Dinas Pendidikan Konawe Musnahkan 2.294 Blanko Ijazah

KENDARINEWS.COM–Sebanyak 2.294 blanko ijasah siswa jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Konawe, dimusnahkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) setempat, Kamis (26/1).

Ijasah asli yang dimusnahkan dengan cara dibakar itu, merupakan sisa-sisa dokumen kelulusan siswa tahun pelajaran 2018/2019 hingga 2021/2022. Selain blanko telah rusak, ijasah tersebut dimusnahkan lantaran tidak terpakai dari tahun ke tahun setelah disalurkan ke masing-masing sekolah.

Pemusnahan 2.294 blanko ijasah siswa didik yang digelar di pelataran kantor Dinas Dikbud Konawe itu, turut disaksikan Kapolres Konawe AKBP Ahmad Setiadi SIK. Kepala Dinas (Kadis) Dikbud Konawe Suriyadi mengatakan, untuk ijasah yang tidak terpakai selama tahun pelajaran 2018/2019 hingga 2021/2022, terdiri dari 1.172 lembar untuk jenjang SD dan 813 lembar untuk jenjang SMP.

Adapun blanko ijasah yang kondisinya rusak atau kesalahan penulisan, berjumlah 204 lembar pada jenjang SD dan 105 lembar pada jenjang SMP.

“Jadi totalnya semua 2.294 blanko ijasah SD dan SMP. Ini sudah ada aturannya dalam Undang-undang (UU) termasuk aturan dari Kemendikbud. Sisa ijasah yang tidak terpakai itu harus dimusnahkan,” ujar Suriyadi. 

Ketua PGRI Konawe itu menuturkan, untuk menyiapkan blanko ijazah baru, nantinya akan ada Data Peserta Tetap (DPT) dari masing-masing sekolah sebelum pelaksanaan ujian akhir peserta didik. Selanjutnya, Dikbud Konawe bakal mengajukan permintaan blanko ijasah baru ke pemerintah pusat.

“Misalnya 3.000 blanko yang kita usulkan, biasanya yang dikirimkan lebih dari itu. Ada untuk persiapan margin error sebab kadang biasa salah penulisan nama atau lainnya,” ungkap Suriyadi.

Senada dengan itu, Kapolres Konawe AKBP Ahmad Setiadi SIK menyebut, pemusnahan blanko ijasah yang tidak terpakai, sangat penting untuk meminimalisir tindak pidana pemalsuan ijasah. Yang mana, perbuatan itu bisa saja dilakukan oknum yang ingin memanfaatkan momen untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

“Karena kejahatan bisa saja terjadi karena adanya kesempatan. Mungkin tidak ada niat, tapi kesempatannya ada lalu dimanfaatkan. Hal inilah yang perlu kita hindari,” imbuhnya. (adi/KN).

Tinggalkan Balasan