KENDARINEWS.COM — Harga Bitcoin jatuh tajam dari puncaknya pada Oktober di level 126.080 dollar AS hingga menyentuh 80.500 dollar AS pada pekan ini. Penurunan mendadak tersebut sempat membingungkan pelaku pasar karena tidak ada satu pun faktor yang dianggap sebagai penyebab tunggal. Trader hanya melihat tekanan dari aksi jual ETF, pelepasan kepemilikan oleh investor besar (whales), serta jebolnya level-level support krusial.
Namun, laporan terbaru yang dikutip CryptoDnes.bg, Senin (24/11/2025), memberi gambaran lebih jelas mengenai pelemahan harga aset kripto terbesar itu. JPMorgan mengungkap bahwa Morgan Stanley Capital International (MSCI) sedang mempertimbangkan mengeluarkan Strategy perusahaan dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia dari indeks ekuitasnya.
MSCI menilai Strategy dan perusahaan aset digital sejenis lebih tepat dikategorikan sebagai dana investasi ketimbang perusahaan operasional. Kabar tersebut awalnya tidak banyak menarik perhatian investor ritel, tetapi pasar institusi langsung bereaksi. Hanya beberapa jam setelah pengumuman MSCI pada 10 Oktober, harga Bitcoin merosot, disertai gelombang likuidasi senilai 19,2 miliar dollar AS yang memperparah tekanan di pasar.
Situasi semakin mengkhawatirkan setelah JPMorgan menyebut Strategy berisiko mengalami arus keluar hingga 2,8 miliar dollar AS jika benar-benar dikeluarkan dari indeks MSCI. Risiko itu bisa membengkak menjadi 8,8 miliar dollar AS apabila penyedia indeks lainnya mengikuti langkah serupa. Sentimen tersebut memicu tekanan jual beruntun hingga Bitcoin jatuh ke level terendah sejak April.
Di tengah kepanikan pasar, CEO Strategy Michael Saylor turun tangan memberikan klarifikasi. Melalui platform X, ia menegaskan bahwa Strategy bukan fund, bukan trust, dan bukan perusahaan holding, melainkan perusahaan operasional publik dengan bisnis perangkat lunak bernilai 500 juta dollar AS dan strategi treasury yang menjadikan Bitcoin sebagai aset produktif. Pernyataan itu membantu meredam kekhawatiran, membuat pasar kembali stabil menjelang akhir pekan.
Hingga Minggu (23/11/2025), Bitcoin menguat 2,5 persen dalam 24 jam terakhir dan bergerak di kisaran 86.100 dollar AS. Meski harga mulai pulih, ketidakpastian masih membayangi. Keputusan final MSCI baru akan diumumkan pada 15 Januari 2026, dan pasar kripto diperkirakan tetap volatile hingga saat itu.
Sejumlah analis menilai Bitcoin mungkin telah menyentuh titik bawah setelah tekanan jual selama lebih dari sebulan. Sinyalnya terlihat dari meredanya aksi jual institusional dan indikator teknikal yang menunjukkan kondisi jenuh jual. Analis Barchart mencatat bahwa RSI Bitcoin berada pada level oversold terdalam dalam tiga tahun, mengindikasikan melemahnya tekanan dari pihak penjual.
Optimisme juga datang dari arus masuk ETF Bitcoin yang kembali positif. Pada Jumat, ETF Bitcoin mencatat arus masuk bersih 238 juta dollar AS, mematahkan tren arus keluar besar sejak Oktober. Analis yang dikenal dengan nama The Bitcoin Therapist menyebut arus masuk itu sebagai sinyal bahwa pasar mungkin sudah menemukan dasar harga.
Analis Aralez bahkan memproyeksikan Bitcoin berpeluang memulai reli menuju 160.000 dollar AS dalam beberapa bulan ke depan. Level tersebut, menurutnya, berpotensi menjadi titik puncak euforia (blow-off top) dari siklus bull market saat ini.
Meski demikian, keputusan MSCI tetap menjadi variabel kunci yang dapat memengaruhi sentimen pasar. Sejumlah analis percaya bahwa dampak negatif dari kemungkinan delisting Strategy sudah diperhitungkan sejak awal, sehingga investor besar mungkin mulai melakukan akumulasi pada level harga saat ini.
Jika sentimen positif bertahan dan aliran dana ETF terus meningkat, Bitcoin berpotensi kembali mendekati level tertingginya pada akhir 2025. Sementara itu, awal 2026 dipandang sebagai periode yang memungkinkan dimulainya reli baru menuju kisaran 160.000 dollar AS, bergantung pada keputusan MSCI dan respons pasar selanjutnya. (KOMPAS.com)










































