oleh

Demokrasi TAUHID Vs Demokrasi TAHAYUL

Oleh : Habil Marati

Mantan Anggota DPR-RI. Mantan Bendum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dab Ketua Forum Ka’bah Membangun (FKM)

KENDARINEWS.COM — TAUHID adalah bersifat inherent absolute. Tauhid adalah penyatuan bahwa hanya Allah lah yang pencipta Alam semesta. Pencipta langit dan bumi. Yang menghidupkan dan yang mematikan. Tauhid bersifat totalitas, konsisten, tetap, satu kali ciptaan berlaku untuk masa lampau, untuk sekarang dan untuk masa yang akan datang. Memahami Tauhid artinya manusia mengakui ke Agungan Allah, CiptaanNYA, SifatNYA, PerbuatanNYA dan KitabNYA.

Di samping itu, Tauhid diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari melalui Syariah. Syariah sendiri adalah aturan-aturan baku, pedoman, petunjuk serta ikhtiar atau perbuataan atau tindakan yang bersifat tetap dan bersifat fleksible. Syariah yang bersifat tetap adalah hukum atau pedoman dan petunjuk dimana Allah menurunkan hanya sekali sampai kiamat yaitu Al Qur’an. Demikian juga Sunnah/tindakan dan perbuatan Nabi hanya ada sekali. Tidak berulang lagi. Tauhid melalui Syariah harus ditaati, tunduk tanpa syarat dan mengakui Ke Esa-an Allah SWT. Tidak bertauhid, hukumnya adalah azab Allah seperti kesudahan orang-orang terdahulu yang mendustakan TAUHID. Disamping itu, Tauhid bersifat membebaskan manusia dari pandangan sempit, picik, menanamkan manusia percaya diri, mengerti harga diri, serta membentuk manusia menjadi jujur dan adil.
Tauhid percaya kepada ghoib sebab Allah pun ghoib tapi eksistensi Allah bisa dibuktikan melalui bukti-bukti ciptaanNYA pada alam semesta.

TAHAYUL adalah klenik, mitos yang berasal pengalaman dan ramalan manusia dan cerita-cerita masyarakat terdahulu secara turun terumurun. Tahayul suatu kepercayaan yang tidak bisa dibuktikan secara akal. Tahayul bersifat khayalan semata (superstition). Lawan dari tahayul adalah rasionalis yang digaungkan oleh Benedict de Spinoza abad 17 dan para intelektual abad pencerahan.

Meskipun tahayul juga bersifat ghoib akan tetapi tidak bisa dibuktikan karena bersifat mitos-mitos dan ramalan. Dusta bisa menjadi tahayul dan mitos. Dusta dan kebohongan yang berulang -ulang bisa jadi tahayul. Bisa jadi demokrasi tahayul.

Memahami perbedaan Tauhid dan tahayul merangsang kita untuk berpikir ke arah konseptual demokrasi. Postulat Demokrasi yang terinstall pada konstitusi banyak negara adalah Demokrasi Kapitalis, Sosialisme dan Komunisme. Demokrasi baik kapitalisme, sosialisme maupun komunisme keteteran dalam mengartikulasikan fungsi dasarnya yaitu mencapai pertumbuhan bersama untuk kesejahteraan bersama dalam keadilan sosial dan kesetaraan.
Baik Demokrasi Kapitalism, Sosialis maupun Komunis adalah postulat yang hanya didasarkan kepada mitos-mitos pengaturan ekonomi dan kelompok elit kekuasaan Negara yang mewarisi mitos-mitos secara turun temurun. Kitab-kitab Demokrasi yang kita jadikan instrument dasar kebijkan ekonomi dan demokrasi justru semakin menjauhkan rakyat dari kedaulatannya itu sendiri, hal ini terjadi disebakan karena kita telah salah jalan menggunakan demokrasi tahayul yang terbangun dari mitos-mitos abad 17 dan abad kegelapan Eropa.

DEMOKRASI TAUHID adalah demokrasi yang dibangun atas dasar kepada Ke Tuhanan Yang Maha Esa. Ciri-ciri Demokrasi Tauhid adalah memiliki landasan Idiologis, memiliki landasan Operasional serta memiliki landasan konstitusional kelembagaan. Ciri-ciri ini tidak dimiliki oleh demokrasi kapitalis, sosialis maupun komunisme.
Konsep-konsep demokrasi yang dibangun atas dasar mitos-mitos tahayul akan gagal memenuhi tugas utama dari demokrasi yaitu kesetaraan dan pertumbuhan bersama dalam keadilan dan berperadaban.

DEMOKRASI TAHAYUL adalah demokrasi yang dibangun atas dasar mitos-mitos, ramalan-ramalan dukun para ekonom seperti Adam Smith, David Ricardo, Malthus, Hegel dan Karl Max, Rousseau dan dukun dan peramal Naturalist Charles Darwin. Hari ini, mtos-mitos dan ramalan-ramalan mereka telah mengantarkan manusia pada pojok ketidak adilan, penderitaan, exploitation de I, homme par I, homme dan exploitation de nation par nation. Akibat mitos-mitos dan ramalan-ramalan dari pengalaman yang mereka alami pada abad ke-17 dan Abad kegelapan Eropa mengantarkan Belanda menjajah Indonesia 350 tahun serta Portugis. Demokrasi tahayul akan menghasilkan generasi LGBT mengundang kehancuran peradaban manusia. Demokrasi Tahayul akan menghasilkan kepemimpinan tahayul.

Indonesia memiliki Demokrasi Tauhid dan tertulis. Di atas telah saya sampaikan perbedaan antara Demokrasi Tauhid dan Demokrasi Tahayul. Ciri Demokrasi Tauhid inherent dengan Tauhid Pencipta Alam Semesta yaitu Allah. Sedangkan demokrasi tahayul tidak inherent karena dibangun dari mitos dan ramalan-ramalan para dukun idelogy kapitalisme, Sosialisme dan komunisme. Bangsa Indonesia memiliki Demokrasi Tauhid yang tertulis yaitu landasan Idiologis Pembukaan UUD45, landasan operasional UUD45 asli serta landasan Konstitusional kelembagaan MPR.
Amandement UUD45 asli telah menghancurkan Demokrasi Tauhid yang didirikan berdasarkan kepada Alquran, Hadits, Itjima ulama serta Penalaran logika ( Qiyas). Sasaran dan actualisasi Demokrasi Tauhid Indonesia adalah “ Membangun Hajat Hidup Orang Banyak”. Sedangkan Sasaran dan aktualisasi Demokrasi tahayul adalah oligarki, anti Tuhan, persengkokolan Negara dan Oligarki, post democracy, Penindasan manusia, eksploitasi manusia serta pengisapan manusia serta penindasan sebuah bangsa oleh bangsa lain. Pembukaan UUD45, UUD45 asli dan Lembaga MPR adalah Demokrasi Tauhid inherent kepada Pencipta Alam Semesta Allah SWT. Pembukaan UUD45, UUD45 asli dan Kelembagaan MPR memiliki tujuan, sasaran dan aktualisasi “ Lingkaran Keadilan” yaitu : Keadilan adalah sumber kesejahteraan Bangsa Indonesia, Negara Melindungi Rakyatnya, Pembukaan UUD45, UUD45 asli hanya bisa bertahan bila MPR memiliki kewenangan dan TNI hanya kuat bila ada Uang untuk membiayainya. Kembali ke UUD45 asli tidak hanya dipikirkan atau dipolitisasi, akan tetapi kembali ke UUD45 asli adalah jalan menemukan kembali INDONESIA.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan