senjata, seperti Yunani, Qatar, dan India. Namun, menurut peneliti senior SIPRI Pieter Wezeman, strategi ini dapat menjadi “mimpi buruk” dari sisi logistik dan operasional.

Uni Eropa sendiri tengah menyiapkan strategi Readiness 2030, yang bertujuan memperkuat industri pertahanan kawasan melalui pendanaan dan insentif investasi. Meski dinilai mampu memenuhi kebutuhan militer internal, tantangan baru muncul, terutama ketergantungan pada logam tanah jarang yang saat ini didominasi Cina.

“Jika Eropa ingin mandiri dari industri pertahanan AS, ada risiko justru muncul ketergantungan baru,” kata Aylin.

Hal ini menunjukkan bahwa upaya membangun kemandirian pertahanan Eropa bukan sekadar persoalan industri, melainkan juga strategi geopolitik jangka panjang. (ris)

sumber : DetikNews.com

Tinggalkan Balasan