KENDARINEWS.COM-– Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Pemprov Sultra) baru saja menutup Jambore Tangguh Bencana 2025 dengan pemberian penghargaan kepada 10 pemerintah daerah (Pemda) yang berhasil membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana). Acara yang berlangsung di Halaman Kantor Gubernur pada Senin (24/11/2025) ini menjadi momentum penting dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana di wilayah Sultra.

Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, secara langsung menyerahkan sertifikat penghargaan kepada para perwakilan 10 Pemda yang dinilai berkomitmen dalam meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana. Kolaka menjadi daerah dengan pembentukan Destana terbanyak, mencapai 29 desa.
Namun, di balik sukses tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Sultra, La Ode Saifuddin, mengungkapkan bahwa masih ada tujuh daerah yang belum memiliki Destana, yaitu Muna, Muna Barat, Wakatobi, Buton Selatan, Konawe Kepulauan, Bombana, dan Kolaka Utara. Hal ini menjadi perhatian serius karena Destana merupakan garda terdepan dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Harapan kami, ke depan seluruh daerah dapat membentuk desa tangguh, karena ini penting untuk kesiapsiagaan bencana,” ujar La Ode Saifuddin.
BPBD Sultra juga mengusulkan kepada BNPB agar Destana masuk dalam kategori lomba di tingkat nasional, seperti Lomba Desa/Kelurahan yang digelar Kemendagri. Selain itu, simulasi penanganan bencana diharapkan dapat dilaksanakan langsung di desa dengan memanfaatkan alokasi Dana Desa (ADD).
Gubernur Andi Sumangerukka memberikan apresiasi atas dukungan ambulans untuk kesiapsiagaan bencana. Beliau berjanji akan memberikan bantuan ambulans tidak hanya untuk provinsi, tetapi juga untuk 17 kabupaten/kota.
Dalam kegiatan simulasi, Gubernur Andi Sumangerukka menekankan pentingnya keberadaan command center (pusat komando) yang aktif 24 jam untuk memastikan respons cepat saat bencana terjadi.
“Command center wajib berfungsi 1×24 jam. Karena bencana tidak pernah kita tahu kapan datangnya. Jadi semua personel harus siap menggerakkan unsur terkait,” tegasnya.
Mantan Pangdam Hasanuddin ini juga menginstruksikan BPBD untuk terus mendorong desa-desa memenuhi indikator pembentukan Destana, termasuk ketersediaan forum penanggulangan bencana di berbagai tingkatan.
Sulawesi Tenggara memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami karena posisinya berada di zona pertemuan lempeng aktif. Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan mitigasi bencana menjadi kunci utama untuk melindungi masyarakat.
Simulasi gempa bumi dan tsunami yang melibatkan seluruh unsur terkait menjadi penutup Jambore Tangguh Bencana 2025, dengan memperagakan alur evakuasi, koordinasi lintas sektor, dan respons darurat sesuai skenario bencana besar.










































