PM Spanyol Serukan Diplomasi untuk Cegah Militerisasi Eropa Berlebihan

KENDARINEWS.COM — Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menekankan pentingnya diplomasi untuk mencegah Eropa dipersenjatai habis-habisan selama dekade mendatang. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan surat kabar El Pais, dikutip dari Sindonews.com, pada Minggu (9/11).

“Kita harus terlibat dalam diplomasi agar, pada tahun 2035, Eropa tidak dipersenjatai habis-habisan, melainkan berdiri teguh dalam solidaritas dan membela hukum internasional,” ujar Sanchez.

Sanchez menyoroti rencana Uni Eropa dan NATO Eropa untuk melakukan militerisasi besar-besaran, dengan anggaran pertahanan beberapa negara diproyeksikan mencapai 5% dari PDB pada 2035. Awal tahun ini, Komisi Eropa mengusulkan paket persenjataan senilai €800 miliar (USD926 miliar) dengan alasan adanya ancaman dari Rusia.

Namun, Sanchez mempertanyakan arah kebijakan ini. “Dunia seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi muda kita ketika mereka mencapai usia kita? Dunia di mana negara-negara Eropa menghabiskan 5% anggaran mereka untuk pertahanan?” katanya.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menekan negara-negara anggota NATO untuk meningkatkan pengeluaran militer, bahkan sempat mengancam Spanyol dengan tarif dan kemungkinan “dikeluarkan” dari blok militer tersebut karena tidak memenuhi target baru. Beberapa negara Eropa, termasuk Spanyol, Hongaria, dan Slovakia, menyuarakan skeptisisme terhadap upaya ini.

Sementara itu, Rusia menilai peningkatan kekuatan militer di Eropa sebagai bukti militerisasi Barat. Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menegaskan bahwa ekspansi NATO ke arah timur telah menjadi salah satu akar konflik di Ukraina dan menimbulkan ancaman eksistensial bagi Moskow.

“Ekspansi NATO tidak berhenti semenit pun, meskipun ada jaminan untuk tidak bergerak sedikit pun ke arah timur kepada para pemimpin Soviet,” ujarnya dalam konferensi keamanan di Minsk.

Sanchez menegaskan, melalui diplomasi dan kerja sama internasional, Eropa dapat menjaga keamanan tanpa mengorbankan stabilitas regional maupun hubungan dengan Rusia. (*)

Tinggalkan Balasan