KENDARINEWS.COM–Tato telah lama menjadi bagian dari ekspresi diri dan seni estetika pada tubuh manusia. Namun, di balik tampilan yang unik dan personal, tato permanen menyimpan sejumlah risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap remeh.
Dari reaksi alergi hingga potensi tertular penyakit serius seperti hepatitis dan HIV, penting bagi siapa pun yang ingin membuat tato untuk memahami bahaya yang mungkin mengintai di balik jarum dan tinta.
Bagaimana Tato Dibuat?
Pembuatan tato melibatkan penyuntikan pigmen atau tinta ke dalam lapisan kulit menggunakan jarum. Proses ini menembus lapisan dermis, sehingga menciptakan gambar permanen pada kulit.
Sayangnya, jika prosedur tidak dilakukan dengan alat steril dan bahan berkualitas, proses ini bisa menjadi pintu masuk bagi bakteri, virus, dan zat berbahaya ke dalam tubuh.
7 Bahaya Tato Permanen bagi Kesehatan
Berikut beberapa bahaya tato permanen bagi kesehatan yang dilansir dari alodokter:
1. Alergi
Reaksi alergi adalah risiko paling umum setelah proses menato. Zat pewarna dalam tinta terutama warna merah, kuning, dan hijau dapat memicu gatal, ruam, atau pembengkakan.
Beberapa tinta mengandung nikel, merkuri, atau senyawa logam lain yang bersifat alergenik bagi sebagian orang.
2. Infeksi Kulit
Infeksi bisa terjadi jika:
- Jarum tidak steril
- Tinta terkontaminasi
- Proses menato dilakukan di tempat tidak bersertifikasi
Gejala infeksi meliputi ruam merah, nanah, pembengkakan, demam, dan rasa terbakar di area tato.
Jika tidak ditangani, infeksi kulit dapat berkembang menjadi kondisi serius, bahkan menyebabkan komplikasi sistemik.
3. Jaringan Parut dan Keloid
Beberapa orang mengalami pembentukan jaringan parut (keloid) atau benjolan kecil (granuloma) setelah ditato. Ini merupakan reaksi tubuh terhadap zat asing dalam tinta, dan dapat mengganggu penampilan estetika kulit.
4. Risiko Kanker Kulit
Meski belum terbukti secara pasti, beberapa penelitian menunjukkan potensi hubungan antara tinta tato dan kanker kulit. Hal ini diduga karena beberapa tinta mengandung zat karsinogenik.
5. Hepatitis B dan C
Penggunaan jarum tidak steril dapat menularkan hepatitis B dan C, penyakit menular serius yang menyerang hati dan dapat menyebabkan komplikasi kronis.
6. HIV
Walau jarang, kasus penularan HIV melalui tato bisa terjadi jika jarum atau alat-alat lainnya terkontaminasi darah dari penderita HIV.
Karena HIV tidak menunjukkan gejala langsung, risiko ini seringkali tidak disadari oleh orang yang baru saja ditato.
7. Tetanus
Jarum atau alat tato yang kotor dapat membawa bakteri Clostridium tetani, penyebab tetanus. Penyakit ini menyerang sistem saraf dan bisa berakibat fatal jika tidak ditangani segera.
Tato dan Pemeriksaan Medis: Masalah Tambahan
Banyak orang tidak menyadari bahwa tato juga dapat mengganggu hasil pemeriksaan medis seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging). Zat logam dalam tinta dapat menyebabkan:
- Sensasi panas atau terbakar pada kulit yang ditato
- Distorsi gambar MRI, sehingga hasilnya tidak akurat
Tips Aman Sebelum Membuat Tato
Jika Anda tetap ingin membuat tato, berikut beberapa langkah penting untuk meminimalkan risiko:
- Pilih tempat tato yang bersertifikat dan profesional
- Pastikan alat dan jarum sekali pakai dan steril
- Gunakan tinta yang aman dan tersertifikasi
- Jangan ragu untuk bertanya pada dokter kulit atau tenaga medis
- Perhatikan tanda-tanda infeksi atau alergi setelah ditato
Kapan Harus ke Dokter?
Jika setelah ditato Anda mengalami:
- Demam
- Kulit memerah dan bengkak
- Keluar nanah dari area tato
- Rasa nyeri yang tak kunjung hilang
Segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat. Pengobatan dini dapat mencegah komplikasi yang lebih serius.
Kesimpulan
Tato bisa menjadi bentuk seni dan ekspresi diri yang menarik, tetapi penting untuk diingat bahwa proses ini bukan tanpa risiko.
Sebelum memutuskan untuk ditato, edukasi dan persiapan adalah kunci utama. Jangan abaikan aspek medis demi alasan estetika semata.
Keindahan kulit bukan hanya dari tampilan luar, tapi juga dari kesehatan di dalamnya.(*)










































