KENDARINEWS.COM — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela telah menyepakati penyerahan antara 30 hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat, dalam sebuah langkah yang mendapat sorotan luas di panggung internasional. Pengumuman tersebut disampaikan melalui unggahan di platform Truth Social, Selasa (6/1).
“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Otoritas Sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang berada di bawah sanksi kepada Amerika Serikat,” tulis Trump dalam pernyataannya.
Trump berjanji bahwa hasil penjualan minyak tersebut akan digunakan demi kepentingan rakyat kedua negara. “Minyak ini akan dijual sesuai harga pasar, dan uang itu akan berada di bawah kendali saya sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan penggunaannya benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,” tambahnya.
Presiden AS itu juga menyatakan telah meminta Menteri Energi AS, Chris Wright, untuk segera melaksanakan rencana tersebut. Menurut Trump, minyak itu akan diangkut menggunakan kapal penyimpanan dan dikirim langsung ke dermaga-dermaga bongkar muat di Amerika Serikat. “Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini,” ujar Trump dalam unggahannya.
Sebelumnya pada Senin (5/1), Trump menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan minyak Amerika sangat tertarik untuk bekerja di Venezuela dan siap menanamkan investasi dalam infrastruktur negara tersebut. Pernyataan ini mencerminkan pendekatan pemerintahan Trump terhadap kebijakan energi dan hubungan ekonomi kedua negara.
Perkembangan ini berkaitan erat dengan operasi militer besar yang dilancarkan oleh Amerika Serikat di Venezuela pada 3 Januari, di mana Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dan dibawa ke New York. Trump mengumumkan bahwa keduanya akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam narko-terorisme dan dianggap sebagai ancaman, termasuk terhadap Amerika Serikat.
Langkah tersebut telah memicu berbagai reaksi internasional dan berdampak pada dinamika geopolitik, terutama terkait produksi dan pasar energi global, sementara peristiwa penangkapan pemimpin Venezuela terus menjadi fokus pengawasan banyak pemerhati internasional. (jpnn)










































